Navaswara.com – Ketika pertama kali bertugas sebagai calon jaksa di Kabupaten Sukabumi pada 1994, Prof. Reda Manthovani memilih tinggal di tengah masyarakat desa. Sawah menjadi pemandangan sehari-hari, sementara interaksi dengan perangkat desa dan warga membuatnya mengenal persoalan yang mungkin tidak terlihat dari balik meja kerja.
Salah satu pengalaman yang masih diingat Prof. Reda berkaitan dengan warga yang telah puluhan tahun mengelola tanah, tetapi belum memiliki sertifikat. Persoalannya berkaitan dengan komunikasi dan akses, sehingga warga kesulitan mendapatkan hak atas tanah yang selama ini mereka kelola.
“Waktu itu saya menemukan masyarakat yang sudah puluhan tahun mengelola tanah, tetapi belum memiliki sertifikat. Persoalannya lebih pada komunikasi dan akses. Saya kemudian mencoba menjembatani dengan pihak terkait sampai akhirnya mereka bisa mendapatkan hak atas tanah yang selama ini mereka kelola,” ujar Prof. Reda.
Pengalaman tersebut turut membentuk cara Prof. Reda melihat kehidupan desa. Program pemerintah menurutnya perlu bertemu dengan masyarakat yang menjadi penerima manfaat, sementara persoalan di lapangan membutuhkan pihak yang bersedia mendekat dan membantu mencari jalan keluarnya.
Ketika Warga Ikut Mengawasi Dana Desa
Cara pandang tersebut kemudian terlihat dalam gagasan Jaga Desa. Prof. Reda melihat pengawasan dana desa tidak cukup jika hanya mengandalkan pemerintah. Masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di desa juga memiliki peran karena mereka paling dekat dengan proses pembangunan.
“Dana desa itu tidak cukup hanya diawasi pemerintah. Masyarakat juga harus ikut terlibat karena mereka yang paling dekat dan tahu bagaimana pembangunan berlangsung di desanya,” kata Prof. Reda.
Konsep tersebut menempatkan masyarakat sebagai bagian dari pengawasan. Sistem keuangan desa dapat dihubungkan dengan aplikasi Jaga Desa, sementara Badan Permusyawaratan Desa atau BPD ikut melihat kondisi pembangunan secara langsung.
Menghubungkan Potensi Pedesaan
Perhatian Prof. Reda kemudian bergerak ke persoalan ekonomi. Ia menceritakan sebuah percontohan yang menghubungkan pertanian bawang merah dengan peternakan ayam petelur, budidaya ikan, koperasi, hingga dapur penyedia makanan.
Masing-masing sektor memiliki hasil yang dapat dimanfaatkan sektor lain. Produk pertanian, peternakan, maupun perikanan dapat berputar dalam ekosistem ekonomi desa dan memberi nilai tambah bagi masyarakat.
Cara berpikir yang sama digunakan ketika Prof. Reda membicarakan dukungan bagi anak-anak berkebutuhan khusus melalui program makan bergizi berbasis CSR lewat Yayasan Inklusi Pelita Bangsa.
“Peran yayasan ini adalah menghubungkan berbagai pihak. Sekolah, penyedia makanan, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, sampai perusahaan yang punya program CSR kami pertemukan. Saya menyebutnya connecting the dots,” ujar Prof. Reda.
Peran tersebut membuat yayasan tidak mengambil alih pekerjaan setiap pihak, melainkan mempertemukan kebutuhan dengan sumber daya yang sudah tersedia.
Kesempatan yang Sama untuk Atlet Disabilitas
Perhatian Prof. Reda juga sampai pada atlet disabilitas. Menurutnya, kesempatan untuk berkembang dan berprestasi dalam olahraga perlu terbuka secara setara.
Pemetaan data digunakan untuk melihat dukungan pemerintah daerah terhadap atlet disabilitas dan membandingkannya dengan pembinaan atlet non-disabilitas. Dari sana, kebutuhan dukungan dapat terlihat lebih jelas.
Prof. Reda juga memandang Linmas dengan cara yang lebih luas. Anggota Linmas berada dekat dengan warga dan mengetahui berbagai persoalan yang berkembang di lingkungannya. Peran tersebut menurutnya dapat diperkuat melalui Asosiasi Perlindungan Masyarakat atau Aslimas.
Salah satu bidang yang dapat disentuh adalah persoalan sampah. Linmas dapat ikut membantu membangun kebiasaan masyarakat agar lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan.
Perubahan Tidak Cukup dengan Imbauan
Prof. Reda melihat perubahan perilaku membutuhkan praktik. Masyarakat yang sudah terbiasa membuang sampah sembarangan tidak serta-merta mengubah kebiasaannya hanya karena mendengar kampanye.
Ia menggunakan contoh belajar naik sepeda untuk menggambarkan proses tersebut. Ketika baru mencoba, seseorang perlu berkonsentrasi mengayuh, menjaga keseimbangan, dan mengarahkan tubuh. Setelah latihan berulang, gerakan tersebut menjadi kebiasaan.
Pembentukan karakter pun berjalan dengan prinsip serupa. Nilai yang baik perlu dipraktikkan dan dilatih sampai menjadi bagian dari perilaku sehari-hari.
Cara pandang itu juga menjelaskan perhatian Prof. Reda terhadap lingkungan. Dalam sejumlah kunjungan ke daerah, ia melakukan kegiatan seperti menanam pohon dan melepas satwa.
Kebermanfaatan menurut Prof. Reda tidak berhenti pada hubungan antarmanusia. Lingkungan dan makhluk hidup lainnya juga memiliki tempat dalam kehidupan yang perlu dijaga.
Inspirasi dari Rumah
Di tengah berbagai aktivitas tersebut, sosok yang paling menginspirasi Prof. Reda justru datang dari lingkaran terdekat. Ia menyebut istrinya sebagai orang yang memberikan dukungan penting dalam perjalanan hidupnya.
“Saya melihat istri saya itu seperti penjaga gawang dalam keluarga. Ketika urusan rumah dan anak-anak berjalan baik, saya bisa lebih berkonsentrasi menjalankan pekerjaan dan kegiatan yang ingin saya lakukan untuk masyarakat,” ujar Prof. Reda.
Cerita tentang keluarga memberi gambaran lain mengenai perjalanan Prof. Reda. Perhatiannya terhadap desa, anak-anak, penyandang disabilitas, Linmas, hingga lingkungan tumbuh dari kebiasaan melihat persoalan di sekitar dan mencari pihak yang dapat diajak bergerak.
Nilai kebermanfaatan kemudian menjadi benang merah dari berbagai aktivitas tersebut. Prof. Reda percaya seseorang tidak harus menunggu memiliki posisi tertentu untuk membantu orang lain. Kemauan untuk melihat persoalan lebih dekat, mencoba mencari jalan keluar, dan memperbaiki langkah ketika menemui kekeliruan menjadi bagian penting dari proses tersebut.
Ketika ditanya tentang hal yang ingin ditinggalkan dari perjalanan hidupnya, Prof. Reda memilih satu hal yang sederhana: menjadi orang yang bermanfaat. Prinsip itu pula yang membuat berbagai persoalan di sekitarnya tidak cukup baginya untuk hanya dilihat, tetapi mendorongnya mencari cara agar bisa ikut membantu.
