Berusia 1.500 Tahun, Kabupaten di Jabar Ini Simpan Jejak Sejarah yang Jarang Diketahui

Navaswara – Kabupaten Bogor selama ini mungkin lebih identik dengan kawasan Puncak yang sejuk, atau deretan curugnya yang instagenic. Namun, di balik statusnya sebagai wilayah penyangga Jakarta, daerah di Jawa Barat ini sebenarnya menyimpan kisah masa lalu yang luar biasa kaya.

Bukan main-main, jejak peradaban di Kabupaten Bogor tercatat sudah berlangsung sejak lebih dari 1.500 tahun lalu.

Kawasan ini merupakan saksi bisu dari perjalanan sejumlah kerajaan besar di Nusantara. Mulai dari Kerajaan Tarumanagara hingga Pakuan Pajajaran pernah menancapkan pengaruhnya di tanah ini.

Bagi para pencinta wisata sejarah, Kabupaten Bogor adalah salah satu destinasi terbaik untuk menelusuri awal mula peradaban di Pulau Jawa.

3 Juni dan Hubungan Erat dengan Prabu Siliwangi

Saat ini, pusat pemerintahan Kabupaten Bogor berada di Kecamatan Cibinong. Wilayahnya sangat luas, mencakup 40 kecamatan yang membawahi ratusan desa dan kelurahan.

Secara geografis, Kabupaten Bogor dikepung oleh daerah-daerah sibuk, mulai dari Tangerang, Depok, Bekasi, Karawang, Cianjur, Sukabumi, hingga Lebak di Provinsi Banten.

Menariknya, setiap tanggal 3 Juni, Kabupaten Bogor memperingati hari jadinya. Penetapan tanggal ini diambil dari momen bersejarah yang sangat dihormati masyarakat Sunda.

Tanggal 3 Juni dipilih untuk mengenang hari pelantikan Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi) sebagai Raja Pajajaran pada tahun 1482.

Usut punya usut, prosesi pelantikan kala itu berlangsung megah selama sembilan hari berturut-turut melalui upacara suci bernama Kedabhakti. Peristiwa agung inilah yang akhirnya disepakati sebagai tonggak lahirnya Bogor.

Misteri di Balik Nama ‘Bogor’

Hingga hari ini, asal-usul nama “Bogor” sebenarnya masih menjadi perdebatan menarik di kalangan sejarawan. Ada beberapa teori populer yang beredar, yakni:

  1. Dari Kata Buitenzorg: Teori yang paling sering terdengar menyebutkan kata Bogor berasal dari lidah lokal saat mengeja Buitenzorg, nama resmi Bogor di era kolonial Belanda yang berarti “tanpa kecemasan”.
  2. Arti Kata Sapi (Bahai): Ada juga yang mengaitkannya dengan kata bahai yang berarti sapi, merujuk pada keberadaan patung sapi kuno di dalam Kebun Raya Bogor.
  3. Tunggul Pohon Enau (Bokor): Sebagian ahli berpendapat Bogor berasal dari kata bokor, yang berarti tunggul pohon enau atau kawung.
  4. Dokumen Kuno: Pendapat lain merujuk pada dokumen lawas yang memuat tulisan “Hoofd Van de Negorij Bogor” yang berarti Kepala Kampung Bogor. Kampung ini diyakini dulunya berada di dalam area Kebun Raya Bogor saat ini.

Campur Tangan Belanda dan Perpindahan Ibu Kota

Jika ditarik ke era modern, cikal bakal administratif Kabupaten Bogor tidak lepas dari kebijakan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Gustaf Willem Baron van Imhoff.

Pada tahun 1745, Van Imhoff menggabungkan sembilan kelompok permukiman di Bogor untuk mempermudah kontrol pemerintahan kolonial. Penggabungan inilah yang menjadi fondasi awal wilayah administratif Kabupaten Bogor.

Dulu, pusat pemerintahannya berada di kawasan Panaragan (kini masuk wilayah Kota Bogor).

Namun, lewat Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1982, ibu kota Kabupaten Bogor resmi dipindahkan ke Kecamatan Cibinong secara bertahap, hingga aktif sepenuhnya pada tahun 1990.

Berburu Prasasti Raja Purnawarman

Jauh sebelum Belanda datang, Bogor sudah menjadi pusat kekuasaan sejak abad ke-5 Masehi. Catatan dari Dinasti Sung di Tiongkok bahkan menyebutkan bahwa Kerajaan Holotan (yang diyakini sejarawan sebagai Aruteun/Ciaruteun) beberapa kali mengirim utusan ke Tiongkok sejak tahun 430 Masehi.

Bukti otentik ini bisa Anda kunjungi langsung saat berwisata ke Bogor, lho. Salah satu yang paling terkenal adalah Prasasti Ciaruteun yang ditemukan di muara Sungai Ciaruteun dan Sungai Cisadane.

Prasasti ini sangat ikonik karena memuat pahat telapak kaki Raja Purnawarman, penguasa agung Kerajaan Tarumanagara yang disamakan dengan kaki Dewa Wisnu.

Selain Ciaruteun, Anda juga bisa melakukan historical trekking untuk melihat peninggalan Tarumanagara lainnya di Bogor, seperti Prasasti Kebon Kopi di Kecamatan Cibungbulang dan Prasasti Jambu di Bukit Koleangkak, Kecamatan Leuwiliang.

Warisan Sejarah yang Tetap Terjaga

Setelah masa Tarumanagara usai, Bogor tidak lantas kehilangan pesonanya. Wilayah ini terus berganti takhta menjadi bagian dari Kerajaan Sunda, Galuh, Kawali, hingga akhirnya mencapai puncak romantisnya di era Kerajaan Pajajaran di bawah Prabu Siliwangi.

Jadi, kalau liburan ke Kabupaten Bogor berikutnya, jangan cuma berburu kuliner atau foto-foto di kafe kekinian saja, ya!

Sempatkanlah untuk mengunjungi situs-situs prasasti dan desanya. Merasakan langsung atmosfer tempat di mana para raja Nusantara terdahulu pernah melangkah, pasti akan memberikan pengalaman liburan yang berbeda dan berkesan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *