Parfum Kian Serius Digarap, Penjualan E-commerce Melonjak Sepanjang 2025

Navaswara.com – Parfum kini bergerak dari rak personal care ke radar strategi bisnis. Sepanjang 2025, kategori ini menunjukkan performa kuat di e-commerce Indonesia, menandai bagaimana produk berbasis gaya hidup mampu menjadi penggerak nilai di kanal digital ketika dibaca dengan tepat oleh brand dan pelaku industri.

Kategori parfum mencatat lonjakan penjualan signifikan di e-commerce. Data Compas.co.id menunjukkan nilai penjualan tumbuh 53 persen, dari Rp4 triliun pada tahun sebelumnya menjadi Rp6,1 triliun. Angka ini memperlihatkan perubahan cara konsumen memandang parfum, bukan lagi pembelian insidental, melainkan bagian dari kebutuhan harian yang semakin diperhitungkan.

Pertumbuhan nilai pasar tersebut sejalan dengan peningkatan jumlah unit terjual. Sepanjang 2025, penjualan parfum naik dari 84 juta menjadi 115 juta unit, atau bertambah 36 persen. Harga rata-rata produk pun ikut bergerak, dari Rp47 ribu menjadi Rp53 ribu per unit. Kombinasi ini menandakan minat konsumen yang kian kuat, sekaligus kesediaan membayar lebih untuk aroma yang dirasa cocok dan merepresentasikan diri.

Di antara seluruh segmen, parfum pria tampil paling agresif. Penjualannya tumbuh hingga 70 persen, melampaui parfum wanita dan unisex yang masing-masing mencatat pertumbuhan sekitar 51 persen. Tren ini mencerminkan meningkatnya perhatian konsumen pria terhadap aroma tubuh dan peran parfum dalam keseharian.

Braven mencatatkan pencapaian luar biasa dengan total penjualan mencapai Rp73,7 miliar hanya dari kategori parfum pria sepanjang tahun 2025. Berdasarkan data periode November 2024 hingga November 2025 dari marketplace utama seperti Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop, Braven berhasil menjadi top brand parfum pria dengan pertumbuhan penjualan sebesar 110% secara tahunan. Angka ini menempatkan Braven jauh di atas para kompetitornya dan menegaskan dominasinya di pasar parfum pria nasional.

Di bawah Braven, Jayrosse dan Elvicto bersaing ketat dengan nilai penjualan masing-masing Rp33,9 miliar dan Rp33,0 miliar, bahkan mencatatkan pertumbuhan signifikan di atas 160%. Sementara itu, Kahf membukukan penjualan Rp30,5 miliar dengan pertumbuhan relatif stabil, dan Afnan menutup lima besar dengan Rp23,5 miliar. Tren ini menunjukkan pasar parfum pria yang semakin kompetitif, dengan pertumbuhan agresif didorong oleh strategi digital dan kuatnya permintaan konsumen di platform belanja online.

“Kita sedang melihat transformasi cara belanja konsumen pria di Indonesia. Dulu parfum pria identik dengan pembelian offline, sekarang bergeser ke digital. Mereka mencari produk yang praktis, terjangkau, dan relevan dengan gaya hidup,” ujar Hanindia Narendrata, CEO Compas.co.id.

Perubahan perilaku ini juga menggeser cara parfum dipahami. Bagi banyak pria, aroma kini hadir sebagai bagian dari identitas personal, menyatu dengan penampilan dan citra diri. “Parfum kini diperlakukan sebagai medium ekspresi diri yang semakin diperhatikan oleh konsumen pria,” lanjut Narendrata.

Dari sisi brand, data Compas memperlihatkan jurang performa yang cukup jelas. Merek yang konsisten membangun positioning maskulin, menghadirkan paket bundle, dan aktif di marketplace mampu mencatat pertumbuhan sangat tinggi. Sebaliknya, brand yang belum menyesuaikan diri dengan ekosistem digital cenderung tertahan, meski sudah lama eksis di kategori ini.

“Kami melihat kecepatan membaca tren e-commerce menjadi faktor pembeda. Ke depan, komunikasi yang lebih fokus ke segmen pria, kampanye digital, serta kolaborasi dengan KOL akan semakin menentukan,” kata Narendrata.

Pergerakan ini menjadi sinyal penting bagi industri parfum. Memasuki 2026, pemanfaatan insight berbasis data dinilai krusial agar strategi produk dan pemasaran bisa selaras dengan perilaku konsumen digital yang terus berkembang.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *