Navaswara.com — Batik menyimpan perjalanan panjang yang terlihat dari motif, teknik pembuatan, hingga pengaruh budaya yang membentuknya. Di balik corak yang menjadi bagian dari identitas Indonesia, tersimpan cerita tentang aturan keraton, hubungan antardaerah, pengaruh budaya asing, hingga perjalanan kain imitasi batik Jawa ke Afrika Barat.
Hari Batik Nasional diperingati setiap 2 Oktober. Batik Indonesia sendiri masuk dalam daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO pada 2009, setelah Indonesia mengajukannya sebagai warisan budaya yang perlu dilindungi dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Sejarah batik juga berkaitan dengan aturan busana di lingkungan keraton. Di Keraton Yogyakarta, sejumlah motif pernah masuk kategori motif larangan. Arsip aturan busana tahun 1789 pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono II, misalnya, mencatat parang rusak sebagai salah satu motif yang penggunaannya diatur.
Ketentuan tersebut menunjukkan bahwa motif batik pada masa itu tidak hanya berkaitan dengan estetika. Motif tertentu juga memiliki kaitan dengan kedudukan dan tata busana di lingkungan kerajaan.
Batik Tiga Negeri dan perjalanan lintas daerah
Batik juga menyimpan cerita tentang hubungan antara daerah pesisir dan pedalaman Jawa. Salah satunya terlihat pada Batik Tiga Negeri, yang dikenal melalui proses pewarnaan di tiga sentra batik.
Warna merah dikaitkan dengan Lasem, biru dengan Pekalongan, sedangkan warna cokelat soga dengan Solo. Proses tersebut membuat satu kain memiliki keterkaitan dengan keterampilan perajin dari beberapa daerah.
Perjalanan batik juga memperlihatkan pengaruh budaya dari luar Indonesia. Pada masa pendudukan Jepang, antara 1942 dan 1945, Pekalongan berkembang dengan batik Djawa Hokokai.
Batik tersebut dikenal melalui penggunaan warna yang cerah serta motif bunga, kupu-kupu, burung, dan unsur dekoratif lain yang dibuat padat. Produksinya juga berkaitan dengan kondisi sosial dan ekonomi pada masa pendudukan Jepang.
Pada periode kolonial, perempuan Indo-Eropa ikut memainkan peran dalam perkembangan batik pesisir. Salah satu nama yang banyak dicatat adalah Eliza van Zuylen, yang dikenal melalui batik dengan motif buket bunga dan cerita rakyat Eropa.
Nama Lien Metzelaar juga tercatat dalam sejarah batik Indo-Eropa di Pekalongan. Keduanya menjadi bagian dari perkembangan batik yang memperlihatkan pertemuan tradisi lokal dengan selera dan pengaruh budaya Eropa.
Dari batik Jawa hingga Afrika Barat
Jejak batik bahkan sampai ke Afrika Barat melalui kain imitasi yang diproduksi di Eropa. Pada akhir abad ke-19, produsen Eropa membuat kain dengan teknik dan tampilan yang terinspirasi batik Indonesia untuk pasar Asia Tenggara.
Produk tersebut kemudian menemukan pasar yang kuat di Afrika Barat. Perkembangan itu menjadi bagian dari sejarah Dutch wax print yang hingga kini dikenal luas di berbagai negara Afrika.
Cerita batik juga berbeda dari satu daerah ke daerah lain. Di Tanjung Bumi, Bangkalan, Madura, misalnya, dikenal batik gentongan.
Dalam pembuatannya, kain direndam menggunakan gentong sebagai bagian dari proses pewarnaan yang dapat berlangsung sangat lama. Teknik tersebut menjadi salah satu ciri yang melekat pada batik Tanjung Bumi.
Sementara itu, Bengkulu memiliki batik Besurek yang dikenal melalui penggunaan kaligrafi huruf Arab sebagai salah satu unsur motif. Corak tersebut berkembang dalam konteks sejarah Islam dan hubungan perdagangan di wilayah Bengkulu.
Ketika batik dikaji lewat matematika
Batik juga menarik perhatian dari bidang ilmu yang tidak langsung terbayang ketika membicarakan kain tradisional, yakni matematika dan ilmu komputer.
Peneliti Hokky Situngkir dan Rolan Dahlan mengkaji sifat fraktal pada motif batik. Kajian tersebut kemudian berkembang ke penerapan komputasional untuk menghasilkan dan mengeksplorasi desain motif batik.
Berbagai cerita tersebut memperlihatkan bagaimana batik berkembang melalui pertemuan tradisi, perdagangan, teknologi, serta pengaruh budaya dari berbagai wilayah.
Karena itu, selembar batik tidak hanya menyimpan motif dan warna. Kain tersebut juga membawa jejak pengetahuan, hubungan antardaerah, perubahan selera, serta perjalanan perdagangan yang ikut membentuk sejarah batik hingga saat ini. Selamat hari batik nasional!
