Navaswara.com – Legenda tentang asal mula nama Cianjur merupakan salah satu cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Jawa Barat. Kisah ini tidak hanya menjelaskan asal-usul nama sebuah daerah, tapi juga mengandung pesan moral tentang pentingnya kebaikan hati, kepedulian terhadap sesama, dan bahaya keserakahan.
Dikisahkan, di wilayah Jawa Barat terdapat sebuah desa yang sangat subur dengan hamparan sawah membentang luas dan menghasilkan padi yang melimpah. Di desa tersebut hiduplah seorang lelaki paruh baya yang sangat kaya raya bernama Pak Kikir.
Ia adalah tuan tanah yang menguasai hampir seluruh lahan pertanian di wilayah tersebut. Meskipun memiliki harta yang melimpah dan rumah paling megah di antara tetangganya, Pak Kikir dikenal sebagai sosok yang sangat pelit dan tamak.
Sifatnya yang buruk membuat seluruh warga desa merasa segan dan tidak menyukainya. Namun, warga tidak berdaya karena hidup mereka sangat bergantung pada sawah-sawah milik Pak Kikir sebagai buruh tani.
Ketamakan Pak Kikir semakin terlihat jelas ketika musim panen tiba. Ia selalu mengadakan pesta atas keberhasilan panennya. Namun, pesta tersebut diadakan bukan untuk berbagi kebahagiaan dengan warga, melainkan sebagai ajang untuk memamerkan kekayaannya yang berlimpah.
Di dalam pesta itu, makanan mewah disajikan dalam jumlah yang sangat banyak, tapi seluruh hidangan tersebut hanya boleh dinikmati oleh Pak Kikir dan tamu-tamu kehormatannya.
Sementara, para buruh tani dan warga desa yang kelaparan hanya bisa menonton dari kejauhan tanpa diberi kesempatan mencicipi sedikit pun. Pak Kikir selalu mengancam akan menghukum siapa saja yang berani menyentuh makanan di pestanya tanpa izin.
Pada suatu hari, ketika pesta syukuran panen sedang berlangsung, tiba-tiba muncul seorang nenek tua renta yang berpakaian compang-camping dan tampak kelaparan.
Dengan langkah yang gemetar dan suara yang lirih, nenek tua itu mendekati Pak Kikir yang sedang asyik bersulang dan menikmati hidangan lezat. Nenek tersebut memohon belas kasihan agar diberikan sedikit saja sisa makanan untuk mengganjal perutnya.
Bukannya merasa iba melihat kondisi memprihatinkan si nenek, Pak Kikir justru menjadi sangat murka. Ia merasa kehadiran nenek itu telah merusak keindahan pesta mewahnya.
Dengan penuh amarah dan kesombongan, Pak Kikir mencaci maki nenek tua tersebut di hadapan semua tamu undangan. Ia berteriak dengan kasar, bahwa makanan mewah di pestanya tidak pantas diberikan kepada seorang pengemis yang tidak berguna bagi usahanya.
Tidak hanya menghardik dengan kata-kata yang menyakitkan hati, Pak Kikir yang dikuasai oleh keserakahan bahkan tega mengusir nenek tua itu dengan cara mendorongnya hingga jatuh tersungkur ke tanah.
Warga yang menyaksikan kejadian itu sebenarnya merasa sangat sedih dan iba. Namun, mereka terlalu takut kepada Pak Kikir untuk maju memberikan pertolongan kepada si nenek.
Nenek tua itu perlahan-lahan bangkit berdiri sambil menahan rasa sakit di tubuhnya akibat perlakuan kasar sang tuan tanah. Ia memandang Pak Kikir dengan tatapan yang sangat tajam dan penuh arti.
Dengan suara yang mendadak terdengar sangat berwibawa dan menggelegar, nenek itu memperingatkan Pak Kikir bahwa keserakahan dan kesombongannya akan mendatangkan malapetaka. Pak Kikir sama sekali tidak memedulikan ancaman tersebut dan justru tertawa terbahak-bahak.
Sebelum pergi meninggalkan desa tersebut, nenek tua yang itu berjalan ke tengah halaman rumah Pak Kikir. Ternyata, ia merupakan perwujudan dari dewa yang sedang menguji kebaikan hati manusia.
Di sana, ia menancapkan sebatang tongkat kayu ke dalam tanah dengan sangat kuat. Nenek itu kemudian berbalik menghadap ke arah warga desa yang sedang berkumpul di sekitar area pesta. Ia lalu berbisik kepada mereka agar segera mengungsi ke tempat yang lebih tinggi karena bencana besar akan segera melanda desa.
Warga yang merasakan firasat buruk dan mempercayai perkataan si nenek pun langsung bergegas pulang untuk menyelamatkan keluarga mereka.
Setelah memberikan peringatan kepada warga desa, nenek tua itu kembali melangkah ke arah tongkat kayunya. Ia mencabut tongkat tersebut dengan satu sentakan yang kuat.
Begitu tongkat kayu tercabut dari permukaan tanah, keajaiban yang mengerikan langsung terjadi. Dari lubang bekas tancapan tongkat menyemburlah air yang sangat deras dan tak henti-hentinya mengalir keluar.
Dalam waktu yang sangat singkat, semburan air tersebut berubah menjadi air bah yang mulai menenggelamkan seluruh area. Warga desa yang sudah bersiap-siap langsung berlari menyelamatkan diri menuju perbukitan yang lebih aman.
Sementara itu, Pak Kikir yang melihat air mulai merendam rumahnya menjadi sangat panik. Alih-alih menyelamatkan nyawanya sendiri, sifat tamak dan kikir membuatnya memilih untuk tetap tinggal di dalam rumah demi mengumpulkan seluruh emas, perhiasan, dan tumpukan padi hasil panennya ke dalam karung-karung besar.
Ia terus berusaha menyeret karung-karung hartanya yang sangat berat itu keluar rumah. Namun air bah naik dengan sangat cepat dan turut menerjang rumah megahnya.
Karena beratnya beban harta yang enggan ia lepaskan, Pak Kikir akhirnya terjebak di dalam rumahnya sendiri dan perlahan tenggelam bersama seluruh kekayaan yang selama ini ia sombongkan.
Akhirnya, rumah megah dan sawah milik Pak Kikir tenggelam dan berubah menjadi sebuah danau yang sangat luas. Setelah bencana air bah itu surut, warga desa yang selamat kembali dari perbukitan dan memutuskan untuk membangun pemukiman baru di sekitar wilayah genangan air yang sangat jernih tersebut.
Mereka memanfaatkan sumber air yang berlimpah itu untuk mengairi lahan pertanian yang baru dengan sistem gotong royong dan kebersamaan, tanpa ada lagi ketamakan.
Tempat baru yang subur dan dialiri air yang jernih ini kemudian dinamakan Cianjur, yang berasal dari perpaduan kata bahasa Sunda yaitu “ci” yang berarti air dan “anjur” Artinya anjuran atau petunjuk dari nenek tua misterius tersebut.
