Navaswara.com – Di atas lembaran kulit lembu transparan, guratan pena dan lapisan akrilik membentuk dunia yang rumit, antara bayangan dan cahaya, antara sejarah dan tafsir baru. Dari sanalah, perupa asal Yogyakarta Eddy Susanto menyalurkan gagasannya tentang relasi kuasa dan identitas gender melalui karya bertajuk “Kuasa dalam Setara”.
Karya ini mengantarkan Eddy meraih penghargaan tertinggi 15th UOB Painting of the Year (POY) (Indonesia) di kategori Perupa Profesional. Sebuah pencapaian yang bukan hanya menandai kematangan kariernya, tetapi juga mengukuhkan posisinya sebagai salah satu perupa yang konsisten menelusuri jejak sejarah dan filsafat dalam konteks budaya Nusantara.
Terinspirasi oleh ukiran vanitas karya Willem Isaacsz van Swanenburg (1608) dan teks Jawa Serat Sastrajendra Hayuningrat, Eddy menyatukan tradisi visual Eropa dan kosmologi Jawa ke dalam satu bidang lukis. “Karya ini merefleksikan bagaimana sejarah dan keyakinan membentuk pemahaman tentang identitas kita,” ujarnya. “Saya mencoba melihat ulang bagaimana konsep kekuasaan dan kesetaraan terus berubah, dan bagaimana budaya membantu kita memahami posisi diri di dalamnya.”
Bagi Dr. Agung Hujatnika, Ketua Dewan Juri sekaligus kurator independen, Kuasa dalam Setara menunjukkan keseimbangan antara kekuatan gagasan dan ketepatan teknik. “Eddy menghadirkan pelapisan, kolase, dan detil yang matang, serta memadukan aksara Jawa dalam komposisi yang reflektif. Dialog antara tradisi visual Eropa dan Jawa terasa mengalir dan subtil, membangun perenungan filosofis yang kuat,” katanya.
Namun, di luar aspek teknis, kompetisi UOB Painting of the Year tahun ini juga memunculkan perbincangan lebih luas tentang arah seni kontemporer Indonesia. Tema “Your Art Your Way” seakan memberi ruang bagi seniman untuk menegaskan keunikan pandangannya, tanpa kehilangan kedalaman riset dan konteks lokal.
Kurator Alia Swastika menilai, tantangan seniman hari ini bukan sekadar menembus panggung global. “Tujuan utama seniman adalah membuat karya terbaik, bereksperimen, dan memperkuat subjektivitasnya. Proses riset dan pengamatan itu yang memberi bobot pada karya. Ekosistem seni, termasuk dukungan dari UOB, penting karena memberi ruang dan rekognisi agar bakat muda bisa stand out di konteks yang lebih luas,” ujarnya.
Sementara itu, Venus Lau dari Museum MACAN menyoroti bagaimana seniman Indonesia memaknai isu global melalui akar lokal. “Keragaman karya Indonesia sangat kaya. Meski berbicara tentang isu universal, mereka tetap berpijak pada konteks sendiri, entah lewat material seperti batik, struktur komposisi, atau fokus riset yang mendalam. Pendekatan ini memberi karakter yang otentik dan berharga,” tuturnya.

Selain Eddy, penghargaan Most Promising Artist of the Year jatuh kepada Muhammad Shodik, perupa muda asal Probolinggo, lewat karya “i am here”. Ia menggabungkan foto dan arsip pribadi untuk menelusuri ingatan serta relasi dengan ayahnya yang tak terdokumentasi, sebuah kisah personal yang berubah menjadi refleksi tentang kehadiran dan kehilangan.
Bagi UOB Indonesia, kompetisi ini bukan sekadar ajang penghargaan tahunan, melainkan bagian dari komitmen jangka panjang dalam mendukung perkembangan seni di Asia Tenggara. “Kami percaya seni adalah bagian penting dari pendidikan, baik bagi anak-anak maupun masyarakat luas,” ujar Maya Rizano, Direktur UOB Indonesia.
Hendra Gunawan, Presiden Direktur UOB Indonesia, menambahkan bahwa keberadaan UOB POY selama 15 tahun di Indonesia adalah bentuk dukungan terhadap keberlanjutan ekosistem seni. “Karya seperti Kuasa dalam Setara menunjukkan bagaimana seni dapat menantang cara pandang, menghubungkan tradisi, dan memperkaya pemahaman kita tentang masyarakat,” katanya.
UOB juga menghadirkan UOB Art Alumni Network, wadah bagi pemenang dan finalis untuk berjejaring dengan komunitas seni internasional di Asia Tenggara dan Asia Utara. Jaringan ini menjadi ruang dialog antarbudaya dan memperluas peluang bagi seniman Indonesia untuk berkembang di kancah global.
Pameran karya 48 finalis kompetisi 15th UOB POY (Indonesia), termasuk delapan karya pemenang, dapat dikunjungi publik di Melting Pot, ASHTA District 8 Jakarta, hingga 30 Oktober 2025. Bersama Art Jakarta, pameran ini tak hanya menghadirkan karya visual, tetapi juga pengalaman edukatif melalui tur pameran, diskusi seni, dan lokakarya menggambar untuk anak-anak.
Dan, Kuasa dalam Setara berdiri sebagai pengingat bahwa seni masih punya ruang untuk menafsirkan ulang dunia, menghubungkan masa lalu dan masa kini, antara budaya dan kesadaran baru tentang siapa kita dan bagaimana kita memaknai kesetaraan.
