Navaswara.com – Suasana ramai terlihat sejak halaman depan Islamic Center NTB ketika ratusan mahasiswa UNU NTB tiba untuk mengikuti kuliah umum. Antusiasme peserta membuat ballroom terisi hampir penuh, dengan lebih dari 700 mahasiswa hadir di dalam ruangan.
Direktur BCA, Antonius Widodo Mulyono, membuka sesi dengan penegasan mengenai perubahan cepat di dunia kerja. Ia menyampaikan bahwa tantangan saat ini menuntut kemampuan yang tidak lagi berhenti pada pengetahuan teknis. “Keunggulan seseorang tidak hanya ditentukan oleh pengetahuan, tetapi juga oleh sikap dan keterampilan yang relevan,” ujarnya, menekankan perlunya karakter adaptif sebagai kompetensi penting bagi lulusan masa kini.
Kuliah umum bertajuk “Sharpening Your Edge: Skills and Attitude for the Next Chapter” tersebut merupakan bagian dari program BCA Berbagi Ilmu (BBI), inisiatif pendidikan besutan Bakti BCA. Sepanjang 2025, BBI telah hadir di berbagai kampus besar di Indonesia—dari UI hingga Universitas Andalas—dan menjangkau lebih dari 5.117 mahasiswa. Kunjungan ke UNU NTB menjadi yang ke-8 tahun ini, mempertegas upaya menjembatani kebutuhan industri dengan kesiapan mahasiswa.
Di sisi lain panggung, Rektor UNU NTB Dr. Baiq Mulianah, M.Pd.I, tampak memperhatikan setiap respons mahasiswa. Baginya, kuliah umum ini lebih dari sekadar sesi inspiratif. “Ini momentum penting untuk memperluas wawasan dunia kerja dan membangun sikap profesional sejak dini,” katanya. Pernyataannya terasa relevan ketika melihat kondisi pendidikan tinggi nasional—APK baru sekitar 32 persen dan pemerintah menargetkan 38 persen pada 2029. Di tengah tantangan itu, kesiapan lulusan menjadi pekerjaan rumah yang tak kecil.
Materi yang dibawakan Widodo tak hanya berkutat pada soft skill. Ia berbicara tentang kegigihan, etika kerja, cara mengelola kegagalan, hingga kemampuan membaca peluang. Banyak mahasiswa tampak mengangguk, ada pula yang sibuk mencatat. Di antara mereka, seorang mahasiswi Fakultas Ekonomi berbisik pada temannya, “Kayaknya habis ini aku harus mulai beresin portofolio.”
Program BBI bukan satu-satunya inisiatif BCA untuk mahasiswa. Melalui Genera-Z Berbakti, mahasiswa dibina untuk berkontribusi pada masyarakat lewat pendanaan dan pendampingan proyek sosial. Program itu seolah menjadi lanjutan alami dari pesan Widodo: belajar tak berhenti di kelas, tetapi tumbuh lewat kebermanfaatan.
Ketika acara usai dan mahasiswa mulai beranjak, banyak yang masih berdiskusi—tentang masa depan, rencana karier, atau sekadar kalimat yang paling membekas. Siang itu, mereka tidak hanya pulang membawa catatan, tetapi mungkin juga dorongan baru untuk menyiapkan diri menghadapi dunia yang tak pernah berhenti berubah.
