Navaswara.com – Sudah ratusan tahun cengkeh dan pala menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Maluku. Di Pulau Ternate, Maluku Utara, rempah bukan hanya sebuat komoditas, tetapi juga identitas yang diwariskan lintas generasi.
Jika Kepulauan Banda dikenal lewat pala, Ternate punya kebanggaan lain, yakni Cengkeh Afo, yang disebut sebagai pohon cengkeh tertua sekaligus salah satu varietas cengkeh terbaik di dunia.
Di kawasan Hutan Rempah Cengkeh Afo, jejak kejayaan rempah Ternate masih bisa ditemukan. Berdasarkan informasi yang terpasang di lokasi, pohon cengkeh pertama diperkirakan hidup selama 416 tahun sebelum akhirnya mati pada awal 2000-an. Sementara itu, pohon kedua yang berusia sekitar 250 tahun tumbang pada 2019.
Meski demikian, kisah Cengkeh Afo belum berakhir. Hingga kini, satu pohon generasi berikutnya yang diperkirakan berusia sekitar 200 tahun masih berdiri kokoh. Pohon tersebut menjadi simbol kejayaan rempah Ternate sekaligus daya tarik bagi wisatawan yang ingin melihat langsung jejak sejarah perdagangan rempah di Nusantara.
Dalam bahasa Ternate, kata afo berarti tua. Meski asal-usul penamaannya tidak diketahui secara pasti, masyarakat percaya Cengkeh Afo merupakan varietas cengkeh paling murni dan otentik dari tanah Ternate.
Keistimewaannya bahkan mendapat pengakuan resmi. Pada 2010, pemerintah menetapkan nama Afo sebagai varietas tanaman cengkeh unggul asal Ternate.
Kini, kawasan Cengkeh Afo berkembang menjadi destinasi ekowisata yang dikelola masyarakat melalui Komunitas Cengkeh Afo & Gamalama Spices Community (CAGS).
Namun, pengalaman datang ke sini tak hanya soal melihat pohon berusia ratusan tahun. Ada satu pengalaman yang tak boleh dilewatkan, yaitu mencicipi Rimo-Rimo.
Rimo-Rimo adalah tradisi memasak khas Ternate menggunakan bambu sebagai wadah utama, lalu dimasak di atas bara api hingga aroma rempah meresap sempurna.
Metode sederhana ini justru menghasilkan rasa yang khas. Beragam hidangan dimasak dengan cara tersebut, mulai dari ayam rempah, ikan kuah kuning berbahan kerapu, hingga sayur lilin yang dibuat dari telur tebu atau terubuk dan dipadukan dengan ikan tuna serta singkong ngo yang dihaluskan sebelum dimasukkan ke dalam bambu.
Untuk hidangan laut, ikan kakap dan kerapu menjadi pilihan yang paling sering digunakan. Rempah yang digunakan pun melimpah, seperti kunyit, jahe, bawang merah, bawang putih, daun bawang, daun pandan, daun lemon, patikala atau kecombrang, serta kenari.
Saat musim memungkinkan, warga juga menambahkan cengkeh Afo untuk memperkuat aroma. Hasilnya adalah sajian dengan rasa gurih, sedikit pedas, segar, dan harum rempah yang terasa berlapis di setiap suapan.
Menikmati Rimo-Rimo di kawasan Hutan Rempah Cengkeh Afo menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. Udara yang sejuk, suara burung yang bersahutan, dan semerbak rempah dari dapur tradisional menciptakan suasana yang melengkapi kelezatan hidangan.
