Navaswara.com – Keluhan batuk, pilek, dan demam yang tak kunjung reda kerap membuat masyarakat merasa flu belakangan ini lebih lama sembuh. Sebagian gejala bahkan dapat bertahan selama beberapa minggu, meski tidak semuanya menandakan infeksi masih berlangsung.
Dokter Klinik IPB University, dr Wahyu Rachwaldy, menjelaskan bahwa gejala infeksi saluran pernapasan yang berkepanjangan dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari jenis virus yang menginfeksi hingga kondisi lingkungan dan respons imun tubuh.
Menurutnya, sejumlah virus dapat beredar secara bersamaan di masyarakat, seperti influenza A dan B, respiratory syncytial virus (RSV), rhinovirus, adenovirus, serta SARS-CoV-2. Infeksi oleh virus yang berbeda juga dapat terjadi dalam waktu berdekatan.
“Laporan dari berbagai lembaga kesehatan global dan nasional, termasuk Centers for Disease Control and Prevention (CDC) serta Kementerian Kesehatan RI, mengonfirmasi adanya peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dengan gejala yang bertahan lebih lama (protracted viral symptoms),” ujar Wahyu.
Kenali Batas Normal Gejala Flu
Wahyu menjelaskan, infeksi virus saluran pernapasan atas tanpa komplikasi umumnya mengalami perkembangan gejala secara bertahap. Pada hari-hari awal, keluhan seperti demam, nyeri tenggorokan, hidung tersumbat, pegal-pegal, dan lemas dapat terasa paling berat.
Memasuki hari keempat hingga ketujuh, demam dan keluhan lain biasanya mulai mereda. Namun, batuk dan pilek masih dapat bertahan meski kondisi tubuh berangsur membaik.
“Orang dengan sistem imun sehat umumnya mengalami penyembuhan dalam waktu tujuh hingga sepuluh hari, meskipun sisa gejala ringan seperti batuk kering masih dapat bertahan hingga dua minggu,” jelasnya.
Meski demikian, durasi pemulihan setiap orang bisa berbeda. Gejala yang tidak kunjung membaik, semakin berat, atau kembali muncul setelah sempat mereda perlu mendapat perhatian.
Wahyu mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai kondisi ketika gejala sempat membaik selama satu hingga dua hari, tetapi kemudian kembali memburuk, terutama jika disertai demam tinggi atau sesak napas. Kondisi ini dikenal sebagai double sickening dan dapat menjadi petunjuk adanya komplikasi atau infeksi lain yang perlu diperiksa.
Nyeri hebat pada wajah atau dahi, yang dapat berkaitan dengan sinusitis, serta nyeri telinga yang tajam atau penurunan pendengaran juga perlu diwaspadai.
Batuk Berkepanjangan Tak Selalu Berarti Infeksi Aktif
Gejala flu yang berlangsung lama tidak selalu menandakan virus masih aktif di dalam tubuh. Setelah infeksi mereda, peradangan pada saluran pernapasan dapat bertahan dan membuat saluran napas lebih sensitif terhadap rangsangan.
Akibatnya, udara dingin, asap, dan debu dapat memicu batuk meskipun gejala lain sudah membaik. Batuk pascainfeksi pada sebagian orang bahkan dapat berlangsung selama beberapa minggu.
Selain itu, infeksi yang terjadi berulang kali, infeksi sekunder, serta kondisi seperti alergi atau asma yang sebelumnya belum terdiagnosis dapat turut memperpanjang keluhan.
Pada kasus tertentu, infeksi saluran pernapasan juga dapat diikuti komplikasi, seperti sinusitis bakterialis atau pneumonia. Karena itu, gejala yang menetap atau semakin berat sebaiknya tidak hanya dianggap sebagai flu biasa.
Polusi Udara dan Cuaca Bisa Memperberat Gejala
Selain faktor infeksi, kondisi lingkungan juga dapat memengaruhi kenyamanan saluran pernapasan selama masa pemulihan.
Paparan polusi udara, termasuk partikel halus PM2.5 dan gas pencemar seperti nitrogen dioksida (NO₂) serta sulfur dioksida (SO₂), dapat mengiritasi saluran pernapasan. Paparan tersebut berpotensi memperburuk peradangan dan memicu batuk pada orang yang sedang mengalami gangguan pernapasan.
Udara dingin dan kering juga dapat memicu iritasi pada sebagian orang. Jika saluran pernapasan masih sensitif setelah infeksi, paparan tersebut dapat membuat batuk atau hidung tersumbat terasa lebih mengganggu.
Masyarakat disarankan berkonsultasi dengan tenaga medis apabila gejala tidak kunjung membaik, berlangsung lebih lama dari perkiraan, atau kembali memburuk setelah sempat mereda.
Pertolongan medis segera diperlukan jika muncul sesak napas, napas terasa berat, nyeri dada yang hebat, penurunan kesadaran, atau kebingungan. Demam tinggi yang menetap, kondisi tubuh yang semakin lemah, dan tanda dehidrasi juga perlu mendapat perhatian.
Warna dahak yang hijau atau kuning saja tidak selalu menandakan infeksi bakteri. Namun, dahak bercampur darah, terutama jika disertai sesak napas atau nyeri dada, perlu segera diperiksa.
Dengan mengenali pola gejala dan tanda bahayanya, masyarakat dapat membedakan keluhan yang masih mungkin menjadi bagian dari proses pemulihan dengan kondisi yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

