Tapak Tumbuh di JIA Curated Bali 2026, Angkat Kisah Material dan Ruang

Navaswara.com – Pameran desain tak selalu berisi deretan karya yang sudah selesai. Lewat instalasi “Tapak Tumbuh: A Landscape by MOIRE & Friends”, Moire Rugs bersama desainer produk Eugenio Hendro dan sejumlah kreator lintas disiplin mengajak publik mengikuti perjalanan sebuah karya sejak tahap perancangan hingga tersusun sebagai satu lanskap.

Instalasi tersebut hadir di JIA Curated Bali 2026. Sebelum tampil penuh di pameran, Tapak Tumbuh terlebih dahulu diperkenalkan melalui Singgah Session, sebuah acara pembuka yang memberi kesempatan kepada pengunjung melihat perakitan karya dari dekat.

Setiap sudut instalasi memperlihatkan material yang terus berubah mengikuti sentuhan para perancang. Pengunjung dapat menyaksikan rangkaian pengerjaan secara terbuka, mulai dari penyusunan elemen hingga karya tersebut siap ditampilkan.

Eugenio Hendro mengatakan Singgah Session memberi gambaran awal mengenai Tapak Tumbuh sebelum instalasi ini hadir secara utuh di JIA Curated Bali 2026. Melalui ruang tersebut, publik diajak mengenal gagasan yang dibawa dalam karya kolaboratif ini.

“Instalasi Tapak Tumbuh hadir untuk mengingatkan kita. Ini bukan menolak kemajuan zaman, melainkan memastikan bahwa kemajuan tersebut tetap punya akar yang kuat dengan tanah, material, dan proses yang melahirkannya,” ujar Eugenio.

Menurutnya, perkembangan desain dapat berjalan berdampingan dengan kepedulian terhadap lingkungan.

“Tapak Tumbuh adalah upaya kami untuk memperlihatkan kembali relasi tersebut. Kami ingin membuktikan bahwa inovasi tak melulu harus menjauh dari alam, justru bisa tumbuh dan berkembang dari sana,” katanya.

Gagasan tersebut terasa sejalan dengan JIA Curated Bali 2026 yang mempertemukan desain, kriya, dan budaya dalam satu rangkaian pameran. Penataan ruang membawa pengunjung mengikuti perjalanan berbagai material hingga akhirnya hadir sebagai karya.

Sejumlah eksplorasi material turut ditampilkan, antara lain gabah yang diolah menjadi material decking, tanah liat yang dibentuk sebagai mozaik artistik, serta beragam vegetasi yang dikembangkan menjadi produk tekstil. Seluruh karya memperlihatkan potensi material alami ketika dipadukan dengan riset dan eksplorasi para kreator.

Lewat Tapak Tumbuh, material diperlakukan sebagai bagian dari lingkungan yang terus berkembang. Gagasan tersebut membuka ruang diskusi mengenai arah pengembangan material, ruang, serta kolaborasi yang tetap berpijak pada alam.

“Dalam konteks inilah, Tapak Tumbuh mencoba membawa wacana baru soal masa depan material, ruang, dan kolaborasi yang tetap teguh berakar pada alam,” tutup Eugenio.