Navaswara.com — Tubuh yang mudah lelah kerap dianggap sebagai tanda kurang istirahat atau terlalu banyak bekerja. Namun, ketika rasa lelah terus berulang meski tidur cukup, ada baiknya memperhatikan kondisi kesehatan lain, termasuk kemungkinan perlemakan hati.
Kondisi yang dikenal sebagai fatty liver ini terjadi ketika lemak menumpuk secara berlebihan di sel hati. Istilah medis terbarunya adalah metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD), yang sebelumnya dikenal sebagai NAFLD.
Perlemakan Hati Bisa Terjadi Tanpa Gejala
MASLD berkaitan dengan gangguan metabolisme dan dapat dialami orang dengan berat badan berlebih, obesitas, diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, maupun kolesterol tinggi. Artinya, risiko perlemakan hati tidak hanya berkaitan dengan konsumsi alkohol.
Salah satu tantangannya, kondisi ini umumnya tidak menimbulkan gejala khas pada tahap awal. Sebagian orang mungkin mengalami kelelahan, rasa tidak nyaman di perut kanan atas, atau penurunan nafsu makan. Namun, keluhan tersebut tidak spesifik sehingga tidak dapat dijadikan patokan untuk memastikan adanya gangguan hati.
Perlemakan hati sering kali baru diketahui melalui pemeriksaan kesehatan. Hasil tes darah yang menunjukkan perubahan enzim hati atau pemeriksaan ultrasonografi (USG) perut dapat membantu dokter menilai kondisi tersebut lebih lanjut.
Mengapa Kondisi Ini Perlu Diperhatikan?
Pada sebagian orang, MASLD dapat berkembang menjadi peradangan hati yang disebut MASH. Jika peradangan dan kerusakan berlangsung dalam waktu lama, jaringan parut dapat terbentuk hingga menyebabkan sirosis, yaitu kerusakan hati lanjut yang dapat mengganggu fungsinya.
Pada tahap lanjut, gejala yang muncul bisa berupa kulit dan bagian putih mata menguning, perut membengkak, mudah memar, hingga gatal. Karena itu, menunggu sampai keluhan terasa berat bukan pilihan yang bijak, terutama bagi orang dengan faktor risiko metabolik.
Data Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan, prevalensi obesitas pada penduduk dewasa mencapai 23,4 persen. Sementara itu, obesitas sentral pada penduduk berusia 15 tahun ke atas tercatat sebesar 36,8 persen. Kondisi tersebut menjadi pengingat pentingnya menjaga kesehatan metabolik.
Langkah Kecil untuk Menjaga Kesehatan Hati
Kabar baiknya, perlemakan hati dapat membaik melalui perubahan gaya hidup. Bagi orang dengan berat badan berlebih, penurunan berat badan secara bertahap dapat membantu mengurangi lemak hati. Besarnya penurunan yang dibutuhkan bergantung pada kondisi masing-masing.
Pola makan seimbang dengan memperbanyak sayuran, buah, ikan, dan kacang-kacangan juga dapat membantu. Batasi minuman manis, makanan tinggi gula, serta gorengan yang dikonsumsi berlebihan. Lengkapi kebiasaan tersebut dengan aktivitas fisik setidaknya 150 menit per minggu, misalnya berjalan cepat selama 30 menit, lima hari dalam seminggu.
Jika memiliki diabetes, kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, atau berat badan berlebih, konsultasikan kebutuhan pemeriksaan kepada dokter. Tes darah dan USG dapat dipertimbangkan sesuai penilaian medis.
Tubuh tidak selalu memberi peringatan melalui rasa sakit. Memperhatikan perubahan kondisi diri dan melakukan pemeriksaan sesuai kebutuhan merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan hati dalam jangka panjang.

