Telkom Resmi Pisahkan Bisnis Wholesale Fiber Optic ke Infranexia

Navaswara.com – Perubahan cara masyarakat terhubung dengan dunia digital berlangsung perlahan namun pasti. Infrastruktur yang kuat menjadi fondasi agar ruang digital dapat berkembang seiring kebutuhan ekonomi, layanan publik, dan kehidupan urban.

Di balik layar kehidupan digital yang kian menyatu dengan keseharian, ada infrastruktur panjang yang bekerja tanpa henti. Koneksi internet yang stabil, layanan digital yang terus tumbuh, hingga ruang-ruang kota yang makin terkoneksi, semuanya bertumpu pada fondasi yang jarang dibicarakan, yakni jaringan fiber optik.

Dalam lanskap inilah PT Telkom Indonesia Persero Tbk mengambil langkah strategis. Telkom resmi menandatangani akta pemisahan sebagian bisnis dan aset wholesale fiber optic tahap pertama kepada anak perusahaannya, PT Telkom Infrastruktur Indonesia atau Infranexia. Langkah ini menandai fase baru dalam pengelolaan infrastruktur digital nasional yang dirancang untuk jangka panjang.

Direktur Strategic Business Development dan Portfolio Telkom Seno Soemandji menjelaskan pemisahan ini merupakan bagian dari rencana yang telah disiapkan bertahun-tahun.
“Kita baru saja menandatangani apa yang kita sebut sebagai akta pemisahan sebagian dari aset fiber kita ke anak usaha kami, Telkom Infrastruktur Indonesia, sebagai operating company,” ujarnya belum lama ini.

Pemisahan aset fiber ini bukan keputusan yang diambil dalam waktu singkat. Strategi tersebut telah dirancang sejak lima tahun lalu melalui peta jalan transformasi 5 Gold Moves, yang mengarahkan Telkom berperan sebagai holding, sementara aktivitas operasional dikelola melalui pilar-pilar bisnis yang lebih fokus. Bagi Telkom, transformasi ini juga selaras dengan agenda pemerintah dalam memperluas digitalisasi nasional.

Seno menuturkan efisiensi menjadi kata kunci dalam pengelolaan aset ke depan. Dengan pengelolaan yang lebih terpusat, Telkom berharap dapat memaksimalkan nilai aset, menata belanja modal secara lebih terukur, sekaligus memperluas jangkauan fiberisasi ke berbagai wilayah Indonesia.

Transformasi ini berada dalam kerangka besar Telkom 30, strategi jangka panjang perusahaan untuk memperkuat daya saing melalui penguatan fondasi bisnis. Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menegaskan bahwa kekuatan fundamental tetap menjadi pijakan utama. “Kekuatan fundamental ini berupa operation excellence dan service excellence. Lalu optimalisasi aset strategis, salah satunya melalui Infranexia, dengan mengelola aset digital fiber optic yang kami miliki,” ujar Dian.

Kehadiran Infranexia diposisikan sebagai entitas yang secara khusus mengonsolidasikan dan mengelola bisnis wholesale fiber connectivity Telkom Group. Dengan struktur ini, Telkom menyiapkan diri untuk memperkuat portofolio bisnis sekaligus membangun nilai berkelanjutan yang selaras dengan kekuatan inti perusahaan.

Pada tahap awal spin-off, sekitar 50 persen aset fiber Telkom dialihkan ke Infranexia dengan nilai buku sekitar Rp35 triliun. Secara keseluruhan, nilai aset fiber Telkom diperkirakan mencapai Rp90 triliun, sementara valuasi Infranexia diproyeksikan berada di kisaran Rp120 hingga Rp150 triliun. Dari sisi bisnis, Infranexia akan fokus pada segmen wholesale dan ISP, dengan arah pengembangan yang lebih selektif pada produk bermargin lebih tinggi.

Direktur Network Telkom Nanang Hendarno menyebut pendapatan bisnis ini saat ini berada di kisaran Rp14–15 triliun dan diproyeksikan meningkat signifikan menuju 2030. Efisiensi yang dilakukan, menurut manajemen, tidak dimaknai sebagai pengurangan belanja modal, melainkan penataan ulang investasi agar menghasilkan dampak yang lebih luas.

Saat ini, jaringan fiber Telkom telah menjangkau sekitar 80 hingga 90 persen wilayah Indonesia. Sisanya akan digarap secara bertahap dengan mempertimbangkan potensi nilai tambah, termasuk mendukung pengembangan kota cerdas, layanan 5G, serta konektivitas digital pemerintahan.

Ke depan, Telkom berharap tahapan lanjutan pemisahan aset dapat dilanjutkan pada tahun berikutnya, seiring dengan penguatan bisnis dan operasional. Dian menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan layanan, termasuk dalam memberikan pelayanan yang netral bagi seluruh pelanggan wholesale, sekaligus memastikan kualitas layanan bagi Telkomsel sebagai pengguna terbesar jaringan fiber Telkom.

Langkah ini memperlihatkan bagaimana infrastruktur yang kerap tak terlihat justru menjadi penopang utama gaya hidup digital yang semakin terhubung, hari ini dan di tahun-tahun mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *