Mencari Makna Pulang di Pameran Seni “I Will Tell You When I’m Home”

Navaswara.com — Pameran seni bertajuk “I Will Tell You When I’m Home” mengajak kita merenungkan kembali makna rumah yang selama ini sering dianggap sederhana.

Alih-alih memandang rumah hanya sebagai bangunan tempat tinggal, pameran ini menghadirkan gagasan bahwa rumah merupakan ruang emosional yang dibentuk oleh kenangan, hubungan antarmanusia, serta pengalaman hidup yang terus berubah.

Digelar di Ara Contemporary, Jakarta, pameran ini mempertemukan enam seniman internasional yakni Arlette Quỳnh-Anh Trần, Khairulddin Wahab, Nazif Lopulissa, Mar Kristoff, Phuong Linh Nguyen, dan Shuyi Cao. Berbagai medium ditampilkan, mulai dari lukisan, instalasi, patung, fotografi, hingga karya media campuran.

Judul pameran ini diambil dari memoar penulis Palestina-Amerika, Hala Alyan, yang banyak mengisahkan pengalaman hidup di antara berbagai identitas budaya.

Kalimat “I Will Tell You When I’m Home” biasanya diucapkan sebagai kabar sederhana kepada orang terdekat saat seseorang telah tiba dengan selamat di rumah.

Namun, dalam konteks pameran ini, kalimat tersebut berubah menjadi refleksi yang lebih dalam tentang pencarian tempat di mana seseorang benar-benar merasa diterima dan memiliki rasa aman.

Rumah pun dipahami bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai perjalanan yang terus berlangsung sepanjang kehidupan.

Setiap seniman menghadirkan pengalaman personal yang dipengaruhi oleh latar belakang budaya dan perjalanan hidup masing-masing. Ada karya yang menggabungkan arsip keluarga dengan lanskap masa kini untuk menunjukkan bagaimana ingatan dapat bertumpuk dan saling melengkapi.

Ada pula karya yang memanfaatkan material bekas dengan sejarah panjang. Memperlihatkan bahwa benda-benda juga menyimpan memori dan mampu memperoleh makna baru ketika berpindah tempat maupun fungsi.

Beragam pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa identitas manusia tidak pernah benar-benar tetap, tapi terus berkembang mengikuti ruang, waktu, dan pengalaman yang dilalui.

Pameran ini juga mengajak kita mempertanyakan batas antara kampung halaman, tempat tinggal, dan rumah yang sesungguhnya. Seseorang bisa saja menetap di satu kota selama bertahun-tahun, tetapi tetap merindukan tempat lain yang menyimpan kenangan masa kecil.