Christopher Lehmpfuhl dan Perjalanan Melukis Indonesia Bersama SBY

Navaswara.com – Pameran seni Art for Peace and a Better Future: Collaboration yang digagas SBY Art Community resmi dibuka di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat.

Sebanyak 21 seniman dari komunitas serta lima karya dari seniman cilik dipajang di Galeri Emiria Soenassa dan Oesman Effendi. Pameran ini mempertemukan para seniman dengan beragam latar dan gaya artistik dalam satu ruang.

Salah satu seniman yang menarik perhatian dalam pameran tersebut adalah Christopher Lehmpfuhl yang mewakili Kornfeld Galerie Berlin.

Pelukis asal Jerman ini dikenal dengan gaya finger painting. Alih-alih menggunakan kuas, Lehmpfuhl mengaplikasikan cat langsung menggunakan jari dan tangannya. Teknik tersebut menghasilkan tekstur cat yang tebal, ekspresif, dan menjadi ciri khas dalam karya-karyanya.

Namun, kehadiran Lehmpfuhl di Indonesia bukan hanya untuk memamerkan karya. Perjalanannya ke Tanah Air bermula dari perkenalannya dengan Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), pada 2024.

Kepada Navaswara, Lehmpfuhl menceritakan awal perkenalannya dengan SBY, perjalanan melukis di sejumlah wilayah Indonesia, hingga pengalaman menangkap lanskap Indonesia melalui karya-karyanya.

Berawal dari Undangan SBY

Lehmpfuhl mengatakan, perkenalannya dengan SBY bermula pada 2024. Saat itu, SBY menghubungi Kedutaan Besar Indonesia di Berlin karena tertarik untuk berkenalan dengannya.

Setelah itu, SBY menghubungi galeri Lehmpfuhl di Berlin. Pihak galeri kemudian menyampaikan bahwa Presiden ke-6 Indonesia tersebut ingin mengunjunginya.

“Saya tentu saja menjawab, ya. Ini sebuah kehormatan besar bagi saya,” kata Lehmpfuhl.

Pada Juli 2024, SBY datang langsung ke studio Lehmpfuhl di Berlin. Di sana, sang pelukis menunjukkan sejumlah karyanya. SBY bahkan membeli beberapa lukisan tersebut.

Lehmpfuhl juga memperagakan teknik melukis menggunakan jari yang menjadi ciri khasnya.

Menurut Lehmpfuhl, SBY mengaku telah melihat sejumlah videonya di YouTube. Namun, ada satu hal yang paling berkesan baginya.

“Beliau mengatakan bahwa beliau datang sebagai seorang murid,” ujar Lehmpfuhl.

Bagi Lehmpfuhl, pertemuan tersebut menjadi pengalaman yang menantang sekaligus menyentuh.

Dalam kesempatan itu pula, SBY mengundangnya untuk datang ke Indonesia bersama keluarganya dan melukis di berbagai tempat.

“Saya ingin mengundang Anda untuk melukis Indonesia. Datanglah ke Indonesia bersama keluarga Anda pada tahun 2025,” kata Lehmpfuhl, mengutip perkataan SBY kepadanya.

Undangan tersebut kemudian benar-benar terwujud.

Pada 2025, Lehmpfuhl bersama keluarganya datang ke Indonesia. SBY kemudian mengatur perjalanan keliling Indonesia untuknya.

Salah satu tempat yang dikunjunginya adalah kediaman SBY di kawasan Cikeas, Jawa Barat. Dari sana, perjalanan berlanjut ke sejumlah destinasi, mulai dari Jakarta, Monumen Nasional (Monas), Gunung Salak, Candi Prambanan, hingga Candi Borobudur di Magelang.

Lehmpfuhl mengaku mendapatkan pengalaman yang tidak biasa selama perjalanan tersebut. Ia bahkan merasa seperti seorang presiden.

“Saya bisa bepergian menggunakan bus rombongan beliau dan selalu ada pengawalan polisi selama perjalanan,” tuturnya.

Lehmpfuhl juga menginap di sejumlah hotel yang biasa digunakan SBY ketika melakukan perjalanan ke berbagai daerah.

Dalam perjalanan itu, SBY memperkenalkan sejumlah tempat yang menjadi favoritnya kepada Lehmpfuhl.

Di Jakarta, keduanya sempat berada di beberapa lokasi yang sama. Namun, SBY tidak selalu ikut melukis. Ia lebih banyak mengamati Lehmpfuhl yang tengah bekerja.

Perjalanan kemudian berlanjut ke Pacitan. Di sana, SBY memperlihatkan museumnya kepada Lehmpfuhl. Mereka kemudian melukis bersama di tepi Samudra Hindia sebelum kembali ke Jakarta untuk mengikuti seremoni penutupan.

Melukis Indonesia Secara Langsung

Perjalanan tersebut kemudian menjadi sumber inspirasi bagi Lehmpfuhl dalam menghasilkan karya.

Dengan gaya ekspresionisme yang menjadi karakter visualnya, ia menangkap berbagai lanskap Indonesia melalui cat air dan teknik melukis menggunakan jari.

Lehmpfuhl terbiasa bekerja secara langsung di ruang terbuka atau outdoor dan on the spot. Proses tersebut membuat karya-karyanya terasa spontan dan dekat dengan kondisi yang ia lihat secara langsung.

Dalam pameran Art for Peace and a Better Future: Collaboration, Lehmpfuhl membawa sejumlah lukisan cat air dan sketsa hitam-putih.

Salah satu karya yang dibawanya merupakan hasil eksplorasi terhadap bangunan yang menurutnya menjadi salah satu yang terindah yang pernah ia lihat.

