Navaswara.com – Gaya hidup kaum urban yang padat membuat stres dan perubahan pola makan menjadi bagian dari keseharian. Tren diet tinggi protein yang berkembang belakangan turut membawa persoalan lain, termasuk kondisi mulut kering yang dapat meningkatkan aktivitas bakteri penyebab bau mulut.
Saat produksi air liur berkurang akibat stres, sisa makanan dari pola makan tinggi protein dapat menjadi lingkungan yang mendukung pertumbuhan bakteri di rongga mulut. Bakteri tersebut menghasilkan Volatile Sulfur Compounds atau VSCs, termasuk Hidrogen Sulfida dan Metil Merkaptan, yang berkaitan dengan halitosis.
Data Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI menunjukkan, halitosis ditemukan pada 28,6 persen masyarakat. Persoalan tersebut tidak berhenti pada urusan kebersihan mulut karena bau napas dapat memengaruhi kenyamanan ketika berbicara, bertemu orang lain, hingga menjalani aktivitas sosial.
Kebutuhan terhadap produk penanganan bau mulut turut mendorong pertumbuhan pasar oral care. Mengutip Mordor Intelligence, nilai pasar global produk penanganan halitosis mencapai USD 14,41 miliar pada 2025 dan diperkirakan naik menjadi USD 15,93 miliar pada 2026, dengan proyeksi mencapai USD 26,36 miliar pada 2031.
Persoalan lain yang berkaitan dengan kenyamanan sehari-hari adalah gigi sensitif. Studi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia dan IQVIA pada 2024 menemukan 62 persen responden mengalami frekuensi gigi sensitif yang tinggi, sementara 86 persen penderita mengaku cemas terhadap rasa sakit ketika mengonsumsi makanan.
Keluhan tersebut bahkan dapat memengaruhi kehidupan sosial. Rasa khawatir terhadap ngilu ketika menikmati makanan atau minuman membuat sebagian penderita memilih menghindari acara tertentu. Kondisi tersebut ikut mendorong perubahan cara pandang terhadap perawatan gigi, dari sekadar menjaga kebersihan menuju perawatan dengan bahan aktif yang lebih spesifik.
Tren skinification kemudian merambah perawatan gigi. Konsep tersebut mengadaptasi pendekatan skincare dengan memilih kandungan berdasarkan kebutuhan tertentu, seperti mengatasi bau mulut, menjaga enamel, atau memberikan rasa nyaman pada gusi. Pendekatan serupa kini mulai diperkenalkan dalam kategori oral care.
usmile Indonesia menjadi salah satu merek yang membawa pendekatan tersebut melalui konsep oral beauty. Country Manager usmile Indonesia dan Malaysia, Michelle, mengatakan perawatan mulut kini semakin dekat dengan ritual perawatan diri karena berkaitan dengan kenyamanan serta rasa percaya diri ketika berinteraksi.
Untuk persoalan bau mulut, usmile menghadirkan varian Fresh White yang dikenal sebagai Perfume Toothpaste. Produk tersebut menggunakan Zinc Glycinate yang diklaim membantu mengikat dan menetralisir VSCs. Formulanya juga dilengkapi Enzyme Complex berupa Papain dari ekstrak pepaya dan Lysozyme untuk membantu membersihkan noda pada permukaan gigi.
Sementara itu, varian Repair White ditujukan bagi kebutuhan gigi sensitif dengan penggunaan Hydroxyapatite. Mineral tersebut bekerja secara biomimetik dan ditujukan untuk membantu memperbaiki enamel serta menutup tubuli dentin yang terbuka, salah satu sumber rasa ngilu pada gigi sensitif.
Formulasi Repair White turut menggunakan Sodium Hyaluronate dan Allantoin, dua bahan yang dikenal luas dalam perawatan kulit. Kandungan tersebut digunakan untuk membantu menjaga kelembapan dan kenyamanan jaringan gusi, sekaligus memperkuat pendekatan skinification dalam rutinitas perawatan gigi sehari-hari.
Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa perawatan oral kini semakin dekat dengan kebutuhan gaya hidup. Bau mulut dan gigi sensitif tidak lagi dipandang sebatas persoalan kebersihan, tetapi juga kenyamanan ketika makan, berbicara, dan berinteraksi. Produk dengan kandungan spesifik pun semakin mendapat perhatian konsumen.
Kehadiran produk dengan formulasi berbeda sesuai kebutuhan turut memperlihatkan arah perkembangan industri oral care yang semakin mengadopsi pendekatan personal, dengan perhatian pada kesehatan gigi, gusi, sekaligus pengalaman penggunaan.
