Navaswara.com — Jauh sebelum dikenal sebagai Kota Solo yang menjadi salah satu pusat kebudayaan Jawa, wilayah ini bermula dari sebuah desa bernama Sala. Desa tersebut berada di kawasan yang kini menjadi Kota Surakarta atau tepatnya di dekat aliran Bengawan Solo.
Nama Sala bahkan telah dikenal sebelum berdirinya Keraton Surakarta Hadiningrat. Salah satu versi sejarah menyebut desa tersebut berkaitan dengan sosok Ki Gede Sala yang dahulu menjadi tokoh penting di wilayah tersebut. Sementara versi lain menyebut di desa tersebut begitu banyak Pohon Sala yang tumbuh sehingga sangat identik dan menjadi julukan tersendiri.
Perjalanan Desa Sala menjadi sebuah kota tidak dapat dilepaskan dari sejarah Kerajaan Mataram Islam. Pada abad ke-18, pusat kerajaan berada di Kartasura. Namun, kawasan keraton mengalami kehancuran akibat peristiwa Geger Pecinan.
Kondisi tersebut membuat Susuhunan Pakubuwana II memutuskan untuk memindahkan pusat pemerintahan ke lokasi baru. Setelah dilakukan pencarian, Desa Sala dipilih sebagai tempat untuk membangun keraton yang baru. Letaknya yang strategis di dekat Bengawan Solo menjadi salah satu pertimbangan penting dalam pemilihan wilayah tersebut.
Pemindahan pusat kerajaan dari Kartasura menuju Desa Sala berlangsung pada 1745. Peristiwa yang dikenal sebagai boyong kedaton itu menjadi titik penting dalam sejarah kelahiran Kota Solo. Pada 17 Februari 1745, pusat kerajaan resmi berpindah dan kemudian berdirilah Keraton Surakarta Hadiningrat.
Pemerintah Kota Surakarta juga menjadikan tanggal tersebut sebagai hari jadi Kota Solo. Sejak saat itu, kawasan yang sebelumnya hanya berupa desa berkembang menjadi pusat pemerintahan kerajaan sekaligus kawasan permukiman dan perdagangan yang semakin ramai.
Diikutip dari laman resmi Universitas Sebelas Maret, menurut penjelasan Prof. Warto, sejarawan Universitas Sebelas Maret, nama awal yang tepat adalah Sala. Perubahan penyebutan menjadi Solo berkaitan dengan perbedaan pelafalan dalam bahasa Jawa dan pengucapan oleh orang-orang Belanda. Penyebutan Sala kemudian berkembang menjadi Solo dan akhirnya menjadi nama yang jauh lebih populer di tengah masyarakat.
Nama Surakarta sendiri mulai digunakan ketika Desa Sala berubah menjadi pusat pemerintahan kerajaan. Nama tersebut kemudian melekat pada Keraton Surakarta Hadiningrat dan berkembang menjadi nama resmi kota.
Sementara Solo tetap hidup sebagai nama populer yang digunakan masyarakat dalam percakapan sehari-hari. Hingga sekarang, kedua nama tersebut tetap berdampingan. Dalam berbagai urusan pemerintahan, nama Surakarta lebih sering digunakan, sedangkan Solo terasa lebih akrab dalam kehidupan sehari-hari, pariwisata, budaya, hingga berbagai identitas kota.
Perjalanan dari sebuah desa bernama Sala menjadi Kota Surakarta menunjukkan betapa eratnya perkembangan sebuah kota dengan perjalanan sejarah kerajaan. Dari wilayah sederhana di tepi Bengawan Solo, Sala tumbuh setelah menjadi lokasi baru pusat Kerajaan Mataram hingga akhirnya berkembang menjadi kota yang dikenal luas.
