Navaswara.com – Djakarta International Theater Platform (DITP) kembali digelar pada 2026 dengan menghadirkan rangkaian pertunjukan, presentasi karya, hingga forum diskusi yang mempertemukan seniman dari Indonesia dan sejumlah negara.
Tahun ini, DITP mengangkat tema “(Men)Citra Niskala / Unseen (the) Map”. Tema tersebut mengajak publik melihat berbagai pengalaman, ingatan, dan realitas yang tidak selalu terlihat secara kasatmata.
DITP 2026 hadir di tengah situasi dunia yang diwarnai berbagai perubahan, mulai dari gesekan geopolitik, krisis lingkungan, hingga konflik global yang semakin kompleks. Kondisi tersebut menjadi bagian dari konteks yang melatarbelakangi berbagai karya dan percakapan dalam platform seni pertunjukan ini.
Melalui tema “(Men)Citra Niskala / Unseen (the) Map”, DITP mencoba melihat kembali berbagai hal yang berada di balik sesuatu yang tampak. Niskala merujuk pada sesuatu yang tidak terlihat, sementara gagasan tentang peta digunakan untuk membaca pengalaman, ingatan, tubuh, ruang, hingga berbagai realitas yang sulit dipetakan secara fisik.
Rangkaian DITP 2026 menghadirkan seniman dan kelompok seni dari berbagai latar belakang, baik dari Indonesia maupun mancanegara.
Program yang disiapkan mencakup pertunjukan, presentasi karya, eksposisi, forum diskusi, hingga ruang percakapan yang mempertemukan seniman, praktisi, dan publik.
Sejumlah seniman dari Jepang, Kamboja, dan Indonesia turut terlibat dalam rangkaian program tahun ini. DITP juga menghadirkan tiga international co-production presentation yang mempertemukan seniman Indonesia dengan mitra dari luar negeri.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pertukaran pengalaman dan pengetahuan dalam praktik seni pertunjukan, sekaligus membuka kemungkinan lahirnya karya melalui pertemuan lintas negara.
Selain pertunjukan, DITP menghadirkan program Proposisi dan Eksposisi. Melalui kedua program tersebut, publik tidak hanya dapat menyaksikan karya, tetapi juga melihat gagasan dan proses kreatif yang berada di balik penciptaannya.
Jadi Ruang Pertemuan Para Seniman
DITP tidak hanya menjadi ruang untuk menampilkan pertunjukan. Platform ini juga menjadi tempat bertemunya seniman dengan berbagai pengalaman, latar belakang, dan cara pandang.
Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta periode 2023–2026, Yustiansyah Lesmana, mengungkapkan Djakarta International Theater Platform adalah rumah yang membawa pengalaman, ingatan, kegelisahan, dan harapan.
“Selama beberapa hari ke depan, Djakarta International Theater Platform menjadi rumah bagi pertemuan-pertemuan itu. Para seniman datang membawa pengalaman, ingatan, kegelisahan, dan harapan dari tempat yang berbeda. Setiap orang datang dengan pengalaman dan pertanyaannya masing-masing. Semoga beberapa hari ini memberi kita kesempatan untuk saling memperluas cara melihat,” ujarnya.
Gagasan mengenai pertemuan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam DITP 2026. Para seniman tidak hanya membawa karya, tetapi juga pengalaman dan pertanyaan dari lingkungan masing-masing untuk kemudian bertemu dengan perspektif lain.
Selain rangkaian pertunjukan, DITP 2026 juga menghadirkan forum inkubasi dan dua simposium internasional. Berbagai agenda tersebut menjadi ruang untuk membicarakan seni pertunjukan dari beragam perspektif.
Mengajak Publik Melihat Hal yang Tak Selalu Terlihat
Tema “(Men)Citra Niskala / Unseen (the) Map” juga menjadi cara DITP untuk mengajak publik melihat kembali berbagai hal yang selama ini mungkin berada di luar peta.
Tubuh, ingatan, pengalaman personal, lingkungan, hingga hubungan manusia dengan ruang menjadi bagian dari eksplorasi yang hadir melalui sejumlah karya dan percakapan.
Dalam konteks tersebut, peta tidak hanya dipahami sebagai gambaran geografis. Peta juga dapat menjadi cara untuk membaca pengalaman manusia, termasuk berbagai hal yang tidak mudah terlihat maupun diukur.
DITP 2026 kemudian menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai cara melihat tersebut. Melalui pertunjukan, kolaborasi, presentasi karya, serta diskusi, publik diajak untuk mengalami sekaligus membicarakan kembali berbagai persoalan yang ada di sekitar mereka.
Rangkaian program ini diharapkan dapat memperluas percakapan mengenai seni pertunjukan sekaligus membuka ruang bagi pertemuan antara seniman Indonesia dan mancanegara.
Pada akhirnya, Djakarta International Theater Platform tidak hanya menawarkan pertunjukan untuk disaksikan, tetapi juga ruang untuk bertemu, bertukar pengalaman, dan memperluas cara melihat dunia melalui seni.
