Navaswara.com – Nama Laksamana Cheng Ho harum di berbagai wilayah Nusantara, terutama di Pulau Jawa dan Sumatera. Sosok pelaut besar asal Tiongkok ini tak hanya meninggalkan jejak dalam catatan sejarah, tetapi juga dalam wujud bangunan dan tradisi yang masih hidup di tengah masyarakat hingga kini.
Cheng Ho atau Zheng He, lahir di Provinsi Yunnan dengan nama Ma He. Hidupnya berubah drastis sejak usia belasan tahun, ketika ia ditawan pasukan Dinasti Ming sekitar 1383. Dari masa sulit itulah perjalanan panjang Cheng Ho bermula. Ia kemudian mengabdi kepada Zhu Di, seorang pangeran Dinasti Ming yang kelak naik takhta sebagai Kaisar Yongle.
Di bawah perlindungan Zhu Di, Cheng Ho mendapat kesempatan belajar dan terlibat dalam berbagai ekspedisi militer. Kepiawaiannya dalam memimpin pelayaran membuatnya dipercaya mengemban misi besar, yaitu memimpin armada laut kekaisaran dan berlayar ke berbagai penjuru dunia, termasuk Nusantara, sebagai duta Dinasti Ming. Sejak saat itu, nama Cheng Ho dikenal luas sebagai laksamana yang disegani.
Dalam salah satu pelayarannya, Cheng Ho tercatat singgah di Palembang. Catatan Zheng He yang diterjemahkan W.P. Groeneveldt dalam buku Nusantara dalam Catatan Tiongkok menyebutkan pada ekspedisi pertamanya, Cheng Ho datang ke Palembang untuk menumpas Chen Zuyi, seorang perompak asal Guangdong yang menguasai wilayah tersebut. Misi itu berhasil, dan Chen Zuyi kemudian dibawa ke Tiongkok untuk diadili.
Arkeolog Uka Tjandrasasmita dalam Arkeologi Islam Nusantara menilai tindakan Cheng Ho ini memberi dampak besar bagi keamanan pelayaran dan perdagangan di Palembang. Keberhasilannya menumpas perompak membuat aktivitas keluar-masuk pelabuhan kembali aman, sehingga masyarakat dan pemimpin setempat menghormati Cheng Ho sebagai sosok pembawa ketertiban dan kedamaian.
Meski belum didukung bukti historis yang sepenuhnya kuat, banyak pihak meyakini Cheng Ho beragama Islam dan memiliki peran dalam penyebaran Islam di Nusantara. Kepribadiannya yang dikenal bijaksana membuatnya memiliki banyak pengikut, termasuk dari kalangan Tionghoa-Muslim yang kemudian menetap dan berbaur dengan masyarakat lokal di Palembang.
Masjid Cheng Ho sebagai Simbol Akulturasi
Sebagai bentuk penghormatan terhadap sosok Cheng Ho sekaligus simbol persaudaraan umat Islam lintas budaya, dibangunlah Masjid Cheng Ho Palembang. Masjid ini memiliki nama resmi Masjid Al-Islam Muhammad Cheng Hoo Sriwijaya dan mulai digunakan sebagai tempat ibadah sejak 2006.
Selain berfungsi sebagai rumah ibadah, masjid ini juga menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial bagi warga sekitar. Dari kejauhan, bangunannya tampak mencolok. Warna merah muda mendominasi bangunan utama, berpadu dengan pilar-pilar merah yang kuat. Kubah berwarna hijau dengan bulan sabit dan bintang menghiasi atap utama, sementara di keempat sudut bangunan terdapat atap berbentuk limas, ciri khas arsitektur Palembang.
Masjid Cheng Ho Palembang juga dilengkapi dua menara bergaya pagoda berwarna merah. Menara tersebut diberi nama “Habluminallah” dan “Habluminannas”, yang masing-masing memiliki lima tingkat sebagai simbol shalat lima waktu. Tinggi menara mencapai 17 meter, melambangkan jumlah rakaat shalat wajib dalam sehari.
Nuansa Tionghoa semakin terasa di bagian dalam masjid melalui dominasi warna merah pada pintu, tiang, dan ornamen pembatas. Di bagian depan, gapura bergaya Tiongkok dengan pilar merah dan atap limas berwarna kuning emas menyambut jamaah. Papan nama bertuliskan “Masjid Muhammad Cheng Hoo” lengkap dengan aksara Mandarin menegaskan identitas akulturasi budaya yang diusung.
Ruang Ibadah yang Terbuka dan Inklusif
Masjid Cheng Ho Palembang dibangun oleh Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), yang kini dikenal sebagai Persatuan Iman Tauhid Indonesia. Dalam buku Religious Pluralism, State and Society in Asia, peneliti Hew Wai-Weng menyebut masjid ini sebagai masjid bergaya Tiongkok kedua di Indonesia, setelah Masjid Cheng Ho di Surabaya.
Masjid ini berdiri di atas lahan seluas 4.990 meter persegi, hibah dari Syarial Oesman saat menjabat Gubernur Sumatera Selatan. Bangunan utama memiliki dua lantai dengan kapasitas sekitar 500 jamaah. Lantai pertama digunakan untuk jamaah laki-laki, sementara lantai dua dikhususkan bagi jamaah perempuan.
Meski tidak dilengkapi pendingin udara, suasana di dalam masjid terasa sejuk berkat desain ventilasi alami. Jendela-jendela lebar dan roster di bagian atas pintu memungkinkan sirkulasi udara berjalan optimal. Selain ruang salat, masjid ini juga dilengkapi fasilitas pendidikan Al-Qur’an gratis untuk anak-anak, perpustakaan, kantor Dewan Kemakmuran Masjid, serta ruang serbaguna.
Terletak di kawasan perumahan Jakabaring, Masjid Cheng Ho Palembang menawarkan suasana tenang, jauh dari hiruk pikuk kota. Lokasinya berada di kawasan 15 Ulu, Seberang Ulu I, sekitar tujuh kilometer dari pusat Kota Palembang.
Bagi siapa pun yang berkunjung ke Palembang, Masjid Cheng Ho tak sebaras destinasi wisata religi. Tetapi juga menjadi simbol harmoni budaya, jejak sejarah, serta bukti bahwa perjumpaan lintas peradaban dapat melahirkan ruang ibadah yang inklusif dan penuh makna.
Foto: Indonesia Kaya

