The Fed Tahan Suku Bunga, Konflik Iran Bikin Ekonomi AS Makin Tak Pasti

Navaswara.com – Bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), memutuskan menahan suku bunga pada 18 Maret 2026. Keputusan ini diambil di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi akibat konflik di Iran.

“Kondisi ekonomi saat ini sulit diprediksi. Dampak konflik global terhadap inflasi dan pertumbuhan masih belum jelas,” ungkap Ketua The Fed, Jerome Powell.

Ia menegaskan, The Fed akan bersikap hati-hati dalam menentukan langkah berikutnya. Dampak konflik bisa saja lebih besar atau justru lebih kecil dari perkiraan awal.

The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,6 persen, setelah sebelumnya melakukan beberapa kali penurunan pada tahun lalu. Meski peluang penurunan suku bunga masih terbuka, kebijakan saat ini kemungkinan akan dipertahankan lebih lama.

Inflasi menjadi alasan utama kehati-hatian tersebut. Hingga Januari, inflasi masih berada di level 2,8 persen, di atas target jangka panjang The Fed sebesar 2 persen.

Dalam proyeksi terbarunya, The Fed sedikit menaikkan perkiraan inflasi tahun ini menjadi 2,7 persen. Sementara itu, tingkat pengangguran diperkirakan tetap stabil di sekitar 4,4 persen.

Kenaikan harga energi akibat konflik di Timur Tengah diperkirakan akan memberi tekanan tambahan pada inflasi, terutama dalam jangka pendek. Namun, inflasi inti yang tidak memasukkan komponen energi dinilai masih relatif terkendali.

Pasar saham langsung merespons keputusan ini. Indeks S&P 500 tercatat turun sekitar 1,4 persen setelah pengumuman The Fed, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap ketidakpastian global.

Dalam kesempatan yang sama, Powell juga menyinggung masa jabatannya yang akan berakhir pada 15 Mei 2026. Presiden Donald Trump telah mengajukan Kevin Warsh sebagai penggantinya, meski prosesnya masih berjalan di Senat.

Powell menyatakan belum memutuskan apakah akan tetap melanjutkan perannya sebagai gubernur The Fed setelah masa jabatannya sebagai ketua berakhir.

Keputusan menahan suku bunga ini menunjukkan bahwa The Fed kini lebih fokus menjaga stabilitas di tengah situasi global yang tidak menentu. Dengan inflasi yang belum sepenuhnya terkendali dan risiko geopolitik yang meningkat, arah kebijakan ekonomi ke depan masih penuh kehati-hatian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *