Ratusan Warga Mengungsi, Pemprov DKI Gerak Cepat Penuhi Kebutuhan Korban Kebakaran Kemayoran

Navaswara.com – Deretan tenda pengungsian berdiri di Lapangan Yusuf Hamka, Kemayoran. Anak-anak tampak bermain di sudut area pengungsian, sementara para orang tua berusaha menata kembali harapan setelah kebakaran meluluhlantakkan rumah-rumah mereka. Di tengah suasana itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno hadir meninjau langsung warga terdampak dan memastikan seluruh kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menegaskan komitmennya dalam penanganan korban kebakaran di kawasan Kebon Kosong, Kemayoran, Jakarta Pusat. Saat meninjau lokasi pengungsian pada Selasa (2/6), Rano Karno memastikan layanan kesehatan, logistik, dapur umum, hingga dukungan psikologis telah disiapkan untuk warga terdampak.

Berdasarkan data sementara, kebakaran menghanguskan 304 bangunan dan berdampak pada 354 kepala keluarga atau 679 jiwa. Jumlah tersebut terdiri dari 326 laki-laki dan 353 perempuan, termasuk 35 lansia, 90 balita, 53 anak usia sekolah dasar, 60 pelajar SMP, 22 remaja SMA/SMK, serta 414 warga dewasa termasuk ibu hamil.

Untuk memenuhi kebutuhan para pengungsi, Pemprov DKI Jakarta mendirikan posko terpadu di Lapangan Yusuf Hamka. Posko tersebut dilengkapi layanan kesehatan, dapur umum, bantuan logistik, serta dukungan psikososial bagi anak-anak dan kelompok rentan.

“Kami sudah menyiapkan posko di Lapangan Yusuf Hamka secara lengkap. Ada posko kesehatan, dapur umum, dan posko dukungan psikologis untuk anak-anak. Dinas Sosial juga sudah menyalurkan bantuan logistik berupa makanan, matras, serta kebutuhan dasar lainnya,” ujar Rano Karno.

Selain bantuan pangan dan logistik, pemerintah juga menyalurkan bantuan sandang serta berbagai kebutuhan harian selama masa tanggap darurat. Perhatian khusus diberikan kepada kelompok rentan seperti balita, lansia, ibu hamil, dan anak-anak.

Untuk membantu pemulihan mental warga pascakebakaran, terutama anak-anak, Pemprov DKI Jakarta menyediakan layanan trauma healing dan pendampingan psikologis di lokasi pengungsian.

“Kami juga menyiapkan posko dukungan psikologis. Saat ini ada dua ibu hamil yang terdata dan kondisinya tidak memerlukan penanganan khusus. Namun jika membutuhkan rujukan ke rumah sakit, seluruh layanan kesehatan sudah siaga,” kata Rano.

Pemerintah juga bergerak cepat membantu warga yang kehilangan dokumen kependudukan akibat kebakaran. Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) telah membuka layanan penggantian dokumen seperti KTP dan Kartu Keluarga bagi warga terdampak.

“Dukcapil sudah menyerahkan dokumen seperti kartu keluarga dan KTP bagi warga yang membutuhkan. Kami mengimbau warga yang dokumennya hilang atau rusak agar segera melapor supaya proses penggantian bisa segera dilakukan,” jelasnya.

Di tengah upaya penanganan darurat, Rano Karno mengingatkan pentingnya mitigasi kebakaran, terutama di kawasan permukiman padat penduduk. Berdasarkan data yang dimiliki Pemprov DKI, sebagian besar kasus kebakaran di Jakarta dipicu oleh korsleting listrik.

“Kalau melihat data yang ada, sekitar 95 persen kebakaran di Jakarta disebabkan korsleting listrik. Karena itu masyarakat perlu lebih berhati-hati dalam penggunaan instalasi listrik dan peralatan elektronik di rumah,” ujarnya.

Menurut Rano, peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi semua pihak untuk meningkatkan kesadaran terhadap keselamatan lingkungan dan kualitas hunian. Ia menilai kawasan padat penduduk membutuhkan solusi jangka panjang melalui penataan lingkungan yang lebih baik, termasuk pengembangan hunian vertikal yang aman dan layak.

“Mudah-mudahan kejadian ini menjadi yang terakhir. Masyarakat perlu terus menjaga lingkungan dan meningkatkan kewaspadaan karena setiap kebakaran menimbulkan kerugian besar bagi semua pihak,” tuturnya.

Peristiwa kebakaran Kemayoran tidak hanya menyisakan kehilangan bagi ratusan keluarga, tetapi juga menjadi momentum memperkuat solidaritas sosial dan mempercepat upaya menghadirkan lingkungan permukiman yang lebih aman bagi warga Jakarta. Di tengah cobaan yang berat, harapan untuk bangkit kembali perlahan tumbuh dari semangat gotong royong yang terus menyala di antara para penyintas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *