Navaswara.com – “Sepuluh tahun lagi, wajah Potehi hanya punya dua kemungkinan: hilang ditelan zaman atau berjaya karena kesadaran kita untuk merawatnya hari ini.”
Eksistensi Wayang Potehi di Indonesia sering kali dianggap sebagai warisan masa lalu yang perlahan sunyi. Namun, di tengah modernitas Jakarta, sekelompok anak muda menolak untuk membiarkan kesenian akulturasi Tionghoa-Indonesia ini mati ditelan zaman. Melalui Sanggar Siauw Pek San, mereka mencoba membawa Potehi keluar dari klenteng menuju ruang publik yang lebih aksesibel.
Berdiri sejak 2023, Siauw Pek San bukan sebatas nama. Sanggar ini digerakkan oleh anak-anak muda yang telah menimba ilmu Wayang Potehi dengan menempuh perjalanan bolak-balik Jawa Timur-Jakarta. Visi mereka jelas, yakni menjadikan sanggar ini sebagai pusat edukasi yang mudah dijangkau oleh kaum urban di pusat kota.
Ketua Siauw Pek San Andhika Pratama mengungkapkan, nama Siauw Pek San membawa doa dan filosofi mendalam. “Siauw adalah marga saya, Pek berarti delapan yang merupakan angka hoki, dan San berarti gunung,” ujarnya.
Dalam mitologi Wayang Potehi, gunung diasosiasikan sebagai tempat para murid dewa bertapa dan menimba ilmu. “Harapannya, sanggar ini menjadi tempat belajar bagi siapa pun. Setelah ‘turun gunung’ dan mendapatkan kemampuan, mereka bisa membawa nilai-nilai kebaikan untuk masyarakat,” tambah Andhika.
Uniknya, sanggar ini tidak dibentuk melalui proses rekrutmen formal. Andhika meyakini menjadi pemain Potehi adalah panggilan hati. Tak heran jika anggota sanggar ini berasal dari berbagai etnis dan latar belakang, membuktikan bahwa Potehi telah menjadi milik Indonesia, bukan hanya satu golongan saja.

Membangun ‘Chemistry’ dengan Kayu dan Benang
Bagi Andhika dan kawan-kawan, memainkan Potehi bukan teknik menggerakkan boneka semata. Ada ritual emosional yang harus dijalani. Setiap guratan pada wajah wayang dipelajari untuk memahami jiwa dan emosi yang ditiupkan oleh sang pengrajin.
“Membangun chemistry dengan wayang itu mirip membangun hubungan antarmanusia. Kita harus tahu asal-usulnya, membaca ceritanya, sampai memahami takdir tokoh tersebut agar bisa menghidupkannya di panggung,” jelasnya.
Meski tetap menjaga pakem gaya senior maestro, Siauw Pek San tidak menutup mata pada relevansi zaman. Mereka menggunakan komposisi bahasa yang unik, yakni 85 persen Bahasa Indonesia dan 15 persen dialek Hokkien sebagai identitas wajib. Di atas panggung, koordinasi antar-pemain dilakukan dengan bermain feeling dan kode-kode tertentu untuk menentukan pola musik secara spontan. Strategi ini terbukti ampuh membuat cerita klasik tetap nyambung saat dibawakan untuk anak-anak perkotaan.

Menembus Batas Budaya
Perbedaan atmosfer panggung di klenteng dan ruang publik menjadi tantangan tersendiri bagi sanggar ini. Di klenteng, suasana terasa lebih santai dengan durasi panjang dan kewajiban menjalankan prosesi ritual. Sementara di panggung publik, mereka harus berhadapan dengan tekanan durasi dan ekspektasi penonton yang lebih heterogen.
Namun, keterbatasan itu justru membawa mereka melanglang buana. Berkat dukungan Dana Indonesiana dan Disbud DKI Jakarta, Siauw Pek San sempat menjadi delegasi di Italia pada tahun lalu. Responsnya luar biasa.
Di Penang, Malaysia, seorang kru Tionghoa terkesima melihat bagaimana penonton Melayu dan India bisa duduk bersama menikmati Potehi, pemandangan yang jarang ditemukan di sana. Sementara di Palermo, Italia, para akademisi kagum dengan keunikan gaya Potehi Indonesia yang sangat terakulturasi.
Meski sudah melangkah jauh, Andhika mengakui tantangan ke depan tidaklah mudah. Potehi harus bersaing dengan budaya populer dan kesenian tradisi lainnya. Namun, ia membiarkan regenerasi ini mengalir seperti sungai untuk menemukan orang-orang yang memang memiliki keterikatan batin dengan Potehi.
“Kuncinya adalah menguasai pakem terlebih dahulu, baru kemudian mencari celah untuk berinovasi agar tetap relevan bagi kalangan muda,” ungkap Andhika.
Dukungan pemerintah pun dirasa masih perlu ditingkatkan. Meski bantuan finansial mulai mengalir, Andhika merasa Potehi belum sepenuhnya diakui sebagai bagian dari khasanah budaya resmi yang ada di Jakarta. Dukungan material dan pengakuan administratif menjadi krusial untuk pemajuan seni ini.
“Sepuluh tahun lagi, wajah Potehi punya dua kemungkinan, hilang karena tergerus zaman atau flourish (berjaya) karena kesadaran kolektif kita untuk merawatnya,” ia menegaskan.
Bagi Siauw Pek San, Wayang Potehi adalah cermin toleransi yang nyata. Sebagai perwakilan kesenian Tionghoa-Indonesia atau Peranakan, mereka ingin memastikan generasi mendatang tidak hanya mengenal kesenian ini melalui foto atau video di buku sejarah, tetapi tetap bisa merasakan langsung keajaiban cerita di balik panggung kayu Potehi di masa depan.

