Navaswara.com – Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan gusi masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Perhatian publik selama ini lebih banyak tertuju pada sakit gigi, sementara kondisi gusi dan jaringan penyangga sering luput dari perhatian, meski berperan penting dalam menjaga fungsi rongga mulut secara keseluruhan. Gangguan pada gusi kerap hadir tanpa keluhan jelas dan baru disadari ketika kerusakan sudah meluas serta memengaruhi kualitas hidup dan produktivitas harian.
Concern terhadap dampak penyakit gusi yang menjalar ke berbagai aspek kesehatan inilah yang menjadi sorotan utama dalam Indonesia Hygiene Forum 2025. Forum ini tersebut membahas temuan ilmiah terbaru mengenai hubungan penyakit gusi dengan meningkatnya risiko penyakit tidak menular serta beban ekonomi yang menyertainya.
Data global menunjukkan tantangan ini kian nyata. Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan pada 2050 sekitar 1,5 miliar orang akan mengalami penyakit gusi berat. Kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia mencatat prevalensi periodontitis yang tinggi. Situasi ini menempatkan kesehatan gusi sebagai isu kesehatan publik yang dampaknya meluas.
Gambaran rendahnya kesadaran tersebut tercermin dari pola kunjungan masyarakat ke dokter gigi. Guru Besar Ilmu Periodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Amaliya, drg., M.Sc., Ph.D., menyebut sekitar 91 persen masyarakat Indonesia belum menjadikan pemeriksaan gigi dan gusi sebagai kebiasaan rutin. “Kebanyakan datang ketika sudah sakit, bahkan sering kali di malam hari karena nyeri tidak tertahankan. Padahal pemeriksaan berkala bertujuan menjaga gigi dan gusi tetap sehat sebelum keluhan muncul,” ujarnya.

Kerap Terlambat Ditangani
Menurut Prof. Amaliya, akar persoalannya adalah pandangan bahwa sakit gigi satu-satunya penanda adanya masalah pada mulut. “Yang selama ini dirasakan masyarakat adalah sakit gigi. Ketika gigi nyeri, baru muncul kesadaran untuk berobat. Padahal gigi tidak bisa berdiri sendiri tanpa gusi dan tulang yang menopangnya,” katanya. Ia mengibaratkan gigi seperti pohon yang membutuhkan tanah sehat agar dapat bertahan. Ketika gusi dan tulang penyangga terganggu, kekuatan gigi pun perlahan menghilang hingga akhirnya goyang dan lepas.
Masalahnya, peradangan gusi pada tahap awal sering tidak menimbulkan rasa sakit. Salah satu tanda yang kerap diabaikan adalah gusi berdarah saat menyikat gigi. “Banyak orang menganggap itu hal biasa, padahal merupakan penanda awal peradangan. Jika dibiarkan, prosesnya bisa menjalar ke tulang penyangga dan masuk ke tahap periodontitis yang sifatnya tidak bisa dipulihkan,” jelas Prof. Amaliya. Pada fase ini, perawatan menjadi lebih kompleks dan membutuhkan waktu panjang.
Ia juga menekankan pentingnya penguatan pola makan sehat karena asupan berpengaruh langsung pada kesehatan gusi. Kekurangan vitamin B, vitamin C, dan zinc masih sering ditemukan, padahal zat-zat tersebut berperan sebagai antioksidan dan pelindung dari bakteri penyebab penyakit gusi. “Konsumsi gula tinggi, terutama gula rafinasi, tidak hanya berkaitan dengan gigi berlubang, tetapi juga memicu peradangan gusi dan bahkan peradangan di seluruh tubuh,” kata Amaliya. Menurutnya, upaya edukasi perlu berjalan beriringan dengan dukungan kebijakan, termasuk pemerataan tenaga periodonsia yang saat ini masih sangat terbatas dan terkonsentrasi di Pulau Jawa.

Masalah Dapat Meluas ke Penyakit Lain
Dampak penyakit gusi tidak berhenti di rongga mulut. Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endokrinologi, Metabolik, dan Diabetes Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr. Dicky Levenus Tahapary, Sp.PD-KEMD, Ph.D., menjelaskan bahwa kondisi gusi sering berkaitan erat dengan kendali gula darah. “Sering kali pasien merasa sudah menjaga kebersihan mulut, tetapi keluhan gusi tetap muncul. Setelah dicek, ternyata kadar gula darahnya tidak terkontrol,” ujarnya.
Hubungan tersebut bersifat timbal balik. Infeksi dan peradangan gusi dapat menyulitkan pengendalian diabetes, sementara kadar gula darah yang tinggi mempercepat kerusakan jaringan gusi. Menurut dr. Dicky, perubahan kondisi gusi kerap menjadi petunjuk awal adanya gangguan metabolik yang belum terdeteksi. Risiko serupa juga ditemukan pada penyakit jantung, stroke, infeksi pernapasan, hingga komplikasi kehamilan. “Gangguan di rongga mulut tidak berdiri sendiri. Ketika dibiarkan, efeknya bisa memengaruhi banyak sistem di dalam tubuh,” katanya.
Temuan tersebut sejalan dengan hasil Program Cek Kesehatan Gratis Kementerian Kesehatan RI yang menjangkau lebih dari 63 juta penduduk. Direktur Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas Kemenkes RI, dr. Elvieda Sariwati, M.Epid., menyebut masalah gigi dan mulut masih menjadi temuan utama. “Ini memberi sinyal bahwa kebiasaan menjaga kesehatan gigi dan gusi perlu diperkuat di semua kelompok usia. Upaya ini membutuhkan kolaborasi karena tantangannya tidak bisa ditangani oleh satu pihak saja,” ujarnya.
drg. Ratu Mirah Afifah, GCClinDent., MDSc., Personal Care Community Lead Unilever Indonesia, menilai rendahnya perhatian pada kesehatan gusi menunjukkan perlunya penguatan edukasi yang berkelanjutan. “Masalah gusi sering datang tanpa disadari, padahal dampaknya bisa memengaruhi kesehatan secara luas. Edukasi yang konsisten dan mudah dipahami menjadi kunci agar masyarakat terbiasa mengenali tanda awal serta melakukan perawatan sejak dini,” ujarnya.
Ia menambahkan, upaya tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak agar pesan kesehatan gigi dan gusi bisa menjangkau lebih banyak orang, termasuk melalui inisiatif yang dilakukan Unilever Indonesia bersama berbagai mitra lintas sektor.
Ke depan, penguatan literasi kesehatan, edukasi sejak usia sekolah, serta integrasi kesehatan gigi dan gusi dalam kebijakan nasional dinilai krusial. Perhatian pada gusi tidak lagi bisa dipandang sebagai urusan kecil, melainkan bagian dari upaya menjaga kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh.
