Asal-usul Pandeglang: Cinta, Kesaktian, dan Gelang Raksasa di Balik Nama Kota

Navaswara.com – Di selatan Provinsi Banten, berdiri sebuah wilayah yang dikenal religius sekaligus sarat legenda, Pandeglang. Selain dijuluki kota santri karena banyaknya pondok pesantren, daerah ini juga menyimpan cerita rakyat yang turun-temurun dikisahkan, tentang cinta, pengkhianatan, dan sebuah gelang raksasa.

Konon, nama Pandeglang berasal dari kata “pandai gelang”, sebutan bagi ahli pembuat gelang. Dari kisah inilah asal-usul nama itu dipercaya bermula.

Alkisah, di tanah Banten hiduplah seorang putri rupawan bernama Arum. Tak hanya cantik, ia juga dikenal berhati lembut. Pesonanya memikat banyak pria, termasuk dua pangeran sakti, Sae Bagus Lana dan Cunihin.

Keduanya berasal dari perguruan yang sama, sama-sama menimba ilmu kesaktian. Namun, watak mereka bertolak belakang. Sae Bagus Lana dikenal baik hati, sementara Cunihin, yang dalam bahasa Sunda sehari-hari berarti suka menggoda, berperangai angkuh dan licik.

Putri Arum menjatuhkan pilihan pada Sae Bagus Lana. Cunihin tak terima. Dengan tipu daya, ia mengundang Sae Bagus Lana ke rumahnya dan merebut kesaktiannya. Dalam sekejap, pangeran yang gagah itu berubah menjadi tua renta dan kehilangan kekuatan.

Menjadi Ki Pande Gelang 

Atas petunjuk gurunya, Sae Bagus Lana harus membuat sebuah gelang raksasa yang dapat dilewati manusia untuk merebut kembali kesaktiannya. Ia lalu mengasingkan diri ke Bukit Manggis dan berlatih menempa logam.

Di sanalah ia dikenal sebagai Ki Pande Gelang, si pandai gelang.

Sementara itu, Putri Arum yang terdesak waktu hampir dipaksa menerima pinangan Cunihin. Dalam kebimbangannya, ia mendapat wangsit untuk pergi ke Bukit Manggis. Di situlah ia bertemu Ki Pande Gelang, tanpa menyadari bahwa sosok tua itu adalah Sae Bagus Lana.

Ki Pande memberi syarat bahwa Cunihin harus melubangi batu keramat besar di tepi pantai dan melewatinya. Cunihin yang sombong menyanggupi. Ia berhasil melubangi batu tersebut dengan kesaktiannya.

Namun tanpa sepengetahuannya, Ki Pande memasang gelang raksasa di lubang batu itu.

Ketika Cunihin melewatinya untuk membuktikan keberhasilan, kesaktiannya justru terserap kembali. Ia berubah tua renta, sementara Ki Pande kembali menjadi Sae Bagus Lana yang muda dan gagah.

Putri Arum pun akhirnya bersatu dengan cinta sejatinya.

Jejak Legenda di Peta Banten

Cerita ini tak berhenti sebagai dongeng. Sejumlah nama wilayah di Banten dipercaya berkaitan dengan legenda tersebut.

Batu berlubang tempat Cunihin kehilangan kesaktiannya kini dikenal sebagai Pantai Karang Bolong. Wilayah tempat batu keramat ditemukan disebut Kramatwatu. Sementara lokasi Putri Arum disembuhkan dari pingsan oleh mata air batu cadas kini dikenal sebagai Cadasari.

Nama Pandeglang sendiri diyakini berasal dari “pandai gelang” merujuk pada Ki Pande Gelang, sang pembuat gelang sakti.

Di balik kisah heroik ini, tersimpan pesan moral yang kuat. Kesaktian dan kekuatan bisa runtuh karena kesombongan. Sebaliknya, ketekunan dan kesabaran mampu mengembalikan martabat yang hilang.

Legenda ini juga mengingatkan bahwa setiap nama tempat memiliki cerita, entah sejarah faktual atau warisan tutur yang hidup di tengah masyarakat.

Hari ini, Pandeglang dikenal sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Pandeglang, berbatasan dengan Kabupaten Serang di utara, Kabupaten Lebak di timur, dan Samudra Hindia di barat serta selatan. Dan, dijuluki kota sejuta santri, seribu ulama.

Namun jauh sebelum itu semua, masyarakat Banten telah mewariskan kisah tentang seorang pandai gelang yang tak menyerah pada nasib.

Dan mungkin, di balik debur ombak Karang Bolong, legenda itu masih berbisik pelan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *