Navaswara.com – Sebanyak 25 titik bunga rafflesia ditemukan di kawasan hutan seluas 47,5 hektare di Desa Tarempa Selatan, Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau. Temuan ini menarik perhatian peneliti karena bunga langka tersebut terus mekar hampir setiap pekan.
Lokasi persebaran rafflesia berada di Bukit Batu Tabir. Dari Kota Tarempa, kawasan itu dapat ditempuh sekitar 10 menit menggunakan sepeda motor, lalu dilanjutkan berjalan kaki selama 25 menit menembus hutan.
Staf Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kepulauan Riau Faizal Rangkuti mengatakan, 25 titik rafflesia tersebut tersebar di area perbukitan yang masih ditutupi vegetasi hutan alami. Kawasan itu juga berbatasan dengan area penggunaan lain (APL) yang dimanfaatkan warga untuk berkebun.
Menurut Faizal, keberadaan rafflesia di lokasi tersebut sebenarnya sudah diketahui warga sejak lama. Berdasarkan cerita masyarakat setempat, bunga itu telah ditemukan sejak era 1980-an. Namun, saat itu warga menganggapnya sebagai bunga biasa karena belum pernah melihatnya mekar sempurna.
“Mulai 2025 kemarin baru benar-benar mekar dan menarik perhatian masyarakat,” kata Faizal dilansir dari situs Monganbay.
Sejak saat itu, bunga rafflesia terus bermunculan hampir setiap minggu. Fenomena tersebut membuat kawasan Bukit Batu Tabir ramai dikunjungi masyarakat, pegiat lingkungan, hingga peneliti.
“Yang mekar itu ada terus. Hampir setiap minggu selalu ada,” ujarnya.
Temuan ini juga menarik perhatian berbagai institusi. Sejumlah peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Riau, MedcoEnergi, hingga pengelola Pulau Bawah Resort Anambas telah mendatangi lokasi untuk melakukan pengamatan.
Saat ini, pemerintah desa bersama petugas kehutanan melakukan patroli rutin guna menjaga kawasan tersebut. Pemerintah juga tengah memverifikasi area itu untuk ditetapkan sebagai kawasan perhutanan sosial.
“Nantinya pengelolaan akan diserahkan kepada Desa Tarempa Selatan. Tinggal menunggu penetapan dari Balai Perhutanan Sosial di Kampar,” ujar Faizal.
Mekar Hanya Beberapa Hari
Faizal menjelaskan, rafflesia memiliki siklus hidup yang unik karena sepenuhnya bergantung pada tanaman inang. Proses pertumbuhannya dari mulai menempel pada inang hingga mekar membutuhkan waktu sekitar sembilan bulan.
“Dari mulai menempel di inang sampai mekar itu sekitar sembilan bulan. Setelah menjadi knop baru dia mekar dengan warna kuning-oranye,” katanya.
Saat mekar, bunga tersebut mengeluarkan aroma menyengat yang menyerupai amonia. Bau itu berfungsi menarik serangga penyerbuk, terutama lalat. Setelah mekar selama empat hingga lima hari, bunga akan layu dan membusuk secara alami.
“Kalau sudah mekar beberapa hari, nanti berubah cokelat lalu seperti gosong. Itu proses alaminya,” ujar Faizal.
Mengenal Rafflesia Arnoldii
Sebagai informasi, Rafflesia arnoldii dikenal sebagai bunga terbesar di dunia. Tumbuhan ini merupakan parasit obligat yang hidup dengan menyerap nutrisi dari tanaman inang, terutama liana dari genus Tetrastigma. Karena tidak memiliki daun, batang, maupun akar, rafflesia tidak dapat melakukan fotosintesis.
Bunga ini pertama kali ditemukan pada 1818 di hutan tropis Bengkulu oleh Dr. Joseph Arnold dalam ekspedisi yang dipimpin Thomas Stamford Raffles. Saat mekar sempurna, diameter bunga dapat mencapai satu meter dengan berat sekitar 11 kilogram.
Rafflesia juga kerap disebut sebagai “bunga bangkai” karena mengeluarkan aroma busuk untuk menarik lalat penyerbuk. Meski demikian, jenis ini berbeda dengan bunga bangkai atau Amorphophallus titanum yang merupakan spesies tumbuhan bertunas.
Rafflesia arnoldii merupakan flora endemik Sumatra, terutama di Bengkulu, Jambi, dan Sumatra Selatan. Populasinya terus menghadapi ancaman akibat kerusakan habitat dan alih fungsi hutan, sehingga keberadaan kawasan konservasi baru seperti di Anambas ini menjadi sangat penting untuk menjaga kelestariannya.
