Navaswara.com — Pameran seni bertajuk “Tilas Waktu” menjadi salah satu spot yang sayang untuk dilewatkan ketika berkunjung ke ARTJOG 2026 yang mengusung tema Ars Longa: Generatio.
Melalui karya-karya seniman Alexander Sebastianus, pameran ini mengajak kita merenungkan hubungan manusia dengan waktu, ingatan, serta jejak kehidupan yang tertinggal pada berbagai benda di sekitar.
Alih-alih menampilkan patung atau instalasi sebagai objek visual, Tilas Waktu menghadirkan pengalaman yang mengajak publik memahami bagaimana kenangan dapat bertransformasi menjadi sesuatu yang memiliki bentuk, tekstur, dan makna baru.
Karya-karya yang dipamerkan dibangun dari beragam material yang memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan manusia. Berbagai benda seperti pakaian warisan keluarga, foto arsip, pecahan keramik, tanah dari kampung halaman, hingga material vulkanik dipadukan menjadi instalasi menyerupai batu-batu megalitik.
Judul Tilas Waktu sendiri memiliki makna yang mendalam. Kata tilas dalam bahasa Jawa bukan hanya bermakna bekas atau jejak, melainkan menggambarkan sesuatu yang tetap terasa kehadirannya meskipun telah tiada.
Dipadukan dengan kata waktu, judul tersebut menawarkan gagasan bahwa waktu bukan hanya konsep abstrak, tapi juga sesuatu yang dapat mengendap layaknya lapisan batuan.
Melalui pendekatan yang memadukan antropologi material, arkeologi spekulatif, fenomenologi, dan praktik ritual, Alexander Sebastianus menghadirkan karya yang berada di antara batas museum, situs arkeologi, monumen, dan ruang spiritual.
Saat menginjakkan kaki di ruang pameran, kita diajak mempertanyakan apakah objek yang dilihat merupakan peninggalan masa lampau, artefak sakral, atau justru representasi masa depan. Ambiguitas tersebut menjadi kekuatan utama pameran ini karena membuka ruang interpretasi yang luas bagi setiap orang.
Inspirasi dari situs-situs megalitik seperti Gunung Padang turut memperkuat nuansa pameran. Bagi sang seniman, batu dipandang sebagai media penyimpan kisah manusia, tempat berbagai pengalaman hidup mengendap dan diwariskan.

