Navaswara.com – Kasus mata minus atau miopia pada anak terus meningkat di berbagai negara. Selama ini, kebiasaan membaca atau belajar dalam waktu lama kerap menjadi penyebab utama yang dituding. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan ada faktor lain yang justru memiliki pengaruh lebih besar, yaitu seberapa sering anak menghabiskan waktu di luar ruangan.
Salah satu temuan datang dari penelitian University of Sydney yang membandingkan anak-anak keturunan Tionghoa di Singapura dan Sydney. Hasilnya menunjukkan perbedaan yang mencolok. Prevalensi miopia pada anak di Singapura mencapai sekitar 29 persen, sedangkan di Sydney hanya sekitar 3 persen.
Menariknya, perbedaan ini bukan disebabkan kebiasaan membaca. Anak-anak di Sydney justru tercatat menghabiskan lebih banyak waktu untuk membaca dibandingkan anak-anak di Singapura. Pembeda utamanya adalah durasi bermain di luar ruangan. Rata-rata anak di Sydney menghabiskan sekitar 14 jam per minggu di luar rumah, sementara anak di Singapura hanya sekitar tiga jam.
Para peneliti menemukan bahwa paparan cahaya alami memiliki peran penting dalam menjaga pertumbuhan mata. Saat mata menerima cahaya matahari, retina akan melepaskan dopamin. Zat kimia ini berfungsi sebagai sinyal bahwa pertumbuhan bola mata sudah cukup, sehingga pemanjangannya dapat dihentikan.
Sebaliknya, ketika anak lebih banyak berada di dalam ruangan dan jarang terkena cahaya alami, produksi dopamin di retina menjadi lebih sedikit. Akibatnya, bola mata terus memanjang. Perubahan bentuk inilah yang membuat cahaya tidak lagi jatuh tepat di retina dan akhirnya memicu miopia.
Temuan tersebut juga menjelaskan mengapa bermain di luar ruangan kini semakin sering dianjurkan sebagai salah satu langkah sederhana untuk membantu menekan risiko mata minus pada anak. Manfaatnya bukan berasal dari aktivitas fisik semata, melainkan dari intensitas cahaya alami yang diterima mata.
Pola serupa juga ditemukan di berbagai negara lain. Penelitian pada anak-anak di India, Taiwan, China, hingga sejumlah negara Eropa memperlihatkan kecenderungan yang sama. Anak yang memiliki waktu lebih banyak di luar ruangan cenderung mengalami risiko miopia lebih rendah dibandingkan mereka yang sebagian besar beraktivitas di dalam rumah atau gedung.
Faktor genetik memang tetap berperan, tetapi bukan satu-satunya penentu. Studi terhadap 64 pasang anak kembar identik pada 2015 menunjukkan bahwa lingkungan dapat memengaruhi apakah kecenderungan tersebut benar-benar muncul. Pada pasangan kembar yang memiliki susunan gen sama, anak yang lebih sering bermain di luar ruangan memiliki risiko miopia lebih rendah dibandingkan saudara kembarnya yang lebih banyak berada di dalam ruangan.
Temuan ini memperlihatkan bahwa genetik memberikan kerentanan, sedangkan lingkungan dapat menentukan hasil akhirnya. Dengan kata lain, riwayat mata minus dalam keluarga bukan berarti kondisi tersebut tidak bisa dicegah.
Karena itu, orang tua dapat mulai membiasakan anak bermain di luar ruangan setiap hari, terutama pada pagi atau sore hari ketika paparan sinar matahari lebih nyaman. Waktu bermain di luar tidak hanya mendukung aktivitas fisik, tetapi juga memberi kesempatan bagi mata mendapatkan cahaya alami yang membantu menghambat perkembangan miopia sejak usia dini.

