Navaswara.com — Membiasakan anak membuang sampah pada tempatnya mungkin memang terdengar sederhana. Namun, kebiasaan ini tidak cukup dibangun lewat nasihat atau teguran sesekali. Anak perlu melihat langsung bagaimana sampah dikelola, mulai dari sisa makanan di meja makan hingga kemasan plastik setelah digunakan.
Rumah menjadi tempat pertama anak belajar bertanggung jawab terhadap lingkungan. Rutinitas kecil yang dilakukan setiap hari dapat membantu mereka memahami bahwa menjaga kebersihan bukan sekadar tugas orang dewasa, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.
Sampah Rumah Tangga Masih Mendominasi
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, timbulan sampah sepanjang 2025 mencapai 25,14 juta ton dari 244 kabupaten dan kota yang melaporkan data. Sebanyak 56,7 persen di antaranya berasal dari rumah tangga.
Sisa makanan menjadi penyumbang terbesar dengan proporsi 40,76 persen, disusul sampah plastik sebesar 20,49 persen, kayu atau ranting 13,29 persen, serta kertas dan karton 11,25 persen.
Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak selalu bermula dari hal besar. Kebiasaan menyisakan makanan, menggunakan kemasan sekali pakai, atau mencampur semua jenis sampah dalam satu tempat turut menentukan bagaimana sampah rumah tangga dikelola.
Karena itu, perubahan bisa dimulai dari aktivitas yang paling dekat dengan keluarga, seperti menyiapkan makanan, membereskan meja makan, dan membuang sampah setelah beraktivitas.
Pengetahuan Saja Tidak Cukup
Memahami pentingnya menjaga lingkungan belum tentu membuat seseorang langsung mengubah kebiasaannya. Kajian Universitas Gadjah Mada mengenai perilaku peduli lingkungan menemukan bahwa 47,82 persen rumah tangga di Indonesia masih menunjukkan perilaku peduli lingkungan yang rendah. Sebanyak 62,60 persen dari kelompok tersebut tinggal di wilayah perkotaan.
Kajian itu juga menunjukkan kecenderungan bahwa perilaku peduli lingkungan membaik seiring meningkatnya pengetahuan lingkungan kepala rumah tangga atau pasangannya.
Temuan WRI Indonesia bersama Advislab mengenai sampah makanan turut menyoroti pentingnya pengetahuan tentang pemanfaatan pangan, pemahaman terhadap dampak pemborosan, serta perubahan perilaku konsumtif.
Artinya, mengajarkan anak tentang lingkungan tidak cukup dilakukan melalui penjelasan panjang. Anak juga perlu mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkannya. Ketika memilah sampah menjadi bagian dari rutinitas keluarga, mereka akan lebih mudah memahami bahwa kebiasaan tersebut bukan sekadar aturan, melainkan tanggung jawab bersama.
Cara Sederhana Melatih Anak Mengelola Sampah
Orang tua tidak perlu langsung menerapkan sistem pengelolaan sampah yang rumit. Mulailah dari kebiasaan sederhana yang sesuai dengan usia anak.
1. Sediakan tempat sampah terpisah
Siapkan dua wadah untuk sampah organik dan anorganik sebagai langkah awal. Jelaskan perbedaan keduanya menggunakan contoh yang mudah ditemukan, seperti sisa sayuran dan kulit buah untuk sampah organik, serta kemasan plastik untuk sampah anorganik.
Anak usia sekolah dasar dapat dilibatkan dalam memilah sampah setelah makan atau bermain. Pastikan sampah yang ditangani aman dan tugasnya sesuai dengan kemampuan mereka.
2. Biasakan mengambil makanan secukupnya
Kebiasaan menghabiskan makanan bisa menjadi bagian dari pendidikan lingkungan. Ajak anak mengambil nasi atau lauk sesuai porsi yang mampu mereka habiskan. Jika masih lapar, mereka bisa menambahnya kemudian.
Cara ini membantu anak memahami bahwa makanan tidak seharusnya terbuang sia-sia. Selain mengurangi sampah, mereka juga belajar menghargai makanan dan proses panjang di balik penyajiannya.
3. Beri anak tanggung jawab kecil
Libatkan anak dalam kegiatan sehari-hari, misalnya membuang sisa makanan ke wadah yang tepat atau mengumpulkan kemasan yang sudah dibersihkan oleh orang dewasa.
Agar terasa menyenangkan, orang tua bisa menjadikan kegiatan memilah sampah sebagai rutinitas bersama setelah makan malam. Tidak perlu memberikan hadiah setiap kali anak melakukannya. Apresiasi sederhana dan contoh yang konsisten sudah bisa membantu membangun kebiasaan.
4. Kenalkan pengolahan sampah organik
Jika memungkinkan, keluarga dapat mengenalkan kompos atau lubang biopori untuk mengolah sisa organik. Anak bisa melihat bagaimana sisa dapur tidak selalu berakhir sebagai sampah, tetapi dapat kembali ke tanah melalui proses penguraian.
Pengalaman langsung seperti ini membantu anak memahami hubungan antara tindakan sehari-hari dan kondisi lingkungan di sekitarnya. Pastikan pengolahan dilakukan dengan cara yang aman dan sesuai kondisi rumah.
5. Jadilah contoh bagi anak
Anak belajar banyak dari apa yang dilihatnya. Orang tua yang terbiasa memilah sampah, membawa wadah pakai ulang, dan menghindari pemborosan makanan memberikan contoh nyata yang lebih mudah ditiru.
Sebaliknya, aturan akan sulit menjadi kebiasaan jika anak hanya diminta melakukannya, sementara orang dewasa di rumah tidak menerapkan hal serupa.
Kebiasaan Kecil dengan Dampak yang Lebih Besar
Mengurangi sampah makanan juga berkaitan dengan upaya menekan emisi gas rumah kaca. Ketika sampah organik membusuk di tempat pembuangan dalam kondisi minim oksigen, proses tersebut dapat menghasilkan metana, salah satu gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap pemanasan global.
WRI memperkirakan limbah makanan menyumbang sekitar 8 persen emisi gas rumah kaca global. Karena itu, mengurangi makanan yang terbuang bukan hanya soal menjaga kebersihan dapur, tetapi juga bagian dari upaya mengurangi dampak lingkungan.
Meski demikian, tanggung jawab mengelola sampah tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada keluarga. Sampah yang sudah dipilah di rumah tetap membutuhkan layanan pengangkutan dan fasilitas pengolahan yang memadai. Kajian WRI Indonesia juga menyoroti persoalan struktural, termasuk kebijakan yang belum konsisten, minimnya insentif bagi pengelola sampah, dan terbatasnya fasilitas pengolahan.
Di tengah tantangan tersebut, keluarga tetap memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan sejak dini. Anak yang terbiasa mengambil makanan secukupnya, memilah sampah, dan menjaga kebersihan akan belajar bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak harus dimulai dari tindakan besar. Hal ini karena disiplin membuang sampah bukan kebiasaan yang terbentuk dalam sehari. Ia tumbuh dari hal-hal kecil yang terus dilakukan, dicontohkan, dan dijalani bersama di rumah.

