Navaswara.com – Ada satu momen kecil yang selalu ditunggu saat Ramadan, suapan pertama setelah azan magrib berkumandang. Bukan nasi atau lauk berat, melainkan sesuatu yang manis, lembut, dan hangat di lidah. Di Tanah Banjar, momen itu kerap diisi oleh sepotong kue berbentuk bunga bernama bingka.
Di wilayah seperti Banjarmasin dan sekitarnya, kue bingka bukan sebatas camilan, tetapi juga tradisi turun-temurun yang hampir tak pernah absen dari meja berbuka. Legit, gurih, dan lembut, bingka menjadi primadona Ramadan, baik di Kalimantan Selatan maupun Kalimantan Timur.
Konon, resep bingka diciptakan oleh Putri Junjung Buih, sosok legendaris dari Kerajaan Daha dalam hikayat Banjar. Pada masanya, kue ini disebut-sebut hanya disajikan untuk kalangan bangsawan.
Kini, bingka tak lagi eksklusif milik istana. Ia hadir di pasar Ramadan, toko oleh-oleh, hingga dapur-dapur rumah warga. Bentuknya yang menyerupai kelopak bunga membuatnya mudah dikenali. Sekilas mirip kue lumpur, tetapi dengan cita rasa lebih kaya, perpaduan manis dan gurih dari santan yang terasa lembut sejak gigitan pertama.
Rahasia Lembutnya dari Bara Arang
Bahan dasarnya sederhana, yakni tepung, santan, gula, dan telur. Namun, yang membuat bingka istimewa adalah teknik memasaknya. Secara tradisional, bingka dipanggang menggunakan bara arang kayu atau bakau, dikenal dengan teknik sumba. Panas dari arang yang stabil membuat kematangan kue lebih merata dan teksturnya tetap lembut.
Seiring waktu, variasi rasa bingka pun berkembang. Jika dulu hanya satu rasa, kini masyarakat Banjar berkreasi dengan berbagai varian seperti kentang, pandan, nangka, tapai, waluh (labu), kismis, hingga keju. Di Banjarmasin dan Balikpapan, bingka kentang termasuk yang paling digemari karena teksturnya lebih padat namun tetap lembut.
Bingka bukan hanya populer saat Ramadan. Dalam tradisi suku Banjar, kue ini termasuk salah satu dari 41 jenis kue yang kerap hadir dalam acara istimewa seperti pernikahan dan selamatan. Artinya, bingka punya tempat khusus dalam perjalanan hidup masyarakat Banjar, mulai dari momen sakral hingga kebersamaan keluarga.
Tak heran jika kelezatannya juga menembus batas daerah, bahkan dikenal hingga Malaysia dan Brunei Darussalam.
Jadi, jika suatu waktu berkunjung ke Banjarmasin saat bulan puasa, jangan lupa membawa pulang sekotak bingka.
Foto: Istimewa
