Navaswara.com – Di ruang kelas yang penuh warna di SLB Negeri Trituna Subang, wajah-wajah ceria tampak terpancar saat layar interaktif menyala. Sentuhan jari di permukaan panel digital itu membuka dunia baru bagi para siswa penyandang disabilitas—dunia belajar yang lebih hidup, mudah diakses, dan menyenangkan.
Transformasi pendidikan menuju arah yang lebih modern dan inklusif kini semakin nyata. Pada tahun 2025, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Direktorat Jenderal Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus (Ditjen Diksi PKPLK) menargetkan 27.843 satuan pendidikan di seluruh Indonesia untuk menerima dukungan program digitalisasi pembelajaran.
Program ini mencakup 14.451 SMK, 2.379 SLB, 10.506 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), dan 507 Sanggar Kegiatan Belajar (SKB). Langkah besar tersebut menjadi bagian dari komitmen Kemendikdasmen dalam pemerataan akses dan peningkatan mutu pendidikan melalui pemanfaatan teknologi digital.
Salah satu sekolah yang telah menerima manfaatnya adalah SLB Negeri Trituna Subang. Kini, sekolah tersebut telah dilengkapi dengan Interactive Flat Panel (IFP) — perangkat pembelajaran modern yang membuat interaksi guru dan siswa semakin menarik dan inklusif.
Guru SLB Negeri Trituna, Edwin Waliudin, mengungkapkan bahwa IFP memberikan kemudahan besar dalam mengajar “IFP mendukung proses pembelajaran anak, menjadi lebih menarik,” tuturnya singkat namun bermakna.
Bagi para siswa, pengalaman belajar dengan teknologi ini menghadirkan semangat baru. Irfan, salah satu siswa, menyampaikan bahwa belajar kini terasa lebih jelas dan menyenangkan, terutama saat mempelajari pelajaran favoritnya, matematika.
Sementara Raka, siswa kelas X penyandang tunanetra, menemukan fitur talkback sebagai penolong utama. “Talkback itu panduan suara untuk tunanetra. Jadi belajar lebih seru dan menarik. Dengan IFP, baik tunanetra maupun penyandang disabilitas lainnya bisa ikut belajar dan punya kesempatan yang sama,” ujarnya dengan senyum bangga.
Penerapan IFP di SLB Negeri Trituna menjadi bukti nyata bahwa digitalisasi pendidikan bukan hanya tentang teknologi, melainkan tentang keadilan akses dan pemberdayaan setiap anak bangsa. Dengan dukungan perangkat pembelajaran modern, siswa penyandang disabilitas kini memiliki ruang yang sama untuk berkembang dan berkreasi.
Melalui langkah ini, Kemendikdasmen berharap seluruh satuan pendidikan di Indonesia dapat terus berinovasi dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, kolaboratif, dan berdaya saing.
Inovasi bukan lagi milik segelintir sekolah besar di kota, melainkan sudah hadir di setiap sudut negeri—termasuk di ruang-ruang kelas kecil di Subang, tempat di mana semangat belajar anak-anak istimewa kini bersinar terang di bawah cahaya layar interaktif.
