Navaswara.com – Penantian panjang keluarga empat Anak Buah Kapal (ABK) Indonesia akhirnya berakhir. Setelah lebih dari lima bulan berada dalam penyanderaan perompak di perairan Somalia, keempat warga negara Indonesia akhirnya kembali menginjakkan kaki di Tanah Air dengan selamat.
Kepulangan mereka di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Selasa (6/10/2026), disambut langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Sugiono. Momen tersebut bukan sekadar seremoni penyambutan, tetapi menjadi penegasan bahwa negara hadir mendampingi warganya, bahkan setelah proses pembebasan selesai.
“Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT, kita dapat menyambut saudara-saudara kita yang setelah melalui perjalanan panjang akhirnya kembali dengan selamat ke Tanah Air dan ke tengah keluarga mereka,” ujar Sugiono.
Keempat ABK yang dipulangkan adalah Ashari Samadikun asal Gowa, Adi Faizal asal Bulukumba, Wahudinanto asal Pemalang, dan Fiki Mutakin asal Bogor. Mereka merupakan bagian dari 17 awak kapal tanker MT Honour-25 yang menjadi korban pembajakan di perairan sekitar Hafun, Somalia.
Namun, kepulangan mereka juga menyisakan cerita tentang beratnya tekanan yang dialami selama masa penyanderaan. Salah seorang korban bahkan harus menggunakan kursi roda saat tiba di bandara, menggambarkan kondisi fisik yang masih membutuhkan perhatian serius.
Melihat kondisi tersebut, Menko PMK memastikan pemerintah tidak hanya berhenti pada keberhasilan evakuasi. Pemulihan kesehatan, baik fisik maupun psikologis, menjadi bagian dari tanggung jawab negara yang akan terus dikawal.
“Saya ingin memastikan proses perawatan kesehatan saudara-saudara kita dapat berjalan dengan baik,” tegasnya.
Menurut Sugiono, rehabilitasi kesehatan dan sosial menjadi tahap penting agar para korban dapat kembali menjalani kehidupan secara normal setelah mengalami pengalaman traumatis selama berbulan-bulan.
Keberhasilan pembebasan dan pemulangan para ABK dinilai menjadi hasil kerja sama berbagai pihak. Upaya diplomasi, koordinasi lintas kementerian, serta dukungan perwakilan Indonesia di luar negeri menjadi faktor penting dalam proses penyelamatan tersebut.
Menko PMK menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Luar Negeri, Kementerian Perhubungan, Komisi I DPR RI, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Nairobi, serta seluruh pihak yang terlibat dalam proses pembebasan hingga pemulangan para korban.
Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa perlindungan terhadap warga negara Indonesia yang bekerja di luar negeri membutuhkan sinergi yang kuat, mulai dari diplomasi, koordinasi lintas lembaga, hingga pendampingan pascakejadian.
Bagi keluarga para ABK, kepulangan mereka bukan hanya akhir dari penantian panjang, tetapi juga awal dari proses pemulihan. Sementara bagi pemerintah, keberhasilan membawa pulang warganya menjadi bagian dari komitmen untuk memastikan setiap warga negara memperoleh perlindungan, di mana pun mereka berada.

