Navaswara.com — Pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum tentu mencerminkan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara merata. Kualitas pertumbuhan juga perlu dilihat dari ketersediaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan, produktivitas, hingga kesempatan bagi pelaku usaha untuk berkembang.
Isu tersebut menjadi fokus Indonesian Business Council (IBC) melalui penyelenggaraan Indonesia Economic Summit (IES) 2027. Mengusung tema “From Growth to Prosperity: Social Impact Beyond Numbers,” forum ini akan mempertemukan pemerintah, pemimpin bisnis, pembuat kebijakan, masyarakat sipil, dan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas dampak ekonomi yang lebih luas.
IES 2027 dijadwalkan berlangsung pada April 2027. Peluncurannya menjadi langkah awal menuju rangkaian diskusi dan kolaborasi yang melibatkan komunitas bisnis, mitra strategis, organisasi internasional, serta masyarakat sipil.
Ukuran Pertumbuhan dari Kesejahteraan Masyarakat
Penyelenggaraan IES 2027 hadir ketika prospek ekonomi Indonesia menunjukkan perkembangan positif. Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 5,2 persen pada September, dari proyeksi sebelumnya sebesar 4,7 persen pada Juni.
Indonesia juga memiliki aspirasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi menuju 6 persen. Namun, pencapaian target tersebut perlu berjalan seiring dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat, termasuk melalui kesempatan kerja yang lebih luas dan penghasilan yang lebih baik.
Ketua Dewan Pengawas IBC Arsjad Rasjid menilai investasi dan pertumbuhan ekonomi perlu menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat. Menurutnya, dunia usaha memiliki peran penting dalam meningkatkan produktivitas, memperkuat perusahaan, serta membuka lapangan kerja dengan pendapatan yang lebih baik.
“Pertumbuhan dan investasi harus memperkuat dunia usaha, meningkatkan produktivitas, serta menciptakan pekerjaan dengan pendapatan yang lebih baik. Melalui IES 2027, kami ingin mendorong langkah bersama agar manfaat pertumbuhan dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” kata Arsjad.
Peran perusahaan dalam mendorong kesejahteraan juga mencakup ekosistem bisnis yang lebih luas. Perkembangan sebuah perusahaan dapat membuka peluang bagi pemasok, distributor, kontraktor, penyedia jasa, hingga usaha kecil yang terlibat dalam rantai pasoknya.
Perluasan Peluang Ekonomi melalui Kolaborasi
CEO IBC Sofyan A. Djalil mengatakan, indikator ekonomi seperti produk domestik bruto (PDB) tetap penting untuk membaca perkembangan perekonomian. Meski demikian, angka tersebut perlu dilengkapi dengan indikator yang menggambarkan kondisi masyarakat secara langsung.
“GDP tetap penting untuk membaca arah perekonomian, tetapi kesejahteraan tidak dapat dilihat dari satu angka saja. Kita juga perlu melihat pekerjaan yang tercipta, produktivitas, pendapatan masyarakat, kesempatan berusaha, dan kemampuan masyarakat untuk meningkatkan taraf hidupnya. Itu yang ingin kita bawa lebih kuat dalam IES 2027,” ujar Sofyan.
Pembahasan IES 2027 akan mencakup cara memperluas kesempatan ekonomi, mengurangi ketimpangan, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan taraf hidup masyarakat. Agenda ini juga menyoroti hubungan antara investasi, perkembangan bisnis, dan manfaat pembangunan bagi keluarga serta komunitas lokal.
Arsjad menegaskan, upaya meningkatkan kesejahteraan tidak berarti mengesampingkan pertumbuhan ekonomi. Indonesia tetap membutuhkan pertumbuhan yang kuat agar perusahaan dapat berinvestasi, memperbesar kapasitas usaha, dan menciptakan lebih banyak peluang.
“Pertumbuhan dan kesejahteraan bukan dua agenda yang berbeda. Yang harus kita bangun adalah hubungan yang lebih kuat di antara keduanya,” ujar Arsjad.
Melalui IES 2027, IBC berharap pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dapat menyatukan perspektif untuk mendorong pembangunan ekonomi yang inklusif. Dengan demikian, keberhasilan ekonomi dapat tercermin dalam peluang yang semakin terbuka dan peningkatan kesejahteraan yang menjangkau lebih banyak orang.

