Navaswara.com – Aktivitas pelabuhan kerap dipersepsikan jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, efisiensi di titik ini ikut menentukan kelancaran distribusi kebutuhan masyarakat, dari bahan pangan hingga kendaraan. Kesadaran itulah yang mendorong PT Pelabuhan Indonesia Persero melalui subholding PT Pelindo Multi Terminal untuk mempercepat transformasi pengelolaan pelabuhan nonpetikemas.
Pelindo Multi Terminal yang mengelola operasional terminal nonpetikemas menegaskan komitmennya dalam melakukan standarisasi layanan melalui program terminalisasi. Langkah ini diarahkan untuk meningkatkan kualitas operasional pelabuhan dengan mengubah fungsi fasilitas dari layanan umum menjadi terminal dengan fungsi khusus, seperti curah cair, curah kering, kendaraan, maupun RoRo.
Terminalisasi diposisikan sebagai upaya penyesuaian terhadap kebutuhan industri yang semakin spesifik. Dengan pengoperasian yang lebih terfokus, layanan pelabuhan dituntut bekerja lebih presisi, aman, dan terkontrol. Pendekatan ini juga sejalan dengan regulasi kepelabuhanan yang mendorong peningkatan keandalan layanan laut nasional.
“Terminalisasi menjadi inisiatif strategis yang penting karena layanan khusus membutuhkan standar operasional yang konsisten. Implementasi ini diharapkan meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat kepercayaan pengguna jasa,” ujar Direktur Operasi Pelindo Multi Terminal, Arif Rusman Yulianto.
Sepanjang November lalu, Pelindo Multi Terminal menerima sejumlah persetujuan pengoperasian fasilitas pelabuhan dari Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan. Persetujuan tersebut mencakup perubahan fungsi terminal di beberapa wilayah, termasuk Terminal Curah Cair dan Curah Kering di Bumiharjo Bagendang serta fasilitas mooring buoy di Lembar, Nusa Tenggara Barat.
Hingga kini, pengembangan terminalisasi telah diterapkan di 44 terminal yang tersebar di 14 cabang. Wilayah tersebut meliputi pelabuhan-pelabuhan strategis seperti Belawan, Dumai, Pontianak, Tanjung Emas, Gresik, hingga Makassar. Setiap terminal disesuaikan dengan karakter muatan dan kebutuhan logistik di wilayahnya masing-masing.
Dari sisi kinerja, penerapan terminalisasi menunjukkan dampak terukur. Hingga November 2025, produktivitas pelabuhan tercatat meningkat dengan rata-rata kenaikan Ton per Ship per Day lebih dari 21 persen. Waktu sandar kapal juga mengalami percepatan dengan persentase yang sejalan.
Transformasi ini dipandang sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem pelabuhan yang lebih modern dan responsif terhadap perubahan kebutuhan logistik nasional. “Kami ingin memastikan pelabuhan tidak hanya berfungsi sebagai titik bongkar muat, tetapi juga memberi nilai tambah bagi rantai distribusi secara keseluruhan,” kata Arif.
Bagi masyarakat, perbaikan di sektor pelabuhan mungkin tidak selalu terlihat langsung. Namun, efisiensi yang terbangun di balik layar menjadi fondasi penting bagi kelancaran mobilitas barang dan stabilitas pasokan yang semakin dibutuhkan dalam keseharian.
