Prof. Reda Manthovani: Mendongeng Jadi Pondasi Generasi yang Berani Bersuara Menuju Indonesia 2045

Navaswara.com — Menghadiri Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara 2026 Jawa Barat, Jaksa Agung Muda Intelijen (Jamintel) Prof. Reda Manthovani menilai kegiatan mendongeng memiliki peran penting dalam mendukung tumbuh kembang anak.

Meski terlihat sederhana, storytelling dianggap mampu menjadi pondasi bagi anak-anak Indonesia untuk mengembangkan kemampuan berpikir, mengolah emosi, hingga berani menyampaikan gagasan.

Ia mengatakan, dirinya mendorong penyelenggaraan kegiatan mendongeng karena aktivitas tersebut memberikan ruang bagi anak untuk mengolah berbagai pemikiran yang ada di dalam dirinya dan mengungkapkannya melalui cerita. Menurutnya, kemampuan tersebut tidak muncul begitu saja, melainkan perlu terus dilatih sejak usia dini.

“Saya mendorong kegiatan sederhana ini karena bisa menjadi pondasi bagi anak-anak Indonesia. Kenapa sederhana tapi menjadi pondasi? Nah, perlu bapak ibu ketahui bahwa kegiatan storytelling ini adalah kegiatan mengolah pikiran yang ada di dalam diri anak-anak untuk bisa dicetuskan keluar dan itu harus terus dilatih,” ujar Reda di momen grand final Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara 2026 Jawa Barat.

Ia menjelaskan, proses latihan tersebut pada akhirnya dapat membantu membentuk karakter anak Indonesia yang berani bersuara dan mengungkapkan pendapat. Kemampuan itu dinilai akan menjadi bekal penting bagi generasi muda dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

Prof. Reda berharap, anak-anak Indonesia di masa depan tidak hanya mampu menyampaikan pendapat secara utuh, tapi juga tetap memiliki akar budaya yang kuat. Menurutnya, keberanian berbicara perlu berjalan beriringan dengan pemahaman terhadap budaya sebagai salah satu ciri khas bangsa Indonesia.

Selain melatih kemampuan berkomunikasi, ia menilai mendongeng juga memberikan manfaat terhadap perkembangan emosional anak. Ia juga menyebut aktivitas tersebut dapat membantu memperkuat fungsi amigdala yang berkaitan dengan sisi emosional, termasuk kemampuan mengingat, memahami, dan menghayati sebuah cerita.

Menariknya, lewat dongeng, anak tidak harus mengalami langsung peristiwa yang diceritakan untuk dapat memahami dan merasakan emosi di dalamnya. Melalui imajinasi, mereka dapat membayangkan sebuah kejadian, kemudian mengolahnya menjadi gagasan yang dapat diungkapkan.

“Amigdala adlah salah satu yang berpengaruh pada sisi emosionalnya, bagaimana dia menghafal, memahami, menghayati suatu cerita yang dia tidak mengalami itu secara langsung tapi dia bisa membayangkan dan dapat dicetuskan. Nah, itulah yang sangat bagus untuk anak-anak untuk bisa mengungkapkan ide-idenya di kemudian hari,” tuturnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan semangat Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara 2026 Jawa Barat yang mengusung tema “Menghidupkan Legenda Jawa Barat, Menginspirasi Masa Depan”. Festival ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal kembali kekayaan cerita rakyat sekaligus mengembangkan keberanian dalam berekspresi dan menyampaikan gagasan.

Kegiatan tersebut terbuka secara gratis bagi pelajar, mahasiswa, guru, serta masyarakat umum di Jawa Barat. Festival diselenggarakan oleh PT Navaswara Buana Kencana bersama Navaswara Media Nusantara, dengan dukungan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat serta Bupati Bogor Rudy Susmanto bersama Pemerintah Kabupaten Bogor.

Melalui kegiatan mendongeng, cerita rakyat tidak hanya diwariskan sebagai bagian dari kebudayaan, tetapi juga menjadi media untuk menyiapkan generasi yang mampu berpikir, berimajinasi, berempati, dan berani menyuarakan gagasannya tanpa kehilangan jati diri sebagai anak Indonesia.