Navaswara.com – Suasana Balai Kota Jakarta pada Kamis siang itu dipenuhi wajah-wajah muda penuh semangat. Mereka adalah para atlet sepak bola usia 13, 15, dan 17 tahun yang baru saja mengharumkan nama ibu kota lewat Piala Soeratin Putaran Nasional 2025. Di hadapan mereka, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan sebuah pesan sederhana, bahwa prestasi di lapangan tidak boleh mengorbankan masa depan pendidikan.
Pramono menegaskan bahwa para atlet muda yang berprestasi akan mendapatkan dukungan pendidikan melalui program Kartu Jakarta Pintar (KJP) Plus. “Mudah-mudahan mereka tetap bisa berkiprah di sepak bola, tetapi jangan meninggalkan sekolahnya. Maka tadi saya menyampaikan kepada Kepala Dinas Pendidikan, kalau prestasinya baik, maka kami akan fasilitasi untuk mendapatkan KJP Plus,” ucapnya.
Capaian tim-tim muda Jakarta tahun ini memang patut dibanggakan. ASIOP Jakarta mengamankan posisi kedua nasional di kategori U-13, SSB Bimba AIUEO keluar sebagai juara nasional U-15, sementara Persija Jakarta memastikan podium ketiga di kategori U-17. Prestasi itu tidak hanya berbicara soal skor akhir, melainkan juga soal pembinaan usia dini yang semakin matang di Jakarta.
Bagi Pramono, keberhasilan ini menunjukkan fondasi kuat yang sudah terbentuk. Ia menilai, kerja keras para pemain tidak bisa dilepaskan dari peran sekolah, klub, pelatih, hingga dukungan keluarga. Maka, memastikan jalur pendidikan tetap berjalan beriringan dengan karier olahraga adalah hal penting. “Kami ingin mereka bisa memilih jalannya sendiri, apakah menjadi pemain nasional atau tetap mengutamakan pendidikan. Semua sah-sah saja. Tapi kami pastikan mereka punya pegangan melalui KJP Plus,” lanjutnya.
Lebih jauh, ia berharap jalan yang ditempuh anak-anak muda ini suatu saat akan membawa mereka ke level lebih tinggi, bersama klub kebanggaan ibu kota Persija Jakarta, hingga ke Tim Nasional Indonesia. “Itu kebanggaan, bukan hanya untuk Jakarta, tetapi juga untuk Indonesia,” kata Pramono.
Dukungan melalui KJP Plus dipandang sebagai cara untuk meredakan kegelisahan orang tua maupun atlet terkait masa depan akademik. Dengan beban pendidikan yang terjamin, para pemain diharapkan dapat berlatih tanpa rasa khawatir dan justru lebih termotivasi. Pemprov DKI ingin memastikan, anak-anak muda ini tidak hanya menorehkan gol di lapangan, tetapi juga memiliki bekal ilmu yang bisa menjadi penopang masa depan.
Piala Soeratin sendiri telah lama menjadi panggung penting bagi pesepak bola muda Indonesia. Digelar sejak 1967 oleh PSSI dan dinamai dari Soeratin Sosrosoegondo, turnamen ini terus melahirkan generasi penerus sepak bola nasional. Dan tahun ini, Jakarta kembali menunjukkan bahwa mereka siap menjaga tradisi itu.
Kemenangan para pemain belia ini adalah cermin tentang mimpi yang bisa tumbuh dari lapangan-lapangan kota. Hasil dari kerja keras berlatih, doa orang tua, dan dukungan yang mendorong mereka pada harapan yang lebih besar. Jakarta, dengan segala riuhnya, kembali menjadi tempat di mana masa depan sepak bola Indonesia ditempa.
