Bendum DMI: Masjid Al-Ikhlas di PIK Jadi Simbol Toleransi di Kawasan Hunian Modern

Navaswara.com — Peresmian Masjid Al-Ikhlas di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara, dinilai menjadi simbol penting penguatan toleransi dan kehidupan beragama yang harmonis di tengah kawasan hunian modern yang majemuk.

Penilaian tersebut disampaikan Bendahara Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) sekaligus Ketua Umum Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Dr. H. Serian Wijatno, usai peresmian masjid yang dilakukan Menteri Agama Republik Indonesia pada Kamis (15/1/2026).

Menurut Serian, kehadiran Masjid Al-Ikhlas tidak hanya menjawab kebutuhan umat Islam akan fasilitas ibadah, tetapi juga menandai komitmen bersama untuk membangun ruang keagamaan yang inklusif dan berorientasi pada persaudaraan antarsesama.

“Masjid Al-Ikhlas memiliki nilai strategis dalam merawat keberagaman. Di kawasan ini juga direncanakan akan dibangun rumah ibadah agama lain. Ini menunjukkan bahwa PIK dirancang sebagai ruang hidup bersama yang menghormati perbedaan,” ujar Serian kepada wartawan di Jakarta.

Ia menambahkan, berdampingannya rumah ibadah berbagai agama di satu kawasan merupakan gambaran nyata toleransi yang hidup, bukan sekadar slogan. Karena itu, Serian berharap Masjid Al-Ikhlas dapat menjadi pelopor dalam membangun semangat dialog, saling menghormati, dan kerja sama antarumat beragama.

Peresmian Masjid Al-Ikhlas yang turut dihadiri Chairman Agung Sedayu Group Sugianto Kusuma tersebut bertepatan dengan peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW. Serian menilai momentum itu mengandung pesan mendalam tentang persatuan umat dan nilai spiritual yang menyatukan.

Ia menjelaskan, peristiwa Isra Mikraj menegaskan posisi masjid sebagai pusat ibadah dan simbol persatuan, sekaligus pengingat akan pentingnya hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan dan sesama.

Lebih lanjut, Serian mendorong pengelolaan Masjid Al-Ikhlas dilakukan secara profesional dan terbuka, agar perannya dapat melampaui fungsi ritual semata.

“Masjid seharusnya menjadi pusat peradaban, tempat bertemunya gagasan-gagasan yang mencerahkan, serta ruang sosial yang memperkuat ikatan kemasyarakatan,” katanya.

Serian berharap Masjid Al-Ikhlas dapat menjadi contoh bagaimana rumah ibadah hadir sebagai perekat sosial, menjaga harmoni, dan menumbuhkan toleransi di tengah keberagaman masyarakat perkotaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *