Navaswara.com — Pameran seni bertajuk “Abandoned District” menghadirkan cara berbeda dalam melihat hubungan antara manusia, graffiti, dan perubahan wajah kota. Digelar di Pasar Antik Kios No. 9–10, Jalan Surabaya, Jakarta, pameran tunggal ini menampilkan karya Dimz, seniman graffiti yang berbasis di Seoul, Korea Selatan.
Pameran yang berlangsung mulai 25 Juli hingga 30 Agustus 2026 ini menjadi ruang bagi Dimz untuk membawa pengalaman urban Seoul ke dalam konteks yang lebih personal.
Bagi Dimz, kawasan yang tengah mengalami pembangunan kembali bukan sekadar ruang kosong yang menunggu untuk dihancurkan dan digantikan bangunan baru. Area tersebut justru menyimpan “kehidupan” sementara.
“Di area pembangunan ulang, intervensi grafiti sejenak menghidupkan kembali ruang-ruang yang memudar, menciptakan koneksi sensorik dengan kota,” tuturnya dikutip dari laman Roh Project.
Di tengah konstruksi, pembongkaran, serta struktur yang perlahan menghilang, graffiti hadir sebagai intervensi yang mampu memberikan napas baru pada ruang yang semakin ditinggalkan.
Ketertarikan Dimz terhadap ruang-ruang terbengkalai juga berangkat dari pengalaman panjangnya sebagai praktisi street art. Lingkungan tersebut memberinya jarak dari berbagai risiko dan ketegangan yang melekat pada praktik graffiti di ruang publik.
Dalam “Abandoned District”, pengalaman tersebut diterjemahkan melalui sejumlah medium, mulai dari lukisan, zine, hingga karya graffiti. Tiga kawasan redevelopment di Seoul yang pernah hadir dalam masa muda Dimz menjadi bagian penting dari karya-karya yang ditampilkan.
Graffiti dalam pameran ini disajikan sebagai respons terhadap ritme kota yang tidak pernah berhenti. Ketika sebuah bangunan menghilang, tanda baru dapat muncul.
Abandoned District memperlihatkan bahwa perubahan kota tidak hanya berkaitan dengan arsitektur dan pembangunan fisik, tapi juga menyentuh pengalaman emosional orang-orang yang tumbuh di dalamnya.
Melalui karya Dimz, ruang terbengkalai justru terlihat memiliki kehidupan tersendiri. Ia menjadi tempat untuk mengingat, mengamati, sekaligus memahami bagaimana kehidupan individu dan perkembangan kota saling berkelindan.
Pameran ini mengajak kita untuk melihat sisi lain dari ruang yang sering dianggap mati. Dimz juga ingin kita menyadari bahwa di tengah proses penghancuran dan pembangunan kembali, selalu ada cerita, ingatan, dan jejak manusia yang masih bertahan.