“Seorang rekan memberi saya tinta Tiongkok, dan saya membuat seri yang terdiri dari sekitar 10 karya lukisan tinta dan cat air berdasarkan foto-foto yang saya ambil saat di Jerman,” ungkapnya.

Lehmpfuhl mengaku sebenarnya tidak terbiasa melukis berdasarkan foto. Namun, kondisi perjalanan membuatnya harus menggunakan pendekatan tersebut.

“Melukis langsung di lokasi candi tidak memungkinkan karena jadwal kegiatan yang sangat padat. Jadi, saya sangat senang bisa membawanya kembali dan memamerkannya di sini,” katanya.

Mengabadikan Monas dari Balai Kota

Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi Lehmpfuhl selama berada di Indonesia adalah ketika melukis lanskap Jakarta.

Ia mendapat kesempatan melihat Monas dari atas bangunan Balai Kota DKI Jakarta. Dari ketinggian tersebut, ia melihat Monas berdiri di tengah lanskap gedung-gedung tinggi ibu kota.

Pemandangan tersebut kemudian menjadi objek yang menarik perhatiannya.

“Saya mencoba menangkap bentuk kota ini. Memang cukup rumit untuk digambarkan. Maksud saya, setiap kota memiliki bentuk, warna, dan karakteristik cahayanya sendiri,” katanya.

Menurut Lehmpfuhl, Jakarta memiliki karakter visual yang berbeda dibandingkan kota-kota lain yang pernah ia kunjungi.

“Jakarta tentu saja adalah kota dengan tingkat polusi yang agak tinggi dibandingkan kota lainnya, namun tetap punya bentuk yang sangat menarik,” ujarnya.

Ia juga terkesan dengan Monas yang menurutnya memiliki bentuk yang kuat secara visual.

“Monumennya pun sangat mengesankan karena tampak seperti sebuah karya seni pahat di tengah keseluruhan pemandangan tersebut,” katanya.

Terpukau Lanskap Gunung Salak

Tidak hanya Jakarta, perjalanan Lehmpfuhl juga membawanya ke kawasan Gunung Salak.

Di sana, ia melihat langsung lanskap alam yang berbeda dari hiruk-pikuk ibu kota. Rindangnya pepohonan dan keberadaan air terjun di kaki Gunung Salak menjadi objek yang menarik perhatiannya.

Lehmpfuhl kemudian melukis curug yang berada di kawasan tersebut.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana perjalanan di Indonesia memberikan beragam sumber inspirasi bagi karyanya. Dari gedung-gedung tinggi Jakarta, monumen di tengah kota, hingga lanskap hijau dan air terjun di kawasan Gunung Salak.

Lukisan dari Pacitan hingga Jakarta

Dalam pameran tersebut, sejumlah karya yang dihasilkan selama perjalanan di Indonesia turut ditampilkan. Salah satunya merupakan lukisan dari Pacitan.

Lehmpfuhl memastikan bahwa karya dari Pacitan juga dibawa untuk pameran.

“Ya, ini dari Pacitan,” ujarnya ketika ditanya mengenai salah satu karya yang dipamerkan.

Ia menjelaskan, sebagian besar lukisan yang dibuat selama berada di Indonesia pada 2025 sengaja ditinggalkan di Indonesia ketika ia kembali ke Jerman.

“Saya meninggalkan lukisan-lukisan tersebut di sini,” katanya.

Sementara untuk pameran kali ini, ia membawa sejumlah karya cat air yang dibuatnya kemudian.

Panas Indonesia Jadi Tantangan

Melukis di berbagai wilayah Indonesia juga memberikan tantangan tersendiri bagi Lehmpfuhl. Kondisi cuaca yang berbeda di setiap lokasi membuat pengalaman melukisnya semakin beragam.

Meski begitu, ia mengaku terbiasa bekerja dalam berbagai kondisi.

“Saya bisa melukis dalam kondisi apa pun,” ujarnya.

Ia bahkan pernah melukis dalam suhu di bawah nol derajat di Jerman dan Swiss. Sebaliknya, ia juga pernah bekerja dalam kondisi yang sangat panas.

Dari sejumlah lokasi yang dikunjunginya di Indonesia, panas di Kota Wudu menjadi salah satu tantangan terbesar.

“Karena kami harus minum banyak air,” katanya.

Berbeda dengan kondisi tersebut, melukis di pantai justru terasa lebih nyaman karena adanya angin. Sementara sejumlah lokasi lain yang berada di dataran tinggi memiliki suhu yang lebih menyenangkan.

Menurut Lehmpfuhl, kondisi tersebut terasa jauh lebih nyaman dibandingkan cuaca di Jakarta.

Belum Ada Rencana Kolaborasi Berikutnya

Lantas, apakah Lehmpfuhl akan kembali melukis bersama SBY atau berkolaborasi dengan seniman Indonesia lainnya?

Untuk saat ini, ia mengaku belum memiliki rencana yang konkret.

Lehmpfuhl menyebut SBY tengah menjalani pemeriksaan medis di Amerika Serikat. Ia berharap kondisi SBY segera membaik.

“Saya bisa membayangkan untuk kembali lagi ke Indonesia. Kami akan membicarakannya, dan mungkin tahun depan kita akan melihat kemungkinan tersebut,” kata Lehmpfuhl.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada rencana pasti mengenai kolaborasi atau pameran berikutnya di Indonesia.

Bagi Lehmpfuhl, perjalanan bersama SBY pada 2025 bukan sebatas perjalanan untuk menghasilkan karya. Pengalaman tersebut menjadi kesempatan untuk melihat Indonesia dari perspektif yang berbeda, melalui lanskap, perjalanan, budaya, dan tempat-tempat yang memiliki arti khusus bagi SBY.