Navaswara.com — Rumah makin sering berubah menjadi kantor. Kantor pun kadang terasa seperti rumah kedua. Di tengah dua ruang itu, banyak orang tanpa sadar mencari tempat lain untuk bernapas.
Ada yang memilih duduk dua jam di kedai kopi meski kopinya sudah habis. Ada yang sengaja datang ke perpustakaan tanpa membawa pekerjaan. Ada pula yang rutin mampir ke angkringan hanya karena ingin mendengar percakapan orang lain atau sekadar menghabiskan waktu tanpa tujuan tertentu
Sosiolog Amerika Ray Oldenburg menyebutnya sebagai third place atau ruang ketiga dalam bukunya The Great Good Place, yang pertama kali terbit pada 1989. Hampir empat dekade berlalu, konsep itu justru terasa semakin dekat dengan kehidupan perkotaan saat ini. Kota terus bertambah padat, tetapi rasa kesepian juga ikut meningkat.
Ruang yang lahir dari kebutuhan bertemu
Oldenburg mendefinisikan ruang ketiga sebagai ruang publik informal yang digunakan orang untuk berkumpul secara sukarela di luar rumah sebagai ruang pertama dan tempat kerja sebagai ruang kedua. Tidak ada kewajiban datang, tidak ada target yang harus dicapai. Orang hadir karena ingin berbincang, beristirahat, atau sekadar menjadi bagian dari kehidupan di sekitarnya.
Gagasan itu lahir dari pengamatannya terhadap kedai kopi, bar, salon rambut, hingga perpustakaan yang menjadi titik temu masyarakat. Dalam sejarah, ruang seperti ini juga pernah memegang peran penting. Tavern di Amerika menjadi tempat bertukar gagasan menjelang Revolusi Amerika, kafe di Prancis ramai oleh diskusi sebelum Revolusi Prancis, sementara kedai kopi di London menjadi ruang lahirnya banyak pemikiran pada masa Pencerahan.
Menurut Oldenburg, kota membutuhkan ruang semacam itu agar warganya saling mengenal di luar lingkungan rumah maupun pekerjaan. Tanpa ruang bersama, hubungan antarmanusia akan semakin sempit dan rasa memiliki terhadap kota ikut memudar.
Mengapa kita masih membutuhkannya?
Di kota-kota besar Indonesia, fungsi ruang ketiga kini banyak diisi oleh kedai kopi. Tempat ini tidak lagi hanya dikunjungi untuk membeli secangkir kopi, tetapi juga untuk bekerja, membaca, berdiskusi, atau sekadar duduk menikmati suasana.
Fenomena work from cafe tumbuh karena kebutuhan akan ruang netral semakin besar. Tidak semua orang merasa nyaman bekerja sepanjang hari di rumah atau kantor. Kedai kopi menawarkan suasana yang berbeda, lengkap dengan akses internet, colokan listrik, dan keberadaan orang lain yang menghadirkan rasa terhubung, meski tanpa harus saling mengenal.
Berbagai penelitian juga menunjukkan pola yang serupa. Pada siang hari, kedai kopi menjadi ruang produktif. Menjelang malam, fungsinya bergeser menjadi tempat bertemu teman, berbincang, atau membangun relasi baru.
Ruang bersama berubah menjadi ruang konsumsi
Di sisi lain, ruang ketiga mulai menghadapi tantangan baru. Banyak rumah di kawasan perkotaan, terutama di sekitar kampus, berubah menjadi kafe dengan konsep yang menarik perhatian. Perubahan ini memang menghidupkan aktivitas ekonomi, tetapi juga memicu gentrifikasi dalam skala kecil yang perlahan mengubah wajah lingkungan.
Harga makanan dan minuman yang terus meningkat ikut membuat ruang ini semakin sulit dijangkau sebagian masyarakat. Banyak pula kafe yang lebih berfokus menjadi latar berfoto dibanding menghadirkan ruang yang nyaman untuk bercakap-cakap. Sedikit demi sedikit, ruang yang semula terbuka untuk berbagai kalangan bergeser menjadi tempat yang lebih mudah diakses oleh mereka yang sanggup membayar harga secangkir kopi yang terus naik.
Padahal, kekuatan ruang ketiga terletak pada kemampuannya mempertemukan orang dari latar belakang yang berbeda. Pertemuan spontan semacam ini sulit digantikan oleh interaksi di media sosial maupun aplikasi percakapan.
Sebelum kedai kopi menjamur, banyak orang menemukan ruang ketiganya di taman kota, lapangan, perpustakaan, atau balai warga. Anak-anak bermain, orang tua berbincang di bangku taman, sementara warga lain datang untuk berolahraga atau sekadar menikmati sore. Aktivitasnya boleh berbeda, tetapi fungsinya sama, yakni menjadi ruang bersama yang mempertemukan orang-orang di luar rumah dan tempat kerja.
Barangkali itulah alasan ruang ketiga masih relevan hingga sekarang. Di tengah kebiasaan berkomunikasi lewat gawai, orang tetap membutuhkan ruang untuk bertemu langsung, berbincang, dan merasakan hangatnya kebersamaan yang sulit tergantikan. Kota yang sehat bukan hanya menyediakan tempat tinggal dan tempat bekerja, tetapi juga ruang yang membuat orang merasa menjadi bagian dari komunitasnya.

