Jakarta Biennale 2026 Angkat Tema “Kebal”, Soroti Biaya Hidup dan Fenomena Keterusiran Warga

Navaswara.com – Perhelatan seni rupa kontemporer dua tahunan, Jakarta Biennale 2026, resmi berlangsung mulai 4 Oktober hingga 28 November 2026. Mengusung tema “Kebal”, ajang yang telah digelar sejak 1974 ini menjadikan dinamika kehidupan warga kota sebagai titik berangkat pameran.

Pameran utama berlangsung di kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, pada 4 hingga 28 Oktober 2026. Rangkaian acara kemudian berlanjut di sembilan lokasi serta sejumlah ruang kolektif di Jakarta dan sekitarnya hingga 24 November 2026.

Mengangkat Isu “Keterusiran” dan Daya Tahan Warga

Tema “Kebal” tidak diarahkan semata pada kemampuan seseorang menghadapi tekanan, tetapi pada pengalaman warga ketika berhadapan dengan perubahan, keterbatasan, dan ketidakpastian dalam kehidupan kota.

Tekanan ekonomi, mulai dari kenaikan harga tempat tinggal, biaya hidup, perubahan ruang kota, hingga tuntutan pekerjaan, membuat warga terus mencari cara untuk mempertahankan kehidupan di tengah perubahan Jakarta.

Pemerintah Kota Jakarta Pusat menilai isu “keterusiran” menjadi salah satu pijakan penting dalam penyelenggaraan Biennale tahun ini. Kenaikan harga properti dan kebutuhan hidup dapat mendorong sebagian masyarakat berpindah atau semakin terpinggirkan, sementara Jakarta tetap menjadi pusat mata pencaharian.

Persoalan tersebut kemudian dibaca melalui pengalaman manusia yang mengalaminya secara langsung. Seni menjadi ruang untuk melihat kembali berbagai persoalan perkotaan dari sisi kehidupan warga.

20 Seniman Hadirkan Beragam Perspektif

Sebanyak 20 seniman dari Indonesia dan mancanegara turut berpartisipasi dalam Jakarta Biennale 2026. Karya yang dihadirkan membawa beragam gagasan dan sudut pandang mengenai kehidupan warga serta perubahan ruang perkotaan.

Penyebaran pameran ke sejumlah ruang kolektif juga membawa karya lebih dekat dengan ruang hidup masyarakat. Publik dapat menemukan berbagai karya dalam lingkungan kota yang sehari-hari mereka gunakan dan lewati.

Jakarta Biennale 2026 kemudian hadir sebagai ruang pertemuan antara seni dan persoalan kehidupan perk