Navaswara.com – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyebut tradisi takbir Idulfitri telah ada sejak masa Rasulullah dan terus berkembang menjadi syiar umat Islam hingga kini.
Hal itu disampaikan Nasaruddin dalam Gema Takbir Akbar Nasional 1447 H di Masjid Istiqlal, Jakarta, kemarin.
Menurutnya, takbir merupakan bentuk ekspresi spiritual umat Islam dalam menyambut berakhirnya Ramadan sekaligus menandai kemenangan setelah menjalankan ibadah puasa.
“Rasulullah melepas Ramadan dengan takbir. Tradisi ini dilanjutkan para sahabat dengan mengumandangkan takbir di ruang publik,” ujar Nasaruddin.
Ia menjelaskan, sahabat seperti Abu Hurairah dan Abdullah bin Umar juga mengumandangkan takbir di pasar, sehingga diikuti masyarakat luas.
“Ini menunjukkan takbir tidak hanya di masjid, tapi juga menjadi bagian dari kehidupan sosial umat,” katanya.
Nasaruddin juga menilai Indonesia sebagai salah satu negara dengan tradisi Ramadan dan Idulfitri yang semarak.
“Tradisi membangunkan sahur, takbiran, hingga berbagai ekspresi budaya menjadi bagian dari kekayaan umat Islam di Indonesia,” paparnya.
Ia menambahkan, penggunaan bedug dalam tradisi takbiran sudah berlangsung sejak lama sebagai bagian dari syiar Islam di masyarakat.
“Bedug menjadi simbol kebersamaan dan penanda penting dalam kehidupan masyarakat,” ucapnya.
Lebih lanjut, Nasaruddin menegaskan bahwa lafaz takbir memiliki makna mendalam bagi umat Islam.
“‘Allahu Akbar’ memberi energi, kekuatan, dan semangat dalam kehidupan beragama. Takbir tidak hanya menjadi ritual, tetapi juga pengingat untuk menjaga semangat keimanan setelah Ramadan,” pungkasnya.

