Ria Wu Jaga Ritme Hidup Lewat Tari Jawa, Bisnis, dan Holistic Wellness

Navaswara.com – Dikenal sebagai pendiri Manjusha, brand aksesori yang tumbuh konsisten di tengah perubahan industri mode, Ria Wulandari Glenn atau Ria Wu memiliki kegiatan lain yang jarang dibicarakan. Setiap akhir pekan, Ria menata ulang energinya lewat Tari Jawa klasik, sebuah disiplin yang justru ia pelajari saat banyak orang merasa sudah terlambat memulai.

Ketertarikan itu muncul ketika usianya menginjak 45 tahun. Berbeda dengan penari profesional yang umumnya berlatih sejak kecil, Ria justru baru menapakkan kakinya di dunia tari pada usia yang sangat matang. “Sebenarnya saya memulai di usia yang sudah terlambat kalau buat belajar nari. Saat itu umur saya sudah 45 tahun,” kenang Ria yang kini menginjak usia 58 tahun.

Di tengah kesibukan mengelola bisnis dan berbagai kegiatan profesional, Ria Wulandari menemukan cara menenangkan diri lewat seni. “Waktu itu saya sadar, sebagian besar waktu saya dihabiskan untuk mengejar tenggat, target, dan urusan kerja yang tidak pernah habis. Saya butuh sesuatu yang lebih tenang dan bisa menyeimbangkan ritme hidup,” ujarnya. Dari kebutuhan itulah Tari Jawa masuk ke hidupnya, bukan hanya sebagai hobi singkat, tapi latihan yang dijalani serius dan panjang.

Ria memilih mendalami Tari Jawa gaya Yogyakarta dan Solo. Rutinitasnya terjaga hingga kini. Jumat digunakan untuk latihan gaya Yogyakarta, sementara Sabtu diisi dengan gaya Solo. Dalam seminggu, ia bisa berlatih dua sampai tiga kali. Pilihannya jatuh pada tarian yang menuntut ketekunan tinggi, termasuk Bedhaya, yang dikenal lambat, halus, dan membutuhkan kendali tubuh serta rasa yang kuat.

“Belajar sampai bisa Bedhaya itu prosesnya panjang, tidak bisa satu dua bulan. Saya sendiri butuh hampir sepuluh tahun. Tari Jawa bukan tipe tari yang dipelajari sebentar lalu bisa tampil,” katanya. Ketekunan itu berbuah pengalaman tampil di berbagai panggung budaya, termasuk di Moskow, Korea Selatan, hingga festival folklore internasional bersama kelompok tari.

Di usia 58 tahun, Ria tetap tampil langsing, segar dan bugar. Ia tidak mengaitkannya dengan rahasia khusus. Menari, baginya, adalah cara menjaga tubuh dan pikiran tetap selaras. Selain tari, aktivitas fisik lain seperti berenang dan jalan pagi tetap ia lakukan, meski fokus utamanya kini berada pada latihan tari.

Disiplin yang sama ia terapkan dalam mengelola Manjusha. Ria memulai bisnisnya di masa ketika media cetak masih dominan, lalu mengalami sendiri pergeseran ke media online, kolaborasi dengan stylist, hingga kerja sama dengan KOL. Perubahan itu ia akui tidak selalu mudah. “Sekarang distraksinya luar biasa. Media sosial bisa ke mana-mana. Tapi mau tidak mau harus terus belajar dan menyesuaikan diri,” ujarnya.

Menurut Ria, perempuan memiliki kemampuan yang setara dalam membangun usaha, selama berani dan konsisten. Ia menekankan bahwa bisnis jarang langsung melesat. Proses naik turun adalah bagian yang tidak terpisahkan. “Kalau sedang turun, ya dijalani saja. Itu bagian dari belajar. Yang penting jangan berhenti,” katanya.

Di luar bisnis dan tari, Ria kini juga merintis komunitas holistic wellness bersama sahabat-sahabat dekatnya. “Agar ada kesibukan sekaligus perbaikan kesehatan secara sempurna. Jadi kita sedang membangun itu pelan-pelan,” ujarnya. Inisiatif ini ia kembangkan sebagai ruang relaksasi dan perbaikan kesehatan secara menyeluruh, bukan proyek instan, melainkan kegiatan yang tumbuh seiring kebutuhan hidup yang semakin seimbang.

Hari kerja Ria diisi dengan urusan Manjusha dan berbagai aktivitas profesional. Akhir pekan ia kunci dengan latihan tari yang penuh disiplin. Di antara keduanya, ia menemukan ritme hidup yang membuatnya tetap bergerak tanpa merasa terkuras. Keseimbangan hidup dimaknai Ria lewat pilihan-pilihan yang dijalani konsisten setiap hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *