Memagari Anak Perempuan, Lupa Mendidik Anak Laki-laki, Catatan atas Kasus Grup Chat FHUI

Kita sering sibuk membangun benteng perlindungan di sekeliling anak perempuan, namun lupa memberikan kompas moral dan batasan yang jelas bagi anak laki-laki.

Kasus pelecehan verbal di dalam grup percakapan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) yang viral belakangan ini bukan sekadar luapan iseng khas anak muda. Bagi saya, sebagai praktisi psikologi klinis, fenomena ini adalah alarm keras yang menunjukkan adanya kegagalan sistemik dalam pendidikan batasan (boundaries) dan empati pada anak laki-laki di Indonesia.

Selama ini, energi kolektif masyarakat habis untuk “memagari” anak perempuan. Mereka diminta menjaga diri, menjaga sikap, hingga menjaga pakaian demi menghindari kejahatan. Namun, di sisi lain, kita sering abai memberikan kurikulum moral yang sama ketatnya kepada anak laki-laki. Kita membiarkan mereka tumbuh dengan pembiaran, berlindung di balik dalih usang: “Namanya juga laki-laki.”

Lingkaran Setan Norma Patriarki

Dalam kacamata biopsikososial, perilaku agresi verbal dalam ruang digital dipengaruhi oleh tiga faktor utama. Secara biologis, hormon memang berperan dalam dorongan impulsif, namun faktor psikologis (pembentukan empati) dan sosial (norma patriarki) jauh lebih dominan dalam membentuk perilaku.

Ketika masyarakat memaklumi komentar seksis atau objektifikasi perempuan sebagai bentuk solidaritas maskulin, kita sebenarnya sedang memupuk sense of entitlement atau perasaan berhak atas orang lain, pada anak laki-laki. Jika ini tidak dikoreksi sejak dini, risiko jangka panjangnya adalah defisit empati kronis yang dapat berujung pada agresi seksual di masa dewasa.

Mengajarkan Batasan (Consent) Sejak Dini

Mendidik anak laki-laki untuk menghargai batasan bukan berarti menekan maskulinitas mereka. Sebaliknya, ini adalah upaya membentuk maskulinitas yang sehat. Pendekatan ini harus dimulai dari lingkungan terkecil yakni keluarga melalui beberapa langkah praktis

1. Mengenalkan Konsep Consent (Izin)

Pendidikan batasan harus dimulai pada usia emas (3-5 tahun). Ajarkan mereka untuk selalu bertanya sebelum menyentuh mainan teman atau memeluk orang lain. Mereka harus belajar bahwa kata “tidak” adalah sebuah tembok yang harus dihormati, bukan tantangan yang harus ditembus.

2. Memutus Dalih “Namanya Juga Laki-laki”

Orang tua harus menjadi model utama. Berhenti memaklumi perilaku kasar atau pelecehan verbal dengan alasan kodrat gender. Pembiaran ini hanya akan memperkuat stereotip bahwa laki-laki boleh menjadi impulsif tanpa harus bertanggung jawab.

3. Memupuk Empati Kognitif

Libatkan anak dalam diskusi perasaan. Tanyakan, “Bagaimana rasanya jika posisimu dibalik?” Konsistensi dalam memberikan konsekuensi yang tegas namun mendidik terhadap perilaku yang melanggar privasi orang lain akan membekas lebih kuat daripada sekadar ceramah.

4. Literasi Batasan di Ruang Digital

Ruang digital sering kali dianggap sebagai “wilayah tanpa hukum” oleh remaja. Anak laki-laki perlu diajarkan bahwa etika di dunia nyata berlaku mutlak di dunia maya. Berbagi foto tanpa izin atau berkomentar kasar di grup chat adalah pelanggaran batasan serius yang mencerminkan karakter aslinya.

Investasi Mental Jangka Panjang

Jika kita mulai serius meninjau ulang cara mendidik anak laki-laki, manfaatnya bukan hanya untuk keamanan perempuan, tetapi juga untuk kesehatan mental anak laki-laki itu sendiri. Mereka akan tumbuh menjadi individu yang emosionalnya stabil dan mampu membangun hubungan yang sehat serta setara di masa depan.

Kasus FHUI adalah cermin retak bagi kita semua. Sudah saatnya kita berhenti hanya sibuk memasang pagar di sekeliling anak perempuan, dan mulai sibuk mendidik anak laki-laki agar mereka tahu kapan harus berhenti dan bagaimana cara menghargai ruang hidup orang lain.

Kehormatan seorang laki-laki tidak terletak pada seberapa jauh dia bisa mendominasi, melainkan pada seberapa besar dia mampu menghargai batasan.

Oleh: Sulistya Mina – Psikolog Klinis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *