Navaswara.com — Nama Ki Ageng Selo telah lama hidup dalam ingatan masyarakat Jawa sebagai sosok yang memiliki kesaktian luar biasa. Ia dikenal sebagai tokoh spiritual sekaligus petani yang sederhana.
Namanya semakin dikenal karena sebuah kisah yang membuatnya mendapat julukan sebagai “Sang Penangkap Petir”. Cerita tersebut berkembang dalam tradisi lisan masyarakat Jawa Tengah dan menjadi salah satu legenda yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Legenda tentang kesaktiannya bermula ketika Ki Ageng Selo sedang mencangkul di sawah. Saat itu langit berubah gelap, hujan turun deras, dan petir menyambar berkali-kali.
Ketika para petani lain memilih meninggalkan sawah untuk menyelamatkan diri, Ki Ageng Selo tetap berada di tempatnya. Dalam kisah yang berkembang di masyarakat, petir kemudian menyambar ke arahnya, tapi bukannya celaka, Ki Ageng Selo justru berhasil menangkapnya.
Cerita tersebut memiliki beberapa versi mengenai wujud petir setelah berhasil ditaklukkan. Dalam salah satu versi ditulis bahwa petir berubah menjadi seekor naga sebelum akhirnya berwujud seorang kakek tua. Ki Ageng Selo kemudian mengikat makhluk tersebut pada pohon Gandrik. Setelah berhasil mengalahkannya, ia membawa tawanan itu untuk dilaporkan kepada Sultan Demak.
Usai dibawa ke Kesultanan, kakek yang dipercaya sebagai jelmaan petir itu ditempatkan dalam kurungan agar dapat dilihat masyarakat. Orang-orang berdatangan untuk menyaksikan sosok yang sebelumnya berhasil ditaklukkan Ki Ageng Selo.
Namun suatu hari, datanglah seorang nenek datang membawa air dalam kendi dan menyiramkannya kepada tawanan tersebut. Seketika terdengar suara petir yang menggelegar. Setelahnya, kakek dan nenek itu pun menghilang bersama.
Hingga kini, nama Ki Ageng Selo terus dikenang bukan semata karena kemampuannya menaklukkan petir dalam legenda, tetapi juga karena kisahnya menjadi bagian dari perjalanan panjang kebudayaan Jawa dan warisan yang dituturkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
