Navaswara.com – Suasana sederhana di Seblak, Jombang, menjadi ruang perjumpaan warga Nahdlatul Ulama untuk membicarakan masa depan jam’iyah. Melalui Musyawarah Besar (MUBES) Warga NU 2026, sejumlah gagasan dirumuskan sebagai ikhtiar memperkuat kemandirian, kualitas pelayanan kepada jamaah, serta arah NU dalam memasuki abad kedua.
MUBES Warga NU 2026 yang mengusung tema “Arah NU Abad Kedua: Meneguhkan Kemandirian untuk Demokrasi, Keadilan, dan Kemanusiaan” ditutup dengan penyampaian sejumlah rekomendasi di Seblak, Jombang, Jumat (28/8/2026).
Forum tersebut memandang Muktamar NU ke-35 sebagai momentum penting untuk memperkuat marwah organisasi sekaligus merumuskan kepemimpinan dan tata kelola yang mampu menjawab kebutuhan jamaah serta tantangan masyarakat ke depan.
Dalam rekomendasinya, MUBES mendorong agar seluruh proses permusyawaratan NU berjalan dengan mengedepankan nilai agama, integritas, kejujuran, akhlak, musyawarah, dan kemaslahatan bersama.
MUBES juga mengajak seluruh warga NU untuk menjaga suasana Muktamar agar tetap teduh, bermartabat, dan berorientasi pada penguatan jam’iyah. Setiap proses pengambilan keputusan diharapkan dapat berlangsung secara transparan, bertanggung jawab, serta mengedepankan kualitas dan kapasitas kader.
Kemandirian menjadi salah satu pesan utama yang mengemuka. MUBES mendorong NU untuk terus memperkuat kemandirian organisasi, termasuk melalui pengelolaan sumber daya manusia dan sumber daya ekonomi secara profesional, transparan, dan akuntabel.
Penguatan kemandirian tersebut diharapkan dapat membuat NU semakin leluasa menjalankan khidmah kepada jamaah dan masyarakat. Hubungan NU dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah dan seluruh elemen bangsa, diharapkan terus dibangun dalam semangat kerja sama yang konstruktif, saling menghormati, dan berorientasi pada kemaslahatan.
Dalam bidang ekonomi dan lingkungan, MUBES mendorong agar setiap pengembangan sumber daya ekonomi memperhatikan prinsip keberlanjutan, tata kelola yang baik, serta kelestarian lingkungan. Dengan demikian, penguatan ekonomi organisasi dapat berjalan seiring dengan tanggung jawab sosial dan ekologis.
Memperkuat Khidmah kepada Jamaah
MUBES juga menempatkan jamaah sebagai salah satu pusat perhatian dalam arah NU pada abad kedua.
Penguatan pendidikan dan pesantren, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pemberdayaan ekonomi warga, layanan kesehatan dan sosial, serta perlindungan kelompok rentan menjadi bagian dari perhatian yang disampaikan dalam rekomendasi.
NU didorong terus memperluas ruang pelayanan bagi seluruh lapisan jamaah, termasuk masyarakat kurang mampu, perempuan, anak, penyandang disabilitas, lansia, dan kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian lebih.
Sejalan dengan perubahan demografi Indonesia, perhatian terhadap kelompok lanjut usia juga dinilai semakin penting. NU diharapkan dapat mengembangkan ekosistem pelayanan yang mendukung kehidupan lansia agar tetap sehat, aktif, mandiri, produktif, dan bermartabat.
Bagi MUBES, ukuran keberhasilan NU tidak hanya terlihat dari besarnya organisasi, tetapi juga dari manfaat yang dirasakan langsung oleh jamaah dan masyarakat.
Memperluas Ruang Kepemimpinan Perempuan
Penguatan kepemimpinan perempuan menjadi bagian lain yang mendapat perhatian dalam rekomendasi MUBES.
Perempuan dinilai telah memberikan kontribusi besar dalam kehidupan NU melalui pendidikan, pesantren, badan otonom, majelis taklim, komunitas, serta berbagai ruang pengabdian masyarakat.
Karena itu, MUBES mendorong agar kontribusi tersebut semakin diperkuat melalui kesempatan yang lebih luas dalam kaderisasi, pengembangan kapasitas, serta kepemimpinan organisasi.
