Navaswara.com — Klenteng Sam Poo Kong menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang sayang untuk dilewatkan jika sedang berada di Kota Semarang, Jawa Tengah. Kompleks bangunan bernuansa merah ini tidak hanya menawarkan kemegahan arsitektur khas Tionghoa, tapi juga menyimpan kisah tentang perjalanan Laksamana Cheng Ho dan jejak pertemuan budaya Tionghoa dengan Jawa.
Klenteng yang berada di kawasan Simongan, Semarang Barat, ini memiliki sejarah yang berkaitan dengan kedatangan armada Cheng Ho ke Pulau Jawa pada abad ke-15. Berdasarkan catatan sejarah yang dirujuk Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, armada Cheng Ho tiba di kawasan Pantai Simongan pada tahun 1416.
Dalam perjalanan tersebut, Wang Jing Hong yang merupakan juru mudi Cheng Ho mengalami sakit keras. Cheng Ho kemudian memilih sebuah gua batu di kawasan Simongan sebagai tempat beristirahat sekaligus merawat Wang Jing Hong.
Setelah kondisi memungkinkan, Cheng Ho melanjutkan pelayarannya. Sementara itu, Wang Jing Hong memilih menetap di Simongan dan berinteraksi dengan masyarakat setempat.
Untuk mengenang Cheng Ho, Wang Jing Hong kemudian membuat patung sang laksamana. Tempat tersebut akhirnya justru berkembang menjadi lokasi penghormatan yang kemudian dikenal sebagai Sam Poo Kong.
Kini, kompleks Sam Poo Kong telah berkembang menjadi salah satu tujuan wisata sejarah dan budaya di Semarang. Di sana, kita bisa melihat bangunan klenteng dengan dominasi warna merah, ornamen khas Tionghoa, patung, serta area yang berkaitan dengan sejarah Cheng Ho dan Wang Jing Hong.
Daya tarik Klenteng Sam Poo Kong juga semakin terasa ketika berbagai upacara atau tradisi budaya digelar. Salah satunya Festival Arak-arakan Cheng Ho yang menghadirkan kirab budaya dan menjadi ruang pertemuan berbagai unsur kesenian Tionghoa dan Jawa.
Klenteng Sam Poo Kong tidak hanya menawarkan wisata sejarah, tapi juga dilengkapi berbagai fasilitas yang menunjang kenyamanan, seperti area parkir, toilet, mushala, restoran atau area makan, toko suvenir, akses kursi roda, hingga ruang menyusui.
Kita juga dapat memanfaatkan layanan pemandu untuk mengenal lebih jauh sejarah kompleks ini, berfoto di berbagai sudut bangunan, melihat patung Laksamana Cheng Ho, serta mencoba pakaian khas Tionghoa untuk sesi foto.
Jika ingin bertandang, waktu terbaiknya adalah pada pagi atau sore hari karena cuaca cenderung lebih nyaman dibandingkan siang hari yang terik. Bagi yang ingin berburu foto, sore sekitar pukul 16.00–17.30 WIB dapat menjadi pilihan karena cahaya matahari lebih lembut dan suasana kompleks semakin menarik.
