Navaswara.com — Munculnya rasa panik saat bangun tidur akibat kondisi wajah yang tiba-tiba terasa kaku, mata sulit menutup, hingga sudut bibir yang tampak turun merupakan pengalaman yang mengkhawatirkan. Keluhan ini acapkali menimbulkan asumsi bahwa seseorang tengah mengalami serangan stroke, padahal dalam berbagai kasus, gejala tersebut berkaitan erat dengan kondisi medis yang disebut Bell’s palsy.
Bell’s palsy terjadi ketika saraf ketujuh atau nervus fasialis meradang secara mendadak. Dampaknya, otot di satu sisi wajah melemah sementara, tanpa mengganggu kesadaran maupun kemampuan berpikir dan bergerak secara umum.
Apa Penyebabnya
Secara medis, Bell’s palsy masih dikategorikan idiopatik karena penyebab pastinya belum sepenuhnya dipastikan. Meski begitu, penelitian menunjukkan keterkaitan kuat dengan reaktivasi virus, terutama herpes simpleks tipe 1.
Dr. Ein, spesialis THT dari University of Miami Health, menjelaskan, “Saraf wajah berada di dalam saluran tulang yang sempit, tidak ada ruang bagi saraf untuk membengkak. Tekanan inilah yang menyebabkan kelemahan otot dan kelumpuhan dalam kurang dari 72 jam.”
Virus ini dapat berada dalam kondisi tidak aktif di dalam tubuh lalu kembali aktif saat daya tahan menurun. Aktivasi tersebut memicu peradangan, membuat saraf membengkak, lalu tertekan di saluran tulang yang sempit.
Selain herpes simpleks, virus varicella zoster juga dikaitkan pada sebagian kasus. Faktor seperti kehamilan, diabetes, serta infeksi saluran pernapasan atas turut meningkatkan risiko terjadinya Bell’s palsy.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Gejala biasanya muncul cepat dan mencapai puncak dalam dua hingga tiga hari. Wajah tampak tidak simetris, satu sisi melemah, disertai kesulitan menutup mata dan perubahan kemampuan mengecap rasa.
Sebagian penderita juga merasakan nyeri di belakang telinga serta perubahan produksi air mata dan air liur. Kondisi ini bisa mengganggu aktivitas sehari-hari, terutama saat makan, berbicara, atau berkedip.
Bisa Pulih Asal Segera Ditangani
Sebagian besar penderita dapat pulih dalam waktu beberapa minggu hingga tiga bulan. Penanganan dini membantu mempercepat proses pemulihan serta mengurangi risiko sisa kelemahan pada otot wajah.
Dokter umumnya memberikan obat antiinflamasi seperti kortikosteroid, disertai antivirus bila diperlukan. Latihan otot wajah dan perawatan mata juga penting untuk menjaga fungsi selama masa pemulihan berlangsung.
Segera periksa ke dokter saat muncul gejala wajah tidak simetris. Penanganan cepat memberi peluang pemulihan lebih baik dan membantu membedakan kondisi ini dari gangguan lain yang lebih serius.

