Navaswara.com — Leicester City kembali menjadi sorotan usai dilaporkan bahwa sang pemilik membuka peluang untuk menjual klub. Pemilik asal Thailand, King Power, disebut memasang harga lebih dari £200 juta atau sekitar Rp4,8 triliun.
Kabar ini terasa sangat kontras jika mengingat perjalanan Leicester dalam satu dekade terakhir. Klub yang pernah menjadi simbol kejutan terbesar dalam sejarah sepak bola Inggris itu kini justru berada di titik terendah setelah terdegradasi hingga League One.
Leicester merupakan klub yang berdiri sejak 1884. Namun, kisah kebangkitan modern mereka mulai terasa setelah King Power mengambil alih kepemilikan pada 2010.
Empat tahun kemudian, The Foxes berhasil kembali ke Premier League setelah memenangkan Championship. Di bawah kepemilikan keluarga Srivaddhanaprabha, Leicester kemudian berkembang menjadi salah satu kisah paling inspiratif dalam sepak bola Inggris.
Puncaknya terjadi pada musim 2015/2016. Leicester yang setahun sebelumnya nyaris terdegradasi, secara mengejutkan mampu menjadi juara Premier League.
Claudio Ranieri membawa Jamie Vardy, Riyad Mahrez, N’Golo Kante, Kasper Schmeichel dan kawan-kawan menaklukkan klub-klub dengan kekuatan finansial jauh lebih besar. Gelar tersebut menjadi yang pertama bagi Leicester di kasta tertinggi dan dianggap sebagai salah satu kejutan terbesar dalam sejarah olahraga.
Dari Juara Liga hingga Terpuruk
Klub sempat menunjukkan bahwa gelar Premier League bukan sekadar keberuntungan sesaat. Mereka kembali bersaing di papan atas dan mencapai Liga Champions. Leicester juga berhasil memenangkan FA Cup untuk pertama kalinya pada 2021.
Namun, fondasi kejayaan tersebut perlahan runtuh. Leicester terdegradasi dari Premier League pada 2023, tetapi mampu kembali ke kasta teratas setahun kemudian setelah menjadi juara Championship.
Sayangnya, kembalinya mereka hanya berlangsung singkat. Pada April 2025, Leicester dipastikan kembali terdegradasi setelah menjalani musim yang buruk.
Kondisi semakin memburuk pada musim berikutnya. Leicester akhirnya jatuh ke League One setelah finish di posisi kedua dari bawah Championship.
Mereka juga harus menerima pengurangan enam poin akibat pelanggaran aturan finansial EFL. Masalah keuangan menjadi salah satu persoalan utama yang memperburuk kemerosotan klub.
Masa Depan di Tangan Pemilik Baru
Keputusan King Power untuk menjual Leicester menjadi babak baru dalam perjalanan panjang klub. King Power telah memiliki Leicester sejak 2010, sementara pendirinya, Vichai Srivaddhanaprabha, meninggal dunia dalam kecelakaan helikopter di dekat stadion pada 2018.
Meski berada di League One, Leicester masih memiliki aset bernilai besar, termasuk King Power Stadium, fasilitas latihan Seagrave, akademi, tim wanita, serta kepemilikan klub Belgia OH Leuven.
Oleh karena itu, klub tetap dinilai memiliki daya tarik bagi investor yang melihat peluang membangun kembali kejayaan The Foxes.
Leicester kini menghadapi ironi besar. Hanya satu dekade setelah mengejutkan dunia dengan menjadi juara Premier League, mereka harus memulai perjuangan dari kasta ketiga.
Bagi Leicester, tantangannya bukan sekadar menemukan pemilik baru, melainkan mengembalikan identitas klub yang pernah membuat dunia percaya bahwa dongeng sepak bola benar-benar bisa terjadi.