Salah satu rekomendasi yang disampaikan adalah kebijakan afirmasi keterwakilan perempuan minimal 30 persen pada seluruh tingkatan kepengurusan NU, mulai dari ranting, MWC, PCNU, PWNU hingga PBNU.
MUBES juga mendorong penguatan sistem kaderisasi kepemimpinan perempuan berbasis kompetensi, termasuk pengembangan talent pool atau sistem pengenalan kader perempuan berdasarkan kapasitas dan pengalaman.
Upaya tersebut diharapkan dapat menciptakan ruang kepemimpinan yang semakin inklusif sekaligus memperkuat regenerasi organisasi.
Membuka Ruang bagi Generasi Muda
Regenerasi juga menjadi perhatian penting dalam rekomendasi MUBES Warga NU 2026.
NU abad kedua diharapkan memberikan ruang yang lebih besar kepada generasi muda untuk terlibat dalam proses kaderisasi, kepemimpinan, dan pengambilan keputusan organisasi.
MUBES mendorong adanya penguatan sistem kaderisasi yang berkelanjutan serta pembukaan ruang kepemimpinan yang dapat mempertemukan pengalaman generasi senior dengan gagasan dan energi generasi muda.
Dalam konteks tersebut, Muktamar NU ke-35 diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus melahirkan agenda yang dapat dirasakan manfaatnya oleh jamaah dan masyarakat luas.
Tiga Belas Rekomendasi
Sebagai bagian dari hasil musyawarah, MUBES Warga NU 2026 menyampaikan 13 rekomendasi.
Pertama, menjaga marwah Muktamar ke-35 sebagai forum permusyawaratan yang bersih, bermartabat, dan berorientasi pada kemaslahatan.
Kedua, memperkuat proses musyawarah yang mengedepankan integritas, transparansi, dan tanggung jawab.
Ketiga, menjaga independensi seluruh tahapan Muktamar agar keputusan organisasi dapat lahir dari pertimbangan yang matang dan kepentingan jam’iyah.
Keempat, memperkuat kepengurusan NU yang memiliki integritas, kapasitas, keteladanan, kemandirian, dan semangat khidmah.
Kelima, menguatkan kembali peran NU dalam menjaga agama, merawat jamaah, serta menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.
Keenam, memperkuat politik kewargaan melalui pendidikan, advokasi, dan program yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Ketujuh, mengembangkan gerakan sosial yang mendorong kehidupan masyarakat yang inklusif dan berkeadaban.
Kedelapan, memperkuat pendidikan siyasah nahdliyah untuk meningkatkan pemahaman mengenai hak dan tanggung jawab kewargaan sekaligus membangun kepemimpinan yang berintegritas.
Kesembilan, mendorong keterwakilan perempuan minimal 30 persen pada seluruh tingkatan kepengurusan NU.
Kesepuluh, melakukan penguatan tata kelola organisasi dengan perspektif kesetaraan, keadilan, dan inklusivitas.
Kesebelas, membangun sistem kaderisasi kepemimpinan perempuan secara berjenjang dan berkelanjutan.
Keduabelas, membangun talent pool kader perempuan NU berbasis kompetensi.
Ketigabelas, memperkuat regenerasi kepemimpinan melalui sistem periodisasi serta membuka ruang yang lebih luas bagi generasi muda dan perempuan.
Melalui rekomendasi tersebut, MUBES Warga NU 2026 berharap NU dapat terus tumbuh sebagai organisasi yang mandiri, inklusif, berintegritas, dan dekat dengan kebutuhan jamaah.
Memasuki abad kedua, tantangan NU tidak hanya berkaitan dengan penguatan organisasi, tetapi juga kemampuan menghadirkan jawaban atas persoalan sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan perubahan kehidupan masyarakat.
Semangat tersebut dirangkum dalam harapan agar NU terus menjadi rumah besar bagi jamaah, ruang tumbuh bagi kader, serta kekuatan sosial yang memberikan manfaat bagi bangsa dan kemanusiaan.
Dari Seblak, gagasan tentang kemandirian dan masa depan NU itu diharapkan dapat menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk menghadirkan jam’iyah yang semakin kuat, terbuka, dan memberi manfaat luas.
Mari rawat tradisi musyawarah, kuatkan kemandirian, dan bersama-sama hadirkan NU yang semakin dekat dengan jamaah serta bermanfaat bagi Indonesia.
