Abang None Jakarta 2026 Diminta Jadi Wajah Budaya di Panggung Dunia

Navaswara.com – Sorot lampu memenuhi panggung, sementara selempang dan busana khas Jakarta menjadi bagian dari malam yang mempertemukan generasi muda dengan wajah budaya ibu kota. Di tengah suasana Malam Final Pemilihan Abang dan None Jakarta 2026, pesan tentang menjaga identitas Jakarta mengemuka sebagai bagian penting dari perjalanan para finalis.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno membuka Malam Final Pemilihan Abang dan None Jakarta 2026 di Ciputra Artpreneur Theater, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (18/9/2026). Ia meminta Abang dan None Jakarta menjadi representasi generasi muda yang mampu memperkenalkan budaya, kreativitas, dan berbagai potensi Jakarta hingga ke tingkat nasional dan internasional.

Pesan tersebut dinilai semakin relevan menjelang Jakarta memasuki usia 500 tahun pada 2027. Di tengah transformasi menuju kota global, Jakarta diharapkan terus berkembang sebagai kota modern tanpa kehilangan akar budaya dan jati dirinya.

“Menjadi Abang dan None bukan semata-mata tentang selempang atau gelar. Di baliknya ada nama Jakarta yang melekat, ada citra kota yang harus dijaga, dan ada nilai-nilai budaya yang harus terus dirawat,” ujar Rano.

Menurut Rano, rangkaian seleksi dan pembekalan yang telah dijalani para finalis memberikan pemahaman yang lebih luas mengenai Jakarta. Materi tersebut mencakup pariwisata, kebudayaan, ekonomi kreatif, hingga berbagai potensi yang dimiliki ibu kota.

Bekal tersebut diharapkan tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi diterjemahkan menjadi kemampuan untuk menceritakan Jakarta dengan cara yang dekat dengan generasi muda dan masyarakat luas.

“Ke depan, kita ingin Jakarta terus tumbuh menjadi kota global yang modern tanpa meninggalkan akar budaya dan jati dirinya,” katanya.

Rano juga menempatkan Abang dan None sebagai salah satu penghubung Jakarta dengan generasi muda dan masyarakat internasional. Karena itu, cerita tentang Jakarta dapat disampaikan melalui beragam kekuatan kota, mulai dari budaya, kuliner, komunitas, kreativitas hingga karakter masyarakatnya.

“Sebagai representasi Jakarta, Abang dan None adalah jembatan yang menghubungkan Jakarta dengan generasi muda dan dunia. Ceritakanlah Jakarta melalui budaya, kreativitas kuliner, komunitas, serta kehangatan masyarakatnya,” tuturnya.

Perkembangan ruang komunikasi digital, lanjut Rano, turut membuka kesempatan yang lebih luas bagi Abang dan None untuk memperkenalkan Jakarta. Media digital dapat dimanfaatkan secara kreatif, bijak, dan bertanggung jawab sehingga cerita mengenai Jakarta dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas.

Pesan itu sekaligus menegaskan bahwa peran Abang dan None tidak berhenti setelah malam final. Gelar yang diraih menjadi bagian dari perjalanan, sementara kontribusi melalui karya dan kegiatan positif menjadi ruang berikutnya untuk terus membawa nama Jakarta.

“Kemenangan kita rayakan, tetapi apa pun hasilnya, kontribusi untuk Jakarta harus terus diupayakan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan selalu membuka ruang bagi anak muda untuk terus berkarya dan berinovasi,” ungkap Rano.

Pada malam final tersebut, Herve Pierre Sidarta, wakil Jakarta Selatan, terpilih sebagai Abang Jakarta 2026. Sementara Citra, wakil Jakarta Timur, terpilih sebagai None Jakarta 2026.

Keduanya bersama para finalis lainnya diharapkan dapat mengambil bagian dalam memperkenalkan wajah Jakarta yang modern sekaligus kaya akan budaya, kreativitas, dan kehidupan masyarakatnya.

Baca beritanya, kenali budayanya, dan temukan inspirasi Jakarta dari generasi mudanya di Navaswara.com.