Navaswara.com — Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, memiliki sebuah tradisi budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun dan sayang untuk dilewatkan, yakni Mulud Adat Bayan 2026. Berlangsung di kawasan Bayan, acara ini merupakan bentuk nyata dari perpaduan antara nilai-nilai Islam, budaya, dan semangat gotong royong.
Tahun ini, rangkaian Mulud Adat Bayan dijadwalkan berlangsung pada 27 hingga 29 Agustus. Perayaan ini merupakan bentuk peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan dengan rangkaian khusus yang mengikuti tata adat masyarakat setempat.
Makna Tradisi dan Ritual Penjaga Warisan Leluhur
Mulud Adat Bayan bukan sekadar festival perayaan biasa, melainkan bentuk penghormatan terhadap nilai keagamaan dan sejarah kesenian lokal. Berbeda dengan peringatan maulid pada umumnya, perayaan adat ini memiliki tahapan khusus yang mengutamakan kesucian dan kebersamaan.
Prosesi acara diawali dengan mempersiapkan perlengkapan dan pembersihan sarana adat. Berbagai tahapan dijalankan dengan khidmat, mulai dari menutu (menumbuk padi secara tradisional), bisok meniq (mencuci beras di sumber mata air suci), hingga pembuatan nasi ancak yang dikerjakan secara gotong royong oleh warga setempat.
Tak sembarangan dilakukan, setiap gerakan dan prosesi menyimpan nilai filosofis tentang keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
A Thousand Jong hingga Atraksi Peresean
Selain prosesi ritual di kawasan masjid kuno Bayan Beleq, Mulud Adat Bayan juga menyajikan pertunjukan budaya yang menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara. Salah satu daya tarik utamanya adalah atraksi A Thousand Jong.
Pertunjukan ini menampilkan parade dan pameran miniatur perahu tradisional (jong) yang menggambarkan sejarah bahari dan keterikatan masyarakat Bayan dengan wilayah pesisir.
Perayaan ini juga diramaikan oleh kesenian tradisional peresean, yakni pertarungan antara dua petarung (pepadadu) yang menggunakan senjata rotan dan perisai kulit lembu. Peresean tidak hanya menampilkan keberanian dan ketangkasan, tapi juga mengajarkan nilai kesatria serta rasa saling menghormati antarpetarung.
Puncak Acara Praja Mulud dan Pelestarian Budaya
Puncak dari rangkaian perayaan ini ditandai dengan prosesi Praja Mulud. Praja Mulud adalah julukan untuk pasangan yang dihias seperti sepasang pengantin kerajaan dan diarak menuju Masjid Kuno Bayan Beleq. Kirab budaya ini melambangkan prosesi pengantaran doa serta rasa syukur atas nikmat kehidupan dan karunia yang telah diterima.
Wisata Budaya yang Tetap Menghormati Adat
Keunikan Mulud Adat Bayan membuat tradisi ini tidak hanya dinantikan masyarakat setempat, tapi juga menarik perhatian banyak wisatawan. Namun, pengalaman berkunjung ke kawasan adat Bayan bukan semata-mata tentang menyaksikan pertunjukan budaya.
Kita juga diajak memahami bahwa setiap prosesi memiliki nilai dan aturan yang perlu dihormati. Masyarakat umum diperbolehkan menyaksikan rangkaian ritual dengan imbauan untuk mengenakan kain atau pakaian adat ketika berada di lingkungan kegiatan.
