Navaswara.com – Di tengah perhelatan seni kontemporer Artjog 2026 yang berlangsung di Jogja National Museum, terdapat sebuah instalasi yang menarik perhatian sekaligus menyampaikan pesan mendalam tentang krisis ekologis.
Karya bertajuk “Leuweung Salira” ciptaan seniman Intan Anggita Pratiwie hadir tidak hanya menampilkan keindahan sebuah karya seni, tapi juga alarm atas ancaman limbah tekstil yang kian memprihatinkan.
Lewat instalasi berupa hutan suci, Intan merangkai helai demi helai kain sisa produksi fesyen menjadi sebuah karya seni. Menariknya, sekitar 70 persen material kain yang digunakan merupakan limbah tekstil yang diolah kembali dan dicelup pewarna alami untuk menghasilkan nuansa warna hijau dan cokelat.
Secara filosofis, “Leuweung Salira” sendiri terinspirasi dari kearifan lokal Sunda dan ajaran kuno Patanjala, yaitu sistem perairan tradisional yang menekankan etika hidup serta kepedulian pada ekosistem.
Konsep hutan suci dalam karya ini menjadi simbol pelindungan alam sekaligus cermin bagi perilaku manusia. Nama Leuweung Salira memuat makna hutan diri, di mana upaya menjaga kelestarian bumi berawal dari kesadaran dan rekoneksi spiritual dalam diri setiap orang.
Lewat jalinan kain tersebut, Intan mengajak kita untuk merefleksikan pentingnya menjaga air, hutan, serta keseimbangan ekologi sebagai fondasi kehidupan.
Selain menyuguhkan perenungan yang filosofis, karya ini juga menjadi aksi nyata dalam mendorong ekonomi sirkular melalui daur ulang produk fesyen.
Di tengah gempuran industri fast fashion yang memicu polusi air, emisi gas rumah kaca, dan tumpukan sampah sintesis, Leuweung Salira membuktikan bahwa limbah tekstil dapat diubah menjadi karya seni yang sarat edukasi.
Lewat karya ini pula, Intan mengajak para desainer dan masyarakat untuk aktif memilah serta mengolah kembali pakaian tak terpakai agar tidak membebani alam.

