Navaswara.com — Di tengah perkembangan kawasan Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah, berdiri sebuah bangunan tua yang menyimpan cerita panjang tentang industri gula di Pulau Jawa.
Bangunan tersebut kini dikenal sebagai De Tjolomadoe, sebuah destinasi wisata yang memadukan sejarah, edukasi, arsitektur, kuliner, hingga ruang kreatif dalam satu kawasan. Meski telah mengalami perubahan fungsi, jejak masa lalu sebagai pabrik gula masih terasa kuat di hampir setiap sudutnya.
De Tjolomadoe bermula dari Pabrik Gula Colomadu yang didirikan oleh Mangkunegara IV pada tahun 1861. Nama Colomadu sendiri memiliki makna “gunung madu”.
Pada masa kejayaannya, pabrik ini menjadi salah satu pusat industri gula penting di Indonesia. Bangunannya kemudian mengalami pengembangan dan perombakan pada awal abad ke-20. Salah satu penanda yang masih bisa ditemukan hingga kini adalah tulisan “Anno 1928” pada bagian depan pabrik.
Sayang, perjalanan pabrik ini tidak berjalan selamanya. Setelah bertahun-tahun menjadi bagian penting dari industri gula, Pabrik Gula Colomadu akhirnya berhenti beroperasi pada 1998 silam.
Bangunan yang sempat terbengkalai kemudian dialihfungsikan melalui proses revitalisasi. Pada 2017, revitalisasi dilakukan dengan tetap mempertahankan karakter dan nilai sejarah bangunan. Setelah itu, kawasan ini hadir dengan nama De Tjolomadoe dan dibuka sebagai destinasi wisata serta ruang publik.
Hal yang membuat De Tjolomadoe berbeda dari destinasi wisata pada umumnya adalah pengalaman menjelajahi bangunan industri berusia lebih dari satu abad. Di sana, kita bisa melihat langsung berbagai bagian bekas pabrik, termasuk mesin-mesin besar yang dahulu digunakan dalam proses produksi gula.
Area seperti stasiun gilingan, penguapan, karbonatasi, dan ketelan menjadi bagian dari wisata sejarah yang menarik untuk mengenali bagaimana tebu diolah hingga menjadi gula pada masa itu. Mesin serta perlengkapan lama yang masih dipertahankan membuat suasana masa lalu terasa begitu kental.
Kawasan ini juga memiliki museum yang menghadirkan berbagai informasi mengenai sejarah Pabrik Gula Colomadu. Koleksi arsip, artefak, foto, miniatur, hingga materi edukasi tentang proses pembuatan gula membuat kunjungan tidak sekadar menjadi aktivitas rekreasi.
Dari sisi arsitektur, bangunan De Tjolomadoe menawarkan daya tarik tersendiri. Struktur bergaya kolonial, langit-langit tinggi, cerobong asap, lantai lama, serta keberadaan mesin-mesin berukuran besar menciptakan karakter visual yang kuat.
Berkat arsitekturnya yang khas, kawasan ini juga menjadi salah satu tempat yang menarik untuk mengabadikan foto. Setelah lelah berkeliling, kita bisa beristirahat di area kuliner yang menawarkan pengalaman bersantai unik dalam bangunan heritage.
Selain berfungsi sebagai museum dan tempat wisata. Kawasan ini juga dilengkapi ruang pertunjukan dan pertemuan, termasuk Tjolomadoe Hall atau concert hall serta Sarkara Hall.
Jika ingin bertandang, waktu terbaik mengunjungi De Tjolomadoe adalah pagi hingga siang hari, terutama ketika weekday agar lebih leluasa menikmati museum, bangunan heritage, dan area bekas pabrik yang tidak terlalu ramai.
De Tjolomadoe sendiri berlokasi di Jalan Adi Sucipto No. 1, Malangjiwan, Colomadu, Karanganyar, dengan akses yang cukup mudah karena berada di jalur utama.
Dari Bandara Internasional Adi Soemarmo, tempat ini hanya sekitar 5 menit perjalanan. Sedangkan dari pusat Kota Solo kita hanya memerlukan waktu tempuh sekitar 20 menit.
